| 3.111 Warga Inhil Buta Aksara |
| Kamis, 28 Agustus 2008 | |
|
Laporan YON WAHYUDI, Tembilahan --
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
DARI 688.000 jiwa warga Indragiri Hilir (Inhil), sebanyak 3.111 di antaranya masih buta aksara. Sebelumnya terdapat sekitar 8.000 jiwa lebih warga daerah ini yang buta huruf. Hadirnya Guru Bantu Provinsi (GBP) mengubah drastis jumlah tersebut. Ini tidak terlepas dari penempatan 274 GBP yang direkrut beberapa waktu lalu yang ditempatkan di daerah terpencil. Kamis (28/8) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Indragiri Hilir (Inhil) memberikan tanda penghargaan kepada Pahlawan Tanpa Tanda Jasa tersebut. Selain itu kepada warga didik yang berjumlah 5.522 orang juga diberikan surat keterangan melek aksara (Sukma). Pemberian tanda penghargaan ini disampaikan secara langsung oleh Kadisdikpora Drs H Pahrolrozy MM. Saat itu hadir segenap GBP, kelompok formal desa dan UPTD Dikpora se-Inhil. Kerelaan GBP ditempatkan pada desa terpencil dinyatakan Pahrolrozy sangat membantu upaya mengentaskan buta huruf yang masih ada beberapa kalangan warga. Masa tugas selama dua bulan, meski sejatinya cukup pendek untuk menyukseskan program itu, tetapi sudah memberikan dampak positif terhadap upaya tersebut. Di samping itu, GBP yang bertugas di daerah terpencil tidak pernah mengadukan permasalahan penolakan warga sekitar. Hal itu disebut Kadisdikpora sebagai bentuk penerimaan sekaligus antusiasme warga Bumi Sri Gemilang yang masih buta aksara. Karena itulah, dia menyebutkan seorang GBP tidak perlu takut ditempatkan ke daerah manapun sepanjang memang memiliki niat mulia mencerdaskan kehidupan bangsa. ‘’Selama dua bulan itu, GBP mampu memberikan pengajaran kepada 5.522 warga yang selama ini belum melek aksara. Meski tergolong cukup singkat diberikan pembelajaran, karena hanya dua bulan saja tetapi mayoritas warga tersebut sudah pandai membaca. Karena itu apa yang sudah disumbangkan oleh GBP itu tidak dapat diukur. Sebab itu pula, Disdikpora menyatakan berterima kasih dan memberikan tanda penghargaan kepada GBP,’’ jelas Pahrolrozy kepada Riau Pos. Berdasarkan data Disdikpora, warga yang buta aksara umumnya bermukim di pedesaan yang sulit dijangkau. Dari segi usia rata-rata di atas 40 tahun. Mengentaskan permasalahan ini, diperlukan upaya ekstra. Pasalnya tidak mudah mengajarkan warga yang sudah berusia lanjut untuk belajar membaca layaknya siswa sekolah. Ditambah lagi lokasi pemukiman warga itu kebanyakan tidak mampu dijangkau lewat jalur transportasi darat. Untuk mencapainya harus menggunakan sarana transportasi air yang sangat tergantung pada pasang surutnya air laut. Selain itu, pada lingkungan itupun tidak terdapat listrik dan air bersih sebagaimana layaknya perkotaan. Meski sangat berat, tetapi jika dilakukan dengan ikhlas, Pahrolrozy sangat yakin hasilnya akan jauh lebih baik. ‘’Karena itu merupakan problema tersendiri, atas dasar ketentuan yang berlaku saya kembali meminta GBP selama satu bulan lagi menuntaskan warga yang belum pandai mengenal aksara ini. Seluruh prestasi yang sudah diperlihatkan itu nantinya menjadi bahan pertimbangan Disdikpora dalam proses penempatan GBP usai melakanakan pengabdian tersebut,’’ beber mantan Asisten I Setdakab Inhil ini.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




