| Daun Zaitun |
| Sabtu, 30 Agustus 2008 | |
|
ZAITUN ialah nama semacam pohon atau perdu yang buahnya dibuat minyak, banyak terdapat di negeri-negeri sekitar Laut Tengah. Nama pohon ini banyak sekali disebut dalam Kitab Suci agama Sawawi. Orang Romawi menamakannya Olea europaea. Pohon ini terhitung sebagai tanam-tanaman perkebunan yang paling tua di dunia.
Daun pohon zaitun oleh kalangan seniman dipakai sebagai lambang perdamaian, seperti juga burung merpati. Dan daun zaitun itu pula yang dipakai oleh Mahmud Darwis (karena perbedaan ejaan dan bahasa jua ditulis Mahmûd Darwîsh atau Mahmud Dervish) sebagai judul kumpulan sajaknya yang terkenal Awrâq al-zaytûn yang untuk pertama kali diterbitkan pada tahun 1964. Ia begitu terkenal dengan keharuman daun-daun zaitun yang ditebarkannya setidak-tidaknya di Palestina, di negeri-negeri Arab, dan di kalangan para pemakai bahasa Arab di seluruh dunia. Patut diingat bahwa bahasa Arab ialah salah-satu dari bahasa Perserikatan Bangsa-Bangsa selain bahasa Inggeris, bahasa Perancis, bahasa Spanyol, bahasa Rusia dan bahasa Cina. Daun Zaitun itu telah membumbungkan nama Mahmud Darwish demikian tinggi di angkasa dan cakrawala kesusastraan sampai ia dijuluki ‘’Penyair dan Pejuang Pembebasan Palestina’’. Padahal Daun Zaitun bukanlah karya sulungnya tapi karyanya yang kedua. Pada tahun 1960 Mahmud telah berhasil menerbitkan kumpulan sajak yang berjudul ‘Asâfîr bilâ ajniha yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia mungkin menjadi ‘’Burung Tanpa Sayap’’. Karya ini masih sangat dekat atau lengket dengan tradisi penciptaan dan penulisan puisi Arab tradisional. Seandainya Mahmud Darwis tidak mencari diri dan memberontak dari tradisi pusaka mungkin sekali ia tidak akan dikenang orang seperti sekarang ini. Mahmud dilahirkan di Birwa, Palestina, di sebuah kampung dekat Acre pada 13 Maret 1941. Pada tahun 1948 keluarganya, sebagaimana juga dilakukan banyak orang-orang Birwa pergi meninggalkan kampung halaman ke Lebanon menyelamatkan diri dari gempuran tentara Israel. Setelah setahun tinggal di Lebanon keluarga Darwis kembali ke kampungnya yang sudah menjadi wilayah Israel. Dengan latar belakang seperti inilah ia memerah getah dan getih kehidupan dan dituangkannya dalam serangkaian puisi yang satu di antaranya memakai judul Awrâq al-zaytûn atau ‘’Daun Zaitun’’. Kehidupan yang centang perénang menyebabkan Mahmud Darwis hanya dapat menyelesaikan sekolah menengah di Galilee. Ia pindah ke Haifa dan bekerja sebagai wartawan. Tahun 1971 ia pergi meninggalkan negerinya yang terjajah oleh Israel dan hidup seperti orang tak berumah, berpindah dari satu kota di sebuah negeri ke kota di negeri lainnya, mula-mula di Kairo, lalu Beirut, London, Paris dan Tunis. Pengembaraan di kota-kota dunia itu telah mengganti kesempatan bersekolah yang tak terpenuhi dengan sempurna. Reputasinya yang cemerlang menyebabkan ia mendapat amanah menjadi pemimpin redaksi berkala sastra dan budaya Palestina Al-Karmel, dan ia juga berhasil meraih Lotus Prize dari Persatuan Pengarang Afro-Asia. Catatan terakhir menyatakan keseluruhan karya Mahmud Darwis terdiri dari 50 karya prosa dan puisi yang sudah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Beberapa ensiklopedia sastra yang saya miliki selalu disertai dengan catatan kematian sang sastrawan yang dibuat dengan pensil. Begitu pula pada nama Mahmud Darwis yang disertai catatan: meninggal Agustus 2008. Semasa dioperasi jantung di Houston, Amerika Serikat, Mahmud Darwis meninggal-dunia. Ihwal ini sehubungan dengan seorang penyair lain yaitu Amarzan Loebis yang memenangi Anugerah Sagang Tahun 2005 dengan Karya Jurnalistik Budaya ‘’Riau Negeri Sahibul Kitab’’. Sebagai wartawan Tempo ia ketika datang ke rumah saya dengan Syaukani Al-Karim untuk suatu wawancara memperkenalkan Virgin Coconut Oil karena kami sama-sama penderita sakit jantung. Saya mendapat kabar Amarzan akan berangkat ke Houston untuk operasi jantung, yang ternyata tak jadi. Tak jadi bisa mengandung makna ganda, dapat berarti baik dan dapat pula berarti buruk. Setelah itu terpendam misteri. Bacaan saya atas sajak-sajak Mahmud Darwis dan Amanrzan Loebis meskipun tidak menjumpai ‘’tak jadi’’ yang menggembirakan dan ‘’tak jadi’’ yang menimbulkan dendam, tapi dapat menemukan jejak dan tapak misteri di sana-sini. Seorang pakar sastra Arab membagi tiga fase kepuisian Mahmud Darwis. Fase pertama ialah masa sebelum Mahmud berangkat ke Israel pada tahun 1971. Fase kedua ialah dari tahun 1971 sampai tahun 1982. Fase ketiga ialah dari tahun 1982 sampai ke akhir kehidupannya. Sedang tema yang berulang-ulang muncul dalam karya Mahmud Darwis ialah keadaan pedih karena kehilangan negeri yang dicintai: Palestina. Pada setiap kata dan setiap gerak pena senantiasa muncul Palestina, lengkap dengan sejarahnya yang berdarah dan panjang penuh kebanggaan bagi siapa saja yang membaca dan menghayati karya-karyanya. Setelah dengan teguh dan tak kenal jemu menyatakan dengan Palestina, Mahmud Darwis ditandai dari kesukaannya menyanding cinta dan politik (shiashah). Mahmud sibuk mengasah taring seperti singa padang pasir menantikan kesempatan untuk menentang lawan: itulah inti yang terkandung dalam puisi-puisi politiknya yang sarat dengan pertempuran idea, akal dan mesiu. Semua itu dirangkai dalam benda cantik yang diberi nama puisi. Bagi Mahmud tuntutan kaum Zion ke atas Palestina sangatlah tak masuk akal. Absurditas di sini bersosok sangatlah harfiyah. Dengan puisi, bagian dari sastra yang teramat anggun Mahmud Darwis melukiskan hubungan sejarah yang benar-benar sebati dan tak terpisahkan antara manusia Palestina dengan tanah dan air milik dan warisan nenek moyang mereka. Untuk mencapai pembaca yang luas sang penyair pun siap berkorban dengan cara memakai puisi-puisi yang berbentuk sangat sederhana dan masih punya bau tradisional sedikit. Hal ini semua juga sudah dibicarakan Mahmud Darwis di dalam karyanya yang berjudul ‘’An al-syi’r’’ atau ‘’Tentang Puisi’’ yang terbit tahun 1964 dan diterjemahkan ke bahasa Inggeris sebagai ‘’On Poetry’’ tahun 1980. Di antara karya Mahmud Darwis yang luas dikenal diakibatkan dari pembacaan atas sajak-sajak yang dilakukan baik dalam bahasa Arab ataupun terjemahannya dalam acara ‘’poetry reading’’ di mana-mana ialah sajak yang berjudul ‘’Bitâqat huwiyyah’’ yang dihasilkan tahun 1964 dan diterjemahkan ke bahasa Inggeris tahun 1970 sebagai ‘’Identity Card’’. Imaji dan metafora apakah yang paling dominan dan mengendap di dalam sajak-sajak Mahmud Darwis. Pembacaan atas karya-karyanya, lebih dari pembacaan atas pendapat para kritikus tentang karya-karyanya, sangatlah membantu seorang pembaca untuk memahami Mahmud Darwis secara luas dan menyeluruh.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



