Selasa, 02 Desember 2008 || 3 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Puasa dan Pilkada
Jumat, 29 Agustus 2008
Oleh : Imron Rosidi
Bagi masyarakat Riau, ada hal istimewa pada puasa Ramadan kali ini karena pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan dilaksanakan secara langsung pada bulan tersebut. Momentum kedatangan bulan puasa dengan pemilihan kepala daerah mungkin dianggap bagi sebagian orang sebagai hal yang tidak istimewa.
Memang, kalau kita melihat sekilas, puasa dan Pilkada seolah-olah dua hal yang berbeda. Barangkali, sebagian orang menganggap bahwa puasa adalah  ibadah untuk akhirat semata sementara kegiatan Pilkada merupakan wilayah dunia an sich.

Padahal, cakupan puasa sangat luas. Kekuatan ibadah puasa terletak bukan saja pada penguatan spritualitas individu dengan Tuhan, melainkan juga pengaruhnya dalam wilayah sosial. Bagi individu muslim, menahan lapar semenjak fajar sampai terbenamnya matahari dimaksudkan untuk menempa pribadi muslim untuk peka terhadap lingkungan sosialnya. Kelaparan merupakan kosa kata yang mungkin bukan barang baru bagi empat puluh juta penduduk Indonesia. Namun, lima puluh persen warga Indonesia belum tentu pernah mengecap rasa lapar, utamanya para pemimpinnya. Puasa, dengan demikian, mendorong orang-orang yang mampu secara materi untuk berbagi.

Puasa juga penting sebagai upaya mendorong setiap individu yang melaksanakannya untuk melakukan penghematan. Apalagi saat ini, pemerintah sedang giat-giatnya melakukan upaya penghematan energi. Kalau 40 juta saja penduduk Indonesia melakukan puasa selama sebulan, sudah berapa miliar penghematan energi yang kita dapatkan. Penghematan itu didapatkan dari penghematan pemakaian alat-alat masak dan minum. Hal itu belum mencakup penghematan belanja konsumsi keluarga. Walhasil, jika kita lihat cakupan puasa yang begitu luas, tak benar kalau puasa semata-semata merupakan wilayah yang tak ada hubungannya dengan keduniawian.

Kita juga mungkin beranggapan bahwa puasa merupakan aktivitas yang termasuk urusan kaum muslim semata sedangkan Pilkada adalah peristiwa yang melibatkan kaum muslim dan non-muslim. Faktanya puasa tidak semata-mata ibadah yang dilaksanakan oleh individu muslim saja melainkan pemeluk agama-agama lainnya. Tidak heran jika dalam Alquran disebutkan bahwa puasa merupakan ibadah yang juga dilaksanakan oleh orang-orang sebelum Islam. Penggunaan kata-kata ‘…sebagaimana orang-orang sebelum kamu”  dalam Surah Al-Baqarah 128 mengindikasikan bahwa puasa adalah ibadah yang diwajibkan juga bagi pemeluk agama-agama samawi sebelum Islam. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa puasa bukanlah ibadah yang dikhususkan untuk pemeluk agama Islam.

Dalam praktik perpolitikan kita, Pilkada langsung merupakan proses penting untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan hati nurani rakyat. Namun, dalam banyak hal, praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman sering kali ditemukan dalam Pilkada. Bukan barang baru bagi kita jika untuk mengikuti pencalonan kepala daerah diperlukan dana yang tak sedikit jumlahnya. Tidak aneh jika dalam pelaksanaanya kita melihat banyak kecurangan dan manipulasi. Belum lagi, tindakan anarkis bahkan bentrokan antar pendukung calon kepala daerah di tingkatan grass root.

Salah satu penyebab terjadinya praktik manipulasi dalam Pilkada adalah adanya anggapan bahwa Pilkada hanyalah sebagai proses politik sekuler yang tak ada kaitannya dengan ibadah untuk akhirat. Tapi hal itu bukan berarti agama tidak dimanfaatkan oleh para kandidat dalam Pilkada. Simbol-simbol agama sering dipakai oleh para kandidat dalam Pilkada untuk merengkuh pemilih sebanyak-banyaknya. Mereka berlomba-lomba mencapai tujuan politik dengan berbagai cara. Mereka sama sekali tidak memikirkan implikasinya di kehidupan akhirat.

Momentum pelaksanaan Pilkada yang berbarengan dengan kaum muslim berpuasa mengisyaratkan pentingnya pilkada dilihat sebagai kegiatan yang kental nuansa akhiratnya. Pilkada di bulan puasa seharusnya mendorong tindakan dan praktik yang jujur sejak pelaksanaan kampanye hingga hari pencoblosan. Hal ini penting dilakukan karena praktik yang tidak jujur dalam Pilkada akan berdampak pada kosongnya nilai berpuasa individu muslim. Hal ini berarti, Pilkada di Riau merupakan ‘teguran’ Tuhan akan pentingnya praktik Pilkada yang bersih dari segala unsur manipulasi.

Mulai saat ini, para pelaku Pilkada harus menyadari bahwa Pilkada dalam bulan puasa berimplikasi sangat luas terhadap masa depannya di akhirat. Dosa yang berlipat akan dibebankan kepada para pelaku yang kotor dalam Pilkada. Sebaliknya, pahala yang berlimpah akan diterima para pelaku Pilkada yang jujur.

Saat inilah masyarakat Riau berkesempatan melaksanakan Pilkada untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Pelaksanaan Pilkada yang jujur akan melahirkan pemimpin yang amanah, jujur dan bertanggung jawab. Pemimpin seperti itulah yang dharapkan mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Riau lima tahun ke depan. Sebaliknya, Pilkada yang kotor di bulan puasa, melahirkan pemimpin yang kotor dan jauh dari keberkahan.***

Imron Rosidi SPd MA, alumnus program pasca-sarjana Universitas Leiden,  Belanda. Saat ini tinggal di Pekanbaru.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga