| Marhaban ya Ramadan |
| Sabtu, 30 Agustus 2008 | |
|
SETIAP kita memiliki sesuatu yang penting dalam hidup. Momen Ramadan adalah sesuatu yang penting bagi seorang muslim karena tersimpan banyak manfaat di dalamnya. Sehingga ia diperlakukan sebagai tamu agung dalam kehidupan muslim. Ia disambut dengan ucapan Marhaban Ya Ramadan (selamat datang ya Ramadan). Berbeda dengan bulan lainnya. Mengapa?
Menurut ahli psikologi Sigmun Freud seperti yang ditulis pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat, kebutuhan setiap kita berkembang sejalan dengan perkembangan kepribadian kita. Jika pribadi kita tidak berkembang maka kebutuhan kita juga tidak berkembang. Artinya kita mengalami hambatan perkembangan kepribadian yang disebut dengan istilah fiksasi. Misalnya ada orang yang terhambat perkembangan kepribadiannya pada fase oral saja. Walaupun sudah dewasa dia hanya memperoleh kenikmatan pada makan dan minum. Perbedaannya dengan masa kanak-kanak dia mengubah makan dan minum dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk pemilikan kekayaan. Menjadi kaya adalah tujuan utamanya. Ia akan memperoleh kenikmatan dengan melihat banyaknya kekayaan yang dimiliki. Orang kota banyak seperti itu. Mereka memperoleh kenikmatan dalam membaca laporan depositonya di bank. Freud juga memandang bahwa kekayaan yang ditumpuk itu sebetulnya adalah kotoran. Manusia yang senang menumpuk kekayaan-menurut Freud-pribadinya terhambat pada pase anal (senang melihat kotoran) ketika di masa kanak-kanak dulu. Jadi tubuhnya dewasa pribadinya kanak-kanak. Adalagi yang berhenti perkembangannya di fase genital (suka pada alat kelamin) juga di masa kanak-kanak. Ketika dewasa ia menjadi doyan seks. Maka lembaga-lembaga modern dibuat untuk memenuhi kebutuhan itu yakni makan, minum dan seks. Omset industri dari tiga kebutuhan ini memutar roda bisnis dunia saat ini dengan menghasilkan uang yang berlipat ganda. Pada sisi lain, manusia yang tidak mengalami fiksasi perkembangan pribadinya berlanjut ke tahap yang lebih abstrak misalnya kebutuhan intelektual, kebutuhan akan ilmu pengetahuan dan informasi. Kesimpulannya makin dewasa seseorang semakin abstrak kebutuhannya. Kebutuhan yang paling tinggi ketika orang berupaya memenuhi kebutuhan ruhaniyahnya. Pada bulan Ramadan kita belajar menjadi dewasa. Kita berupaya meninggalkan tingkat oral, anal dan genital yang membelenggu kita 11 bulan sebelumnya ke tingkat kebutuhan ruhaniyah yang lebih tinggi. Pada tingkat oral kita lawan dengan menahan haus dan lapar. Tingkat anal kita lawan dengan rajin berbagi dengan orang yang memerlukan (sedekah) dan di tingkat genital kita berupaya mengendalikan nafsu seks kita. Kanak-kanak tidak dituntut oleh perintah puasa karena memang yang tahu oleh mereka hanya pada tataran fisik. Sedangkan kewajiban puasa adalah untuk orang dewasa yang telah cukup umur. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan orang dewasa harusnya tak lagi berhenti di tataran fisik tapi sudah mengarah ke non fisik. Menurut Rasulullah, berpuasa itu bukan hanya menahan diri dari lapar dan dahaga tapi menjaga diri dari apa-apa yang diharamkan Allah. Puasa mengantarkan kita pada kedewasaan karena ciri orang dewasa adalah mampu mengendalikan nafsunya bukan sebaliknya. Betapa banyaknya sifat kanak-kanak yang terperangkap di tubuh orang dewasa di zaman modern ini. Marhaban ya Ramadan, sambutlah kerinduan kami menjadi orang dewasa dalam artian sebenarnya.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



