| Lingkungan Riau 2008 |
| Minggu, 30 Desember 2007 | |
|
Hukum Harus Menjadi Panglima Kondisi lingkungan Riau di tahun 2007 mendapat aplaus dari berbagai kalangan. Tahun itu dinobatkan sebagai tahun terbaik di lima tahun terakhir ini. Meskipun dengan sejumlah catatan bahwa persoalan lingkungan lebih baik karena alam sedang bersahabat dan penegakan hukum lingkungan lebih berjalan. Namun prestasi itu hanya mampu mengurangi laju kerusakan lingkungan, tanpa mampu memperbaiki kondisi lingkungan yang ada.
Lalu bagaimana analisis lingkungan Riau di tahun 2008? Mampukah Riau membuat perbaikan yang lebih nyata bagi Lingkungan? Lewat prediksi Susanto Kurniawan, Johny S Mundung (Lembaga Swadaya Masyarakat-LSM), T. Ariful Amri, Adnan Kasry (akademisi), Makruf Siregar, Nuzirwan Taqim dan Sahimin (birokrat), Riau Pos meneropong keadaan lingkungan Riau tahun 2008. Dimulai dari persoalan hutan. Angin segar berupa komitmen Presiden RI, Menteri Kehutanan dan Kapolri untuk memberantas kegiatan illegal logging diperkirakan tetap akan berperan besar dalam menjaga keberadaan hutan Riau yang tersisa. Sayangnya, kegiatan itu bisa seperti bom waktu. Begitu penegakan hukum melemah, penyakit pembalakan hutan akan kembali ramai. Apalagi setakat ini, belum ada evaluasi atau pencabutan atas izin-izin pemanfaatan hutan alam yang telah dikeluarkan. Terlebih sampai 2009 nanti, industri perkayuaan masih menggantungkan kebutuhan bahan baku mereka dari hutan alam. Keberadaan hutan gambut juga masih menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, menurut data Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) di kawasan gambut yang rata-rata termasuk gambut dalam itu terdapat izin Hutan Tanam Industri (HTI) seluas 819 hektare. Meskipun saat ini telah ada komitmen dari Menteri Kehutanan untuk tidak memperbolehkan kawasan itu dikonversi, namun selagi tidak ada pencabutan izin kawasan gambut dalam itu berpeluang untuk tetap dikonversi. Kondisi hutan Riau juga bisa lebih buruk ketika deman sawit terus menular. Memicu adrenalin semua orang yang punya aliran dana abadi. Apalagi sejak didengungkan Riau akan menjadi menjadi produsen sawit terbesar. Dengan kondisi itu diperkirakan akan membuat masyarakat berburu lahan. Dan lahan yang paling potensial dirambah adalah kawasan-kawasan hutan alam nan jauh di sana yang selalu minim pengawasan. Kebakaran hutan dan lahan masih sulit diprediksi. Mengingatkan iklim yang tidak menentu. Apabila musim kering basah masih berlaku di tahun 2008, maka diperkirakan tidak akan ada kebakaran hebat. Ditambah lagi saat ini, himbauan tentang pelarangan pembakaran hutan dan lahan terus dilakukan. Pembentukan masyarakat anti api di desa-desa yang rawan kebakaran hutan lahan juga memperkuat Riau dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Tidak berbeda dengan itu, persoalan banjir di Riau juga tidak dapat diprediksi apakah akan semakin berkurang atau makin meluas. Namun kalau soal bebas banjir, dipastikan Riau belum bebas di tahun 2008. “Ini benar-benar tergantung pada kondisi alam. Bagaimana curah hujan tahun 2008 dan pasang air laut. Antisipasi banjir yang dilakukan perannya tidak terlalu berarti. Mengingat perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) belum mendekati perbaikan maksimal,” ungkap Makruf, Kabid Pencemaran dan Pengendalian Dampak Lingkungan Bapedal Riau kepada Riau Pos. Tentang konflik satwa terutama gajah diperkirakan masih akan terus berlanjut. Pasalnya selama ini, belum ada penyelesaian persoalan ke akar masalahnya, yaitu lahan bagi gajah untuk melakukan siklus hidup menjelajah dan tempat mencari makanan. Setakat ini, konflik gajah hanya diselesaikan dengan cara pengusiran. Artinya sewaktu-waktu gajah bisa kembali lagi. Keadaan empat sungai besar di Riau, diperkirakan akan sedikit membaik pada Sungai Siak. Namun tiga sungai besar lainnya, yaitu Rokan, Indragiri dan Kampar akan cenderung sama seperti tahun sebelumnya bahkan lebih buruk. Sungai Rokan karena daerah Daerah Aliran Sungai (DAS)-nya yang rusak akibat perkembangan lahan perkebunan yang tidak terkendali. Sungai Indragiri dan Kampar, lebih disebabkan kegiatan pertambangan liar di sekitar sungai. Sungai Indragiri terkenal dengan penambangan emas tanpa izin (PETI), dan Sungai Kampar karena Galian C-nya. Tentang prestasi Riau di bidang lingkungan, diperkirakan masih memiliki peluang besar. Terutama Kota Pekanbaru yang diperkirakan akan kembali meraih Adipura. Kota-kota bersih di kabupaten kota lainnya juga diperkirakan akan bersaing ketat. Malah diprediksi Kota Bangkinang dan Bagan Siapi-api yang dulu belum masuk dalam jajaran kota bersih, bisa menyalip Kota Teluk Kuantan. Namun untuk Penghargaan Kalpataru, diperkirakan akan sulit meraih kembali di tahun 2007. Mengingat saingan dari provinsi lain memiliki prestasi lingkungan yang lebih baik. Tingkat kesadaran masyarakat Riau terhadap lingkungan di tahun 2008, diperkirakan juga menunjukkan arah yang lebih baik. Terlebih sejak Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim. Diikuti dengan berbagai bencana lingkungan yang menuntut perhatian semua pihak. Namun, kata kunci dari keberhasilan lingkungan di Riau, sangat tergantung dengan jalannya penegakan hukum lingkungan dan komitmen pemerintah daerah. Di mana hukum tetap harus menjadi panglima. Tanpa dua hal ini, diperkirakan tak banyak kabar baik yang akan didengar di tahun 2008.(ila) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





