| Jiwa yang Terkendali |
| Sabtu, 30 Agustus 2008 | |
|
SEMUA kita sangat yakin, bahwa hidup ini pasti akan berakhir. Tidak ada suatu pun yang abadi di dunia yang fana ini selain Allah. Semua mahluk yang hidup pasti akan menemui ajalnya. Tidak ada satu pun yang mampu bertahan hidup atau pun menghindar. Itulah sunnatullah. Hukum yang telah ditetapkan Allah. Siapapun dia dari mana pun dia berasal, apapun warna kulit, bentuk wajah, bahasa yang dipakai serta sifat dan tingkah lakunya, pastilah suatu saat akan menemui ajalnya. Apapun agama yang dia anut, apakah dia mengaku bertuhankan Allah ataupun tidak, tak ada yang luput dari sakratul maut.
Kematian pada hakekatnya adalah sebuah proses kembalinya roh ke hadirat Allah. Tatkala tubuh manusia tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, maka roh yang pernah bermukim di jasad itu dicabut kembali oleh Allah melalui malaikat-Nya yang bernama Izrael, maka menjadilah tubuh manusia itu sebagai benda mati yang tak bernyawa. Semua unsur yang membangun jasad akan kembali ke asal semula jadi. Unsur tanah kembali ke tanah, dari air kembali ke air dan dari udara kembali ke udara. Maka sirnalah seorang anak manusia dari permukaan bumi yang fana ini. Namun rohnya tetap hidup di sisi Tuhan sambil menunggu hari berbangkit atau hari pembalasan. Setiap hari kita melihat dan mendengar ada orang yang meninggal dunia. Bahkan tidak jarang kita ikut mengantar sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Setiap hari kita juga melihat dan mendengar ada anak yang baru lahir. Demikianlah Allah mempergilirkan hidup dan kehidupan manusia di permukaan bumi ini. Ada yang datang ada yang pergi, ada yang hidup ada yang mati. Semua kita sedang menunggu giliran masing-masing. Kita terlahir kepermukaan bumi sendiri tanpa sehelai benang pun, kita mati juga bersendirian hanya dengan dibalut oleh tiga lapis kain putih yang tak berjahit. Berapa pun banyak harta yang dikumpulkan, berapa pun jumlah isteri yang dikawini atau anak yang terlahir, pasti akan ditinggalkan. Apalagi gelar, pangkat atau pun jabatan semuanya tidak akan pernah di bawa pulang. Semua akan tinggal. Tubuh yang kita jaga dan pelihara setiap hari pasti akan hancur lebur di perkuburan. Itulah ketentuan Allah yang tidak dapat dipungkiri. Walaupun Fir’aun jasadnya masih utuh sampai saat ini karena dibalsem dan juga dibekali dengan berbagai macam perhiasan, namun semua itu sama sekali tidak punya arti baginya. Roh Fir’aun tidak memerlukan benda yang bersifat fisik. Roh yang ghaib hanya bisa membawa yang ghaib pula yaitu amal saleh dan dosa. Siapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah dan senantiasa beramal saleh sepanjang hayatnya sesuai menurut petunjuk dan ketentuan Allah, maka selamatlah hidupnya di hari akherat kelak. Siapa yang tidak beriman dan tidak beramal saleh, maka dosalah yang akan di bawanya. Dosa inilah yang akan menyebabkan dia terjerumus ke jurang api neraka yang maha dahsyat panasnya. Kematian adalah sebuah kepastian.. Tidak ada seorang pun yang memungkirinya. Hanya saja cara manusia dalam menghadapi kematian inilah yang berbeda-beda. Ada yang serius ada yang acuh tak acuh. Bagi mereka yang acuh tak acuh, kematian dianggap sebagai persoalan biasa yang tak perlu dirisaukan.. Sekarang, selagi masih hidup di dunia selagi itulah dimanfaatkan hanya untuk urusan dunia. Kematian dan hari akherat merupakan persoalan belakangan. Hal yang terpenting, segala kenikmatan dunia dimanfaatkan dahulu secara maksimal. Orang-orang yang berprinsip pragmatis seperti ini sering lalai akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah sehingga semua hukum-hukum Allah tak dilaksanakan, ketentuan Allah dilanggar. Perintah Allah tak dikerjakan justru larangan Allah yang dilaksanakan. Orang-orang yang berfikiran seperti ini benar-benar termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang rugi. Suatu saat mereka pasti akan menyesal setelah kematian benar-benar datang. Namun penyesalan sama sekali tak berguna. Nasi sudah jadi bubur. Arang habis besi pun binasa. Hidup menjadi sia-sia. Sedangkan bagi mereka yang mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah akan sangat berhati-hati dalam menjalankan hidup dan kehidupan ini. Mereka hidup penuh dengan perhitungan. Dia paham betul bahwa kematian merupakan sebuah terminal sementara menuju pada kehidupan yang lebih kekal di hari akherat kelak. Walaupun gamang namun tidaklah terlalu mencemaskan karena dia sangat yakin bahwa Allah akan menolong dan melindunginya. Setiap hari dia menyembah Allah, setiap hari dia memuji kemaha-besaran Allah. Dia senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan Allah. Setiap ada kesempatan dia meminta petunjuk dan hidayah dari Allah agar dapat diselamatkan dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapat nikmat Allah seperti para rasul, para nabi, para syuhada, para ahli fikir, ahli zikir serta orang-orang yang mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah. Setiap ada kesempatan dia senantiasa berdoa agar terhindar dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang tidak benar, tidak berfaedah seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang yang dimurkai Allah dan orang-orang yang sesat. ”Hanya Engkau yang kami sembah ya Allah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan dan perlidnungan”.. Hal yang terpenting baginya hanyalah berupaya bagaimana cara untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian sehingga tatkala dia menemui kematian itu dia benar-benar berharap dapat dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan Allah dalam surat Al Fajr ayat 27 s/d 30 yang artinya ”Wahai jiwa yang tenang (nafsu yang terkendali). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr, 27-30). Amin. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Keyakinan akan adanya hari akherat sangatlah penting. Tanpa keyakinan tidak akan ada dorongan yang kuat untuk melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan. Karena itulah, Allah senantiasa mengingatkan akan kematian agar kita dapat mempersiapkan diri secara baik dan benar. Membaca dan memahami ayat-ayat suci Al Qur’an merupakan sebuah kebutuhan. Melalui Al Qur’anlah, Allah memberi informasi lengkap tentang kehidupan hari akherat. Banyak muka berseri tatkala bertemu dengan Tuhannya, dan banyak pula muka yang suram, muram lagi diliputi oleh kegelapan. Puasa Ramadan yang insya Allah akan kita laksanakan besok, jika dilaksanakan dengan iman dan penuh dengan perhitungan insya Allah akan dapat mensucikan jiwa kita sehingga dijauhkan dari siifat-sifat yang tak terpuji yang membawa kepada kemungkaran seperti loba, tamak, serakah, dengki, iri hati, ujub, riya, sombong, angkuh, congkak, takabur, zalim baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain . Puasa juga dapat menjadikan seseorang menjadi lebih jujur, tulus, ichlas, rendah hati, murah hati, sabar serta bertanggung jawab. Andaikan kita benar-benar dapat melaksanakana ibadah puasa sesuai dengan tuntunan Allah dan petunjuk Rasul, insya Allah akan mengantarkan kita benar-benar menjadi orang yang bertakwa. Orang-orang yang tak beriman tidak akan terpanggil untuk mengerjakan puasa Ramadan. Sedangkan mereka yang beriman pasti akan menyambut bulan Ramadan penuh dengann kegembiraan, dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan perhitungan. Segala hal yang merusak dan membatalkan puasa akan ditingkalkan, segala hal yang dianjurkan pasti dilaksanakan. Mereka akan berupaya mengisi malam-malam Ramadan dengan amal sholeh dengan mendatangi mesjid dan mushola untuk mengerjakan sholat berjemaah, di samping sholat wajib juga sholat sunat seperti tarawih dan witir. Selain itu mereka juga tekun mendengar santapan rohani Ramadan, membaca dan memahami Al Qur’an baik secara bersama-sama maupun bersendirian.*** Di tengah malam mereka bangun untuk bersahur di samping juga memperbanyak zikir dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan keselamatan hidup sejak dari dunia hingga sampai ke hari akherat kelak. Dia juga akan memperbanyak infak dan sedekah. Apabila sampai hisabnya mereka juga tidak akan segan-segan untuk membayar zakat dan fitrah guna mensucikan harta yang didapat secara halal. Dia selalu berupaya menjaga dan memperbaiki hubungan dengan Allah, sesama manusia, serta senantiasa menjaga diri dari berbuat kesalahan. Itulah jiwa yang terkendali. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung ini. Insya Allah, Amin. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



