| Surplus Politikus |
| Jumat, 29 Agustus 2008 | |
|
Indonesia kini sudah surplus politikus tetapi minim pengusaha. Fenomena ini layak dijadikan renungan, sebab menjelang Pemilu legislatif dan Pilpres sudah bertabur calon pemimpin yang mencalonkan diri.
Tentu kita tidak hanya melihat persoalan dari soal surplus belaka yang berdimensi kuantitas, namun, kita juga melihat dari aspek kualitas. Politikus yang jumlahnya berjibun dalam banyak kasus tidak memberikan harapan apa-apa bagi bangsa ini. Namun, sebaliknya, mereka menjadi ‘’hantu’’ yang siap meluluhlantakkan masa depan kita bersama. Sejumlah kasus korupsi yang belakangan terungkap melibatkan para politikus tentu sangat menakutkan masa depan bangsa ini. Sebab, dari praktik korupsi itu, semua bisa diobrak-abrik. Keadilan, kebenaran, dan kejujuran dengan mudah dijungkirbalikkan. Aturan ‘’setan’’ pun bisa dibuat dan disahkan asalkan tawar-menawar harganya cocok. Memang, kita tidak bisa begitu saja menggeneralisasi semua politikus sebusuk itu. Pasti masih ada yang sehat dan bertindak benar. Namun, sayang, kelompok yang kedua itu masih kalah dominan dengan yang pertama. Itu bisa dibuktikan dengan masih banyaknya kebijakan atau aturan produk politikus yang bertentangan dengan akal sehat mayoritas kita. Sekarang yang perlu dicari jawabannya, pertama, mengapa sahwat orang untuk berpolitik di negeri ini begitu besar? Kedua, mengapa kualitas mereka begitu memprihatinkan? Jika melihat fenomena bahwa kini Indonesia surplus pengusaha dan minim pengusaha, kedua pertanyaan itu akan terjawab sekaligus. Yakni, politik saat ini dipandang sebagai profesi yang sangat menjanjikan. Baik dari sisi materi maupun ketenaran. Jadi pengusaha, kendati menjanjikan kedua hal itu, untuk mencapainya perlu kerja keras, keuletan, dan rentang waktu yang cukup panjang. Sedangkan di politik, khususnya pascareformasi, keduanya bisa diraih melalui jalan pintas (instan). Itu terjadi karena sistem politik pascareformasi masih belum tertata secara baik dan baku. Jalan pintas dan instan hingga kini menjadi kegemaran di antara sebagian warga di negeri ini. Tanpa bekerja keras, tapi bisa kaya raya. Soal cara yang ditempuh, tidak menjadi masalah. Sebagian di antara warga di negeri ini sudah terbiasa dengan ketidaksportifan, ketidakjujuran, dan kemunafikan. Bila pertanyaan kembali diajukan, mengapa kebiasaan jelek itu banyak menghinggapi kita? Tentu jawabannya sangat kompleks. Dari kegagalan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, sistem pendidikan yang mengabaikan aspek moral, sampai masyarakat -mulai lingkungan terkecil RT/RW, publik figur, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, hingga media massa- yang peduli dengan perkembangan generasi muda. Pendek kata, hal itu merupakan imbas dari kesalahan kita bersama. Karena itu, untuk memperbaikinya, kita juga harus berjalan bersama-sama. Sangat mustahil bila perbaikan itu hanya dilakukan beberapa elemen masyarakat. Untuk mengurangi surplus politikus, kita harus berupaya menutup rapat-rapat lubang dan pori-pori korupsi. Jika lubang itu tertutup, mereka yang nanti menjadi politikus adalah orang-orang yang benar-benar ingin mengabdikan diri kepada bangsa. Sebab, tempat itu nanti menjadi kering dan hanya mereka yang punya idialisme tinggi yang akan mampu bertahan. Sementara untuk memompa minimnya pengusaha, kita harus menanamkan sportivitas, keuletan, kerja keras, dan kejujuran kepada generasi muda. Sebab, hanya mereka yang memenuhi syarat itulah yang layak untuk hidup enak dan berkecukupan.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




