Selasa, 02 Desember 2008 || 3 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Perbankan Perang Bunga Deposito
Jumat, 29 Agustus 2008
Akibat BI Perketat Likuiditas
JAKARTA (RP) - PERANG deposito antarbank tak bisa lagi dihindarkan. Ada bank yang memasang bunga dananya hingga 12 persen, jauh di atas bunga penjaminan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sebesar 8,75 persen.

Wakil Ketua Umum Perbanas Jahja Setiaatmadja mengemukakan, otomatis perang bunga dana untuk menyerap dana masyarakat saat ini di luar tanggungan LPS. Bank-bank harus menyadari konsekuensi dari hal tersebut jika kondisi bank bersangkutan kolaps. ‘’Bank-bank sudah tidak terikat LPS dan memang tidak dijamin LPS lagi,’’ kata Wapresdir PT Bank Central Asia Tbk itu di Jakarta kemarin (28/8).

Ketua Perbanas Jos Luhukay menambahkan, perang bunga deposito adalah dampak dari pengetatan likuiditas pasar oleh Bank Indonesia (BI). Hal yang sama juga menjadi pemicu kenaikan bunga kredit. ‘’Regulator perbankan mengambil jalan ini sebagai salah satu upaya menjaga inflasi,’’ ujar Jos kemarin (28/8). Perang bunga deposito antarbank, kata Jos, tentunya segala akibatnya telah dipertimbangkan secara cermat oleh industri perbankan. Termasuk soal bunga penjaminan LPS yang hanya 8,75 persen. Juga, besaran simpanan yang dijamin LPS yang hanya Rp100 juta.

Dia mengakui kondisi tersebut kurang sehat bagi industri perbankan. Karena itu, bank-bank berharap pengetatan likuiditas di era suku bunga tinggi ini tidak akan berlangsung lama. ‘’Segera setelah keadaan lebih terkendali, bank sentral akan mulai mengendurkan kembali kendali likuiditas tersebut,’’ kata Wapresdir PT Bank Danamon Tbk itu.

Secara terpisah, pengamat perbankan Iman Sugema mengatakan, era suku bunga tinggi yang bermuara pada pengetatan likuiditas membuat bank lebih suka menggerek bunga dana, termasuk deposito, untuk menjaga likuiditasnya. Apalagi, penyaluran kredit masih mengucur deras. ‘’Artinya, tren suku bunga tinggi ini memang harus diakhiri,’’ katanya.

Bank, kata dia, harus bekerja keras menyerap likuiditas. Jalan instan yang dilakukan pun menggerek bunga, terutama untuk deposito. Itu pun masih diiringi pemberian hadiah yang terkesan jor-joran. Sementara itu, Ketua LPS Rudjito mengatakan, perbankan harus menanggung konsekuensi jika sudah berani memasang bunga di atas ketentuan LPS. ‘’Bank-bank harus membuat perhitungan yang cermat,’’ ujar bankir senior itu.

LPS, kata dia, akan mengkaji kondisi perekonomian nasional terkait besarnya bunga penjaminan. Dia belum bisa memastikan apakah pihaknya akan menaikkan bunga penjaminan lagi atau tidak.(eri/fas)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org