| Besok, Elpiji Naik Harga |
| Minggu, 24 Agustus 2008 | |
|
JAKARTA (RP) - PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga elpiji (LPG). Terhitung mulai besok, elpiji nonsubsidi ukuran 12 dan 50 kg akan naik harga. Vice President Komunikasi PT Pertamina Wisnuntoro mengatakan, penyesuaian harga diperlukan agar secara bertahap, harga elpiji nonsubsidi bisa mendekati harga keekonomian.
‘’Penyesuaian khusus untuk elpiji 12 dan 50 kg. Sedangkan harga elpiji 3 kg tetap,’’ katanya di Jakarta kemarin (23/8). Wisnuntoro mengatakan, terhitung mulai 25 Agustus 2008, harga jual elpiji kemasan 12 kg naik dari Rp5.250 per kilogram (kg) menjadi Rp5.750 per kg, atau naik dari Rp63.000 per tabung menjadi Rp69.000 per tabung. ‘’Jadi, naik sekitar 9,5 persen,’’ katanya. Sedangkan harga jual elpiji kemasan 50 Kg, yang sebelumnya didiskon 15 persen, mulai besok hanya didiskon 10 persen. Artinya, harga naik dari Rp6.878 per kg menjadi Rp7.255 per kg. Dengan demikian harga dalam kemasan 50 kg naik dari Rp343.900 per tabung menjadi Rp362.750 per tabung. Sedangkan harga jual elpiji tabung 3 kg yang masuk dalam program konversi, masih tetap. Yakni Rp 4.250 per Kg atau Rp 12.750 per tabung. ‘’Ini untuk mendukung program konversi,’’ terangnya. Menurut Wisnuntoro, harga jual tersebut berlaku eks Agen dalam radius sampai dengan 60 kilometer (Km) dari instalasi utama Pertamina dan atau SPPBE. Sedangkan di luar radius 60 Km, ditambah dengan biaya angkutan yang disesuaikan dengan ketentuan biaya angkutan. ‘’Ini diatur dalam surat keputusan Menteri Perhubungan,’’ paparnya. Wisnuntoro menambahkan, penyesuaian harga jual elpiji tersebut perlu dilakukan karena, pertama, kenaikan harga jual elpiji pada Juli 2008 lalu, adalah untuk mengakomodir kenaikan biaya operasional dan distribusi sehubungan dengan naiknya harga BBM. ‘’Jadi, masih belum mengakomodir harga bahan baku elpiji,’’ ujarnya. Kedua, untuk tahun 2008, rata-rata harga elpiji di pasar internasional dengan referensi harga CP Aramco, adalah sebesar 858 dolar AS per metrik ton (Mt). ‘’Sehingga, harga keekonomian elpiji sebenarnya mencapai Rp 11.400 per Kg,’’ katanya.(fal/jpnn) Alasan ketiga, tingginya harga elpiji di pasar internasional tersebut membuat disparitas dengan harga elpiji untuk kemasan 12 dan 50 Kg dalam negeri cukup besar, yakni hingga Rp 6,5 triliun per tahun. ‘’Ini yang ditanggung Pertamina sebagai kerugian,’’ terangnya. Karena itu, lanjut Wisnuntoro, terkait dengan harga jual elpiji nasional yang masih jauh dari harga keekonomian tersebut, maka selanjutnya Pertamina berencana untuk menaikkan harga elpiji kemasan 12 kg secara bertahap sebesar Rp 500 per Kg setiap bulannya. ‘’Hingga mencapai harga keekonomian Rp 11.400 per Kg,’’ jelasnya. Demikian juga untuk elpiji kemasan 50 Kg. Pertamina akan mengurangi diskonnya secara bertahap dan selanjutnya disesuaikan sampai dengan harga keekonomian. Guna memenuhi kebutuhan elpiji masyarakat, kata Wisnuntoro, maka Pertamina tetap menjamin ketersediaan elpiji, dimana stok elpiji saat ini sebesar 76.780 MT. ‘’Ini cukup untuk 17 hari kebutuhan nasional,’’ ujarnya. Namun demikian, Pertamina berharap, masyarakat dapat membeli elpiji sesuai kebutuhan atau tidak berlebihan diatas pemakaian normal. ‘’Yang jelas, stok aman, tidak usah khawatir,’’ katanya. (owi/oki/jpnn) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




