Selasa, 02 Desember 2008 || 3 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Sepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers
Jumat, 29 Agustus 2008
ImageJAKARTA (RP) - Pers nasional masih dibekap dimensi paradoks. Di satu sisi harus mengedepankan idealisme dan agen pembaharuan. Namun, di sisi lain, pers juga dinilai telah memberikan porsi berlebih pada aspek materialistik (mementingkan bisnis). Kondisi itulah yang sedang diformulasikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Dalam acara Sarasehan Pers Nasional bertema ‘’Mempertahankan Roh Perjuangan Pers Nasional di Era Globalisasi,’’ Ketua Umum PWI Pusat Margiono mengatakan, tantangan pers di era globalisasi makin berat. Bergulirnya era globalisasi ini, kata dia, mau tidak mau mengharusnya pers menyeimbangkan posisinya, yakni tetap idealis sekaligus menjaga agar industri pers tetap sehat secara bisnis.

Pembicara dalam sarasehan tersebut antara lain, Dahlan Iskan (Chairman Jawa Pos), Jakob Oetama (Pemimpin Umum Harian Kompas), Letjen Purn (Pur) Kiki Syahnarki (mantan Wakasad) dan Tjipta Lesmana (pemerhati pers dan Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan).

Jakob Oetama mengatakan, pers akan tertinggal jika kehilangan empat fundamen penting. Yakni trust (kepercayaan), tidak total bekerja sebagai pekerja pers (wartawan), tidak peduli dan tidak peka terhadap kondisi sekitar dan tidak mempunyai frame dan falsafah dalam melaksanakan pekerjaan.

‘’Kini kecenderungannya, kepercayaan atau trust ini sudah sangat lemah. Kita lebih cenderung berperangsaka terhadap orang,’’ papar Jakob. Pendiri majalah legendaris Intisari ini juga merisaukan hilangnya ketotalan dalam bekerja. ‘’Tidak ada lagi semangat bahwa bekerja adalah ibadah akan menurunkan wibawa pers,’’ katanya. Kalau sudah begitu, lanjut dia, akan sulit pers bertahan di era globalisasi.

Soal suksesnya Harian Kompas dengan Kelompok Kompas Gramedianya, Jakob mengatakan tidak tepat menyebut dirinya pengusaha. Pria kelahiran 27 September 1931 ini lebih suka jika dia disebut orang yang bisa memimpin industri pers. ‘’Saya ini dulunya hanya ingin jadi guru. Namun, setelah jadi wartawan dan kini bisa memimpin Kompas, karena saya mungkin termasuk orang yang bisa menjadi pimpinan,’’ katanya.(jpnn)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org