| Jangan Sampai Kami Pakai Jalur Plastik |
| Sabtu, 23 Agustus 2008 | |
|
Ndak baliak do tambaru ko (tidak pulang kampung tambaru ini)? Pesan singkat (SMS) itu selalu hadir di ponsel saya tiap memasuki helat pacu jalur. Yang mengirim siapa lagi jika bukan sanak saudara di Rantau Kuantan. Pesta pacu jalur zaman Belanda memang lazim disebut tambaru, kependekkan dari tahun baru.
Meski lahir dan dibesarkan di Pekanbaru, kedua orang tua saya yang memang anak jati Rantau Kuantan dan tidak mau kami anak-anaknya tidak mengenal akar budaya nenek moyangnya. Karena itu, cerita-cerita seputar pacu jalur sudah kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan oleh mereka. Apalagi, jalur kedua orang tua saya (tepatnya jalur kampung ibu saya) yang bernama Bomber dari Desa Siberakun Kecamatan Benai adalah langganan juara dalam era tahun 1960-an hingga 1970-an. Bahkan Bomber telah merebut hadiah nomor satu tidak kurang dari sepuluh kali. ‘’Ketika itu kami menonton sampai patah-patah payung saking semangatnya memberi spirit untuk Bomber,’’ kenang ibu. Bahkan, abang saya tua, pernah di usia balita sudah diajak ayah menonton pacu jalur. Foto-foto mereka ketika itu membuat saya ketika masih kecil juga sangat ingin menonton langsung pacu jalur. Akhirnya, kesempatan itu datang juga di tahun 1987 ketika saya masih duduk di kelas IV SD. Bersama keluarga adik perempuan ayah, saya nekat libur sekolah demi helat pacu jalur. Padahal ketika itu, kondisi jalan belum seperti sekarang. Masih banyak jalan buruk dan berlubang-lubang. Akibatnya, jarak Pekanbaru-Teluk Kuantan sejauh kurang lebih 160 Km ditempuh dengan masa kurang lebih enam jam. Ketika itu, di dalam bus Muda Raya yang kami tambang, saya dan para sepupu juga harus berusaha melawan pening kepala dan hasrat ingin muntah karena mabuk darat. Hari pertama menonton pacu jalur, saya cukup takjub melihat lautan manusia yang memenuhi Kota Teluk Kuantan. Jumlah penontonnya mungkin bisa mengalahkan penunjung pameran pembangunan yang juga tiap Agustus saya lihat di Pekanbaru. Kami pun memilih nonton di tribun agar lebih jelas dan tak perlu begitu berdesak-desakan. Ketika pacu berlangsung, saya pun akhirnya benar-benar menyaksikan euforia masyarakat Rantau Kuantan dalam menyemangati jalurnya. Seorang mamak (paman) yang di Pekanbaru saya nilai cukup berwibawa, ternyata bisa lepas kendali juga ketika menonton pacu. Tintiang niak oiiiiiiiiii. Begitu katanya ketika menyemangati jalur. Padahal, terkadang, belum tentu itu jalur kampung dia. Tinting sendiri berasal dari kata meninting yang kerap dipakai untuk menapis tepung pada ayakan sehingga akhirnya didapat hasil yang halus. Tapi, dalam helat pacu jalur, tintiang artinya kalahkan lawan dengan halus. Seperti nonton sepak bola, para penonton pun kerap duduk berdiri. Agar lebih jelas melihat pacu jalur, saya sampai menggunakan teropong ketika itu. Malamnya, kami pun menonton kesenian rakyat seperti rarak dan randai. Tahun berlalu, masa berganti, ternyata keinginan untuk menonton pacu tak kunjung surut. Di masa kuliah, sepupu yang menimba ilmu di Jogjakarta pun bela-belain pulang liburan semester agar bisa nonton pacu. Para paktuo, paktonga dan amai (bibi) yang sudah pensiun bahkan telah jadi kakek-kakek pun tetap ‘mabuk’ nonton pacu. Apalagi asisten di rumah yang membantu mengurus rumah tangga. Ketika sudah bekerja, teman sekantor yang berasal dari Rantau Kuantan pun selalu mengambil cuti saat pacu jalur agar bisa balik kampung. Pacu pun mau tak mau jadi ajang kumpul keluarga besar yang telah tercerai-berai karena mengadu peruntungan di rantau orang. Setelah tahun 1987 itu, saya baru kembali menonton pacu ketika sudah bekerja di era tahun 2000-2001. Ketika itu, Rantau Kuantan telah menjadi daerah pemekaran baru dan memisahkan diri dari Indragiri Hulu. Namanya Kabupaten Kuantan Singingi. Semangat ber-Kuantan Singingi ria pun membuat niat menonton pacu jalur makin membara. Di masa berumah tangga, ternyata saya pun berjodoh pula dengan suami yang masih orang Rantau Kuantan. Baru dua bulan menikah, dia ‘tega’ meninggalkan saya, pergi menonton pacu bersama geng SMA-nya. ‘’Cuma balik hari, tak nonton sampai habis,’’ begitu jawabnya tanpa dosa ketika ditelepon. Ternyata, sama seperti ayah dan ibu, saya dan suami pun telah mengenalkan tradisi pacu jalur pada dua buah hati kami. Tiap kali balik kampung, kami kenalkan secara langsung pada mereka apa itu jalur. Bahkan anak yang tertua kami sangat antusias melihat latihan pacu yang kebetulan digelar di tepian dekat rumah. Pulang-pulang, dia sudah bisa menirukan ucapan anak pacu ketika mendayung perahu. Iw wa iw, iw wa iw, begitu lagunya. Saya pun senang karena dengan begitu ia sedikit banyak mulai tahu asal usul nenek moyangnya. Terlepas dari banyaknya plus minus dalam helat ini, kami yang masyarakat Rantau Kuantan khususnya tentu ingin tradisi ini tetap lestari. Kami ingin hutan tak lagi dirambah secara semena-mena sehingga kayu jalur tetap mudah dicari dan banjir tidak jadi langganan tiap tahun. Terkadang sempat terlintas di pikiran saya, kalau hutan sudah punah ranah, bagaimana kelak anak saya memperkenalkan tradisi pacu jalur pada cucu cicit kami? Jangan-jangan sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang jalur pun telah berevolusi menjadi kecil sehingga namanya pun diberi jalur mini. Atau bahkan nanti saking sudah tak ada kayu yang hendak dibuat jadi jalur maka yang ada hanya sampan berukuran satu orang. Namanya pun bukan lagi pacu jalur, tapi pacu kano. Atau (semoga tidak terjadi) cucu dan cicit kita nanti akan pakai jalur plastik dan aluminium yang diimpor dari Jepang. Karenanya kita semua perlu terus mengupayakan hal ini agar pacu jalur tak hanya tinggal kenangan. Suai? Tintiang niak oiiiiiiiiiiii.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



