Selasa, 02 Desember 2008 || 3 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Abe Kafkaesque
Sabtu, 23 Agustus 2008
KENAPA Abe? Kenapa Kôbô? Kenapa Abe Kôbô? Apakah karena ia dinamakan sebagai Kafka Jepang?

Kafka atau nama lengkapnya Franz Kafka ialah seorang pengarang kelahiran Praha di negeri Cek yang menulis dalam bahasa Jerman? Di negeri Cek ada kawasan yang bernama Sudeten yang penduduknya lebih cenderung memakai bahasa Jerman dari bahasa-bahasa lainnya. Atau apakah karena ia seorang yang berdarah Yahudi? Yang benar ialah karya-karya Abe Kôbô cenderung Kafkaesque yaitu memperlihatkan persamaan gaya sebagaimana karya-karya Kafka. Ia tercatat sebagai seorang penulis cerita-pendek dan novel, serta karya-karya sandiwara yang mengandalkan teknik penulisan avant-garde yang selalu memanfaatkan imaji yang serba aneh dan allegoris serta memukau untuk menyatakan situasi keterpencilan individu di tengah keluasan kota raya yang serba menakutkan. Karya Kafkaesque secara menonjol ditandai dari munculnya imaji absurdisme dan illogisme yang dalam karya-karya sastra yang dihasilkan para pengamal Kafkaesque seperti dicontohkan dalam karya-karya teater, ceita-cerita pendek dan novel-novel Abe Kôbô.

Karya-karya Abe Kôbô seperti meteor di cakrawala kesusastraan Jepang, disenangi oleh pembaca-pembaca tua dan terutama orang-orang muda karena memperlihatkan sosok yang samasekali baru seperti belum pernah ada dalam kesusastraan Jepang sebelumnya.

Ia dilahirkan di Tokyo dengan nama Abe Kimifusa pada 7 Maret 1914, Namun ia tumbuh dewasa di Mukden, Manchuria, yang sekarang bernama Shenyang. Ketika itu Manchuria ialah kawasan Cina yang diduduki Jepang.

Manchuria atau dinamakan juga Manchukuo didirikan sebagai Negara boneka Jepang dengan tokoh P’u Yi sebagai kaisar boneka berkat investasi secara besar-besaran yang dilakukan kekaisaran Jepang di negeri itu sehingga industri maju pesat melebihi kawasan sekitarnya yaitu Negara Cina. Kemajuan industri itu digesa oleh keperluan alat-alat perang. Sejak tahun 1928 sebahagian kawasan Mongolia Dalam digabung dalam Manchukuo yang terdiri dari sembilan provinsi pada tahun 1928. Bahkan pada tahun 1934 kawasan Jehol digabungkan pula dalam Manchukuo. Kota-kota industri pun bermunculan seperti Mukden, Harbin dan Dairen. Pada masa pembentukan Negara boneka Jepang itu luas Manchukuo 1.500.000 kilometer persegi dengan penduduk sebanyak 44 juta. Langkah maju Manchukuo merupakan duri dalam daging bagi Cina yang besar tapi kurang berdaya. Sudah sejak dari tahun 1905 sesudah perang Rusia dengan Jepang yang dimenangkan oleh Jepang Manchuria Selatan masuk ke dalam kawasan di daratan Cina yang mendapat pengaruh dari kekaisaran Jepang. Selama tahun 1911 sampai tahun 1931 Manchuria dikuasai oleh raja-raja perang @ warlords Cina, dan keadaan ini mempermudah penaklukan Jepang atau mempercepat pembentukan Manchuria atau Manchukuo sebagai Negara boneka Jepang. Secara resmi negara boneka Manchukuo berdiri dari tahun 1931 sampai berakhirnya Perang Pasifik tahun 1945. Karena itu pengaruh kebudayaan Jepang berkuku di Korea (yang dijajahnya lebih dari setengah abad, di Formosa atau Taiwan dan Manchukuo.

Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua atau Perang Pasifik tepatnya dari bulan Agustus 1945 sampai bulan Mei 1946 negara boneka Jepang Manchukuo dikuasai oleh Sovyet Uni. Pengaruh Rusia meliputi sebagian besar negeri itu kecuali beberapa enclave yang dikuasai oleh Chiang Kai-Shek. Keadaan ini dapat dengan bagus tergambar dalam roman-roman karya André Malraux yang berlatarkan negeri Cina seperti Les Conquerants dan La Codition humain. Karena itu nama Malraux selalu dihubungkan dengan Cina dalam karya-karyanya.

Perjanjian antara Sovyet dengan Republik Rakyat Cina yang ditandatangani pada 14 Februari 1950 maka jalan kereta-api Cina Timur dan Manchuria Selatan yang dinamakan Jalan Kereta-Api Ch’angch’un dikembalikan kepada Cina pada tahun 1952. Tinggallah pangkalan Angkatan Laut di Port Arthur atau Kwantung yang berada di bawah pengawasan Sovyet Uni sampai pada masa ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian dengan kekaisaran Jepang oleh Sovyet Uni dan Republik Rakyat Cina. Inilah latar kehidupan yang berdepan dengan sang pengarang Jepang Abe Kôbô. Keadaan perang yang dahsyat mengait ingatan orang pada kedahsyatan yang tergambar dalam lukisan Pablo Picasso ‘’Guernica’’ dan lebih penting lagi keadaan inilah barangkali yang menyebabkan Abe memilih gaya surrealisme Kafkaesque yang penuh dengan absurdisme dan illogic.

Ayah Abe Kôbô seorang tabib yang mengajar ilmu pengobatan di universitas. Baru pada tahun 1941 ia pindah ke Jepang, dan dua tahun kemudian ia belajar ilmu pengobatan di Universitas Tokyo tapi segera kembali ke Manchuria sebelum Perang Dunia Kedua berakhir. Pulang ke Jepang ia segera menamatkan pendidikan pada tahun 1948 namun tidak pernah mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya selama itu.

Pada tahun 1947 ia menerbitkan Mumei shihû (‘’Sajak-sajak Penyair Tak Terkenal’’) dengan biaya penerbitan sendiri. Sementara itu ia membentuk perkumpulan teater dan menyutradarai karya-karyanya di Tokyo.Karya puncak Abe di bidang teater ialah Tomodachi (‘’Teman’’) yang terbit pada tahun 1967.

Dalam genre novel @ roman karya yang terhitung sebagai puncak ialah Suna no Onna (‘’Wanita Pasir’’) yang terbit pada tahun 1962; terjemahan ke bahasa Perancis karya ini dikenal sebagai La Femme de sables. Karya-karya lainnya terdiri dari Moetsukita Chizu (‘’Atlas yang Hancur’’) yang terbit pada tahun 1967, Hako otoko (‘’Orang Kotak’’) terbit tahun 1973, Mikkai (‘’Pertemuan Rahasia’’) tahun 1977.

Sementara itu Abe Kôbô berhasil meraih Hadiah Akutagawa dengan beberapa cerita-pendeknya yang sangat terkenal yang antara lain ‘’Akai mayu’’ (Red Cocoon) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1950, ‘’Kabe’’ (Dinding’’) tahun 1951, ‘’S Karuma-shi no hanzai’’( Kejahatan S Karuma) tahun 1966, dan Chinnyusha’’ (Penceroboh) tahun 1951. Cerita-cerita pendek karya Abe Kobo inilah yang dinyatakan oleh para kritikus sastra Jepang sebagai paling bernuansa Kafkaesque.

Menurut majalah berita NEWSWEEK (1 Februari 1993) karya-karya Abe Kôbô kental sekali dengan muatan surrealisme meskipun ia sendiri menamakan dirinya sebagai seorang pengarang realis sejati. Diberitakan pula bahwa pengarang Jepang Kafkaesque ini meninggal-dunia pada bulan Januari 1993 setelah sebelumnya tercatat sebagai salah-seorang calon peraih Hadiah Nobel.

Kajian tentang Sastra Bandingan akan menjadi sangat menarik jika karya-karya Abe dibanding dengan karya Malraux, Pablo Picasso dan Mahmoud Darvish yang meninggal-dunia baru-baru ini.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org