| PUISI |
| Sabtu, 23 Agustus 2008 | |
|
Kafan dalam Diri I
menyulam kafan dalam diri kecipak mimpi dibasuh sepi “lecutkan aku walau perih” “lecutlah aku walau rintih” 140608/Kos Resah An-Nisa Stagnan! ditindih malas yang memusim tersobek aku dalam hari-hari bisu antara telapak yang nak tapi tubuh membatu di jaring-jaring gagu yang telikung minda stagnan! 140608/ Pekanbaru-Ruang Resah Syahdu Kamboja kematian adalah kekasih yang diam-diam menguntitmu ke mana pergi dan tanpa kau tahu tiba-tiba ia kecup bibirmu rindu ia genggam tanganmu sendu berbisik ia di telinga lirih “ikut aku sayang. Dia menunggumu” 220708/12:52/Rengat Sapu Tangan Biru Tua malam menggantung di kusen jendela sepasang Adam Hawa telentang di ranjang. keluh mereka baru pulang dari bioskop nonton Naga Bonar Jadi 2 Si Hawa tak mau lelap ia punya mata ada seribu sapu tangan memetik kecapi galau di dadanya Naga Bonar masih menyimpan sapu tangan Kirana dan di saku suaminya juga selalu ada sapu tangan berwarna biru tua “sapu tangan itu?” “ya. mengapa?” “karena hanya itu yang tertinggal darinya padaku” malam menggantung di kusen jendela seribu sapu tangan biru tua tak mampu menghisap seprai yang basah 22-240708/13:41 12:47/Rengat Nafi duhai angin terbangkan sajakku hinggapkan di rambut Nafi duhai angin terbangkan rambut Nafi hinggapkan di sajakku duhai hujan rintiklah sajakku basahkan di hati Nafi duhai hujan rintiklah Nafi basahkan di hatiku duhai Allah teteskan Firman-Mu padaku agar aku tak hanyut karena Nafi 250708/15:26 Alvi Puspita adalah mahasiswi Unri. Peminat dan penimat sastra. Tinggal di Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



