| Chaidir Tolak Politik Dagang Sapi |
| Jumat, 29 Agustus 2008 | |
PEKANBARU (RP) - Calon Gubernur Riau drh Chaidir MM menolak berpolitik dengan cara dagang sapi. Cara tersebut, dijelaskan dia tidak sesuai dengan hati nuraninya sebagai seorang intelektual.Hal tersebut diungkapkan saat menghadiri Seminar Sehari Peran Ilmuan MIPA dalam Menyukseskan Visi Riau 2020 yang ditaja Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Kamis (28/8) di auditorium Umri Jalan KH Ahmad Dahlan Pekanbaru. ‘’Politik dagang sapi itu tidak benar, tidak layak dicontoh, karena, perhitungannya cuma satu, siapa yang siap membayar,’’ jelas dia di hadapan ratusan peserta yang umumnya pelajar tersebut. Chaidir lebih cenderung merefleksikan diri dengan kemampuan yang dimiliki. ‘’Saya lebih suka berdialog seperti ini, dari kampus ke kampus dan tidak dibumbui kepentingan politik, karena, di sini, semua bisa diperdebatkan secara ilmiah dan ditelaah secara akademis. Saya malah menantang seluruh calon masuk ke kampus supaya bisa dibedah sejauh apa konsep yang dimiliki dalam membangun Riau ke depan,’’ imbuh lelaki yang mengaku tidak ingin selalu diposisikan sebagai calon gubernur ini. Soal apa yang akan dilaksanakan ke depan, Chaidir menyebutkan banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk di antaranya kesejahteraan guru serta pembangunan kawasan pedesaan. ‘’Kita sudah terlalu jauh tertinggal dari Malaysia, harusnya kita berpikir bagaimana menjadikan pendidikan kita bisa lebih baik dari mereka dengan anggaran yang demikian besar,’’ tegasnya. Begitupun perihal pembangunan kawasan pedesaan, Chaidir mengaku prihatin, karena, sampai saat ini dia masih banyak mendapat laporan perihal minimnya infrastruktur pendukung pembangunan desa seperti jalan dan perbankan. ‘’Saya pernah mendapat sindiran saat berkunjung ke satu desa. Mereka meminta sekali saja jalan di desa itu diperbaiki, selamanya pemerintah tak perlu memperbaiki lagi. Ungkapan tersebut sebuah sindiran sekaligus ungkapan frustasi karena pemerintah dengan uang yang berlimpah tidak memperhatikan keberadaan mereka,’’ kenang dia. Chaidir yang mengaku takut apa yang disampaikannya ini sebagai kampanye terselubung juga mengungkapkan keinginannya supaya Bank Riau ada di setiap desa, minimal kecamatan, sehingga, bisa mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat. ‘’Program banyak, tapi saya tak ingin dianggap berkampanye di dalam forum ini,’’ kata dia. Silaturahmi ke Ikmi Riau Sementara itu, saat Chaidir silaturrahmi ke Ikatan Masjid Indonesia (Ikmi) Korwil Riau Jalan Todak, Kamis (28/8) mengatakan, kedatangannya bukan untuk mencari dukungan. Pasalnya, semua mubaligh yang hadir di Gedung Mahligai Masjid Korwil Riau itu adalah orang-orang cerdas yang diberi kemampuan untuk memberikan pencerahan. Jadi, kata Chaidir, sangat kecil nilainya, jika dirinya hadir dalam acara menyambut Ramadan itu hanya untuk mencari dukungan dari para mubaligh. Selain itu, Chaidir juga mengatakan, kehadirannya bukan karena Pilkada sebab tugas mubaligh adalah memuliakan umat. Hal senada, sebenarnya juga pernah dilontarkan Chaidir saat bersilaturahmi dengan 500-an guru bantu di Dumai. Dirinya, bukan datang untuk mendapatkan dukungan di Pilgubri, 22 September nanti, meskipun dirinya adalah pembina para guru bantu tersebut. ‘’Saya gembira sekali diterima di gedung ini dan dipercaya pula untuk memberikan sambutan di depan para mubaligh. Saya memang bukan mubaligh, tapi dari buku-buku yang saya baca, saya berusaha untuk memberikan pula sedikit pencerahan kepada kita semua di sini,’’ tuturnya merendah.(fed/bud) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


PEKANBARU (RP) - Calon Gubernur Riau drh Chaidir MM menolak berpolitik dengan cara dagang sapi. Cara tersebut, dijelaskan dia tidak sesuai dengan hati nuraninya sebagai seorang intelektual.

