Selasa, 02 Desember 2008 || 3 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Mitos Politik Negeri "Dewa-Dewi"
Jumat, 22 Agustus 2008
Oleh Bersihar Lubis
Asyik juga mendengarkan rakyat berbicara tentang pemimpin yang mereka sukai. Suara mereka adalah sukma demokrasi, karena rakyat adalah king maker siapa pemimpin yang mereka idam-idamkan. Tapi kadang di sela-sela akal sehat, terselip juga pandangan yang mendekati budaya populer. ‘’Kita bosan dengan yang lama,’’ kata yang satu. ‘’Perlu wajah baru,’’ seru yang lain. Sepertinya mereka mengandaikan para calon pemimpin bagaikan artis, penyanyi dan selebritis di layar kaca. Mirip gairah kepada telpon seluler dari generasi terbaru.

Seseorang misalnya menyukai tokoh Polan menjadi pemimpin. Jika pun nanti nasibnya tidak berubah, ya tidak apa apa. Jika kecewa kepada sang tokoh, bisa beralih kepada tokoh yang lain. Bagai tokoh kartun dan selebritis toh selalu berseliweran di televisi. Patah tumbuh hilang berganti.

Kadang ada pula pandangan yang mendekati mitologi. ‘’Tokoh Anu itu, jangan-jangan adalah Satria Piningit,’’ kata seseorang. ‘’Atau Ratu Adil,’’ kata temannya. Historiografi si tokoh pun diotak-atik, dicocok-cocokkan hingga klop dengan impian yang ilutif tentang seorang pemimpin. Dulu pun pernah beredar mitos, bahwa setelah era Soekar’’no’’ dan Soehar’’to’’, presiden berikutnya adalah yang berujung nama ‘’no’’ karena bertolak dari pakem ‘’noto nogoro’’ dari khasanah Jawa kuna. Eh, ternyata yang muncul adalah BJ Habibie. Bukan ‘’no’’ tapi ‘’bie.’’

Padahal sudah ada sistem yang mengatur pemilihan presiden dengan pemilihan langsung sejak Pemilu dan Pemilihan Presiden 2004 lalu. Apakah karena sistem tersebut sebagai anak kandung modernisme ternyata tak bisa memuaskan khalayak sehingga muncul paradigma posmodernisme? Atau semata karena protes kepada hasil sebuah sistem, dan bukan kepada proses berjalannya sistem? Memang, ayamlah yang menerbitkan telur, bukan unta. Pertanyaannya, telur seperti apa?

Shock of The New

Bagaimana gerangan mengubah cara berpikir masyarakat yang sudah dicengkeram oleh mitos sehingga merindukan tokoh bak Satria Piningit dan Ratu Adil? Bagaimana mengubah mindset masyarakat yang merindukan sosok pemimpin bagai artis dan selebritis yang bergonta-ganti di pentas show dan televisi?

Tapi misalkan, ada seorang kandidat pemimpin (atau yang sudah menjadi pemimpin) dan mempunyai kekuatan dan pemikiran besar menggerakkan perubahan sehingga kehadirannya mampu merasuki hati masyarakat, barangkali rakyat segera meninggalkan mitologi ala Ratu Adil. Umpamanya, ia siap melakukan revolusi kecil atau besar dalam pemberantasan korupsi.

Andaikan ada tokoh yang tersohor radikal dalam mengubah nasib petani, nelayan dan pedagang kaki lima ke dalam tatanan ekonomi yang lebih bermartabat, akan membuat paradigma rakyat tentang pemimpin akan berubah. Tak sekadar mengunyah-kunyah wacana lama yang membosankan, dan terbukti telah gagal.

Rakyat harus dikagetkan, bahwa ada sesuatu yang baru dari kandidat pemimpin. Sejenis shock of the new. Bukan cuma rutinitas yang bernada gombal, bahwa ‘’jika saya menjadi pemimpin, maka pendidikan dan
kesehatan akan gratis.’’ Ditunggu kedatangan sosok dengan gagasan yang bagai meteor melintas dan membuat terperanjat karena substansinya, yang selain baru, juga membela kepentingan rakyat.

Jika tidak, maka rakyat akan kembali kepada ‘’dewa-dewi’’ yang tercipta dalam fantasi mereka. Padahal, ‘’dewa-dewi’’ hanya ada di kahyangan. Maaf, jadilah karena ketiadaan pemimpin yang datang tanpa shock of the new, rakyat pun kembali bagai menonton wayang, film Hindustan, film Kungfu atau Hollywood. Oh, ini idola saya, dan seperti galibnya budaya massa, maka tokoh idola pun silih ganti sesuai permintaan pasar.

Panggung penyanyi dan selebristis selalu beredar dari satu tokoh ke tokoh yang lainnya. Pada suatu musim penyanyi dangdut si Anu lah yang dielu-elukan. Tapi tidak mungkin terus menerus, karena apa yang dianggap baru dari seorang penyanyi, lama-lama menjadi rutin, membosankan dan tak lagi menjual, sehingga dibutuhkan munculnya penyanyi baru demi pasar, demi duit yang menjadi panglima industri hiburan.

Menyesal sangat, terciptalah khayalan-khayalan baru yang usianya tidak lama. Repotnya, jabatan presiden itu lima tahun. Alangkah sulitnya jika hanya bermodalkan popularitas harus mempertahankan popularitas selama lima tahun. Beda jika yang dipertahankan adalah kinerja dan paradigma baru yang selalu menghasilkan berbagai perubahan yang dinikmati rakyat, baik di bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan sehingga bertahan lebih lama. Tak mustahil lebih lima tahun. Tak mustahil terpilih satu priode lagi.

Tenggelam Beratus Ribu

Demokrasi dengan sistem pemilihan langsung semenjak Pemilu 2004, dengan kelemahan di sana sini, sudah lumayan. Mungkin, yang menjadi persoalan adalah para kandidat pemimpin, baik di legislatif dan eksekutif. Repotnya kepemimpinan kita yang katanya modern berdiri di atas masyarakat yang masih tradisional. Kita ingat dulu, pemimpin tradisional adalah tempat bertanya berbagai hal, mulai soal adat, tanah warisan, penyakit, pengairan dan sebagainya.

Sementara dalam kepemimpinan modern ada pembagian kerja, ada decicion maker, player, regulator, pengontrol, sehingga ada kabinet, DPR dan lembaga yudikatif. Namun kepemimpinan modern ini terganggu karena ada oknum (atau banyak oknum) yang tercela. Sejumlah anggota DPR, penegak hukum, dan menteri yang diduga dan bahkan sudah terlibat korupsi. Bagaimana rakyat hendak percaya?

Belum lagi karena akses rakyat kepada kepemimpinan modern tidak selalu terbuka. Rakyat yang hendak bertemu saja susah, padahal mestinya pemimpinlah yang menjeput bola. Mendatangi rakyat, dan menemukan masalah rakyat, bukan hanya saat Pemilu belaka. Akibatnya rakyat bosan, dan kembali kepada mitos-mitos yang mereka ciptakan sendiri, seperti menonton film kartun, wayang atau dunia selebritis yang gemerlapan.

Lalu, siapakah pemimpin idaman kita? Boleh jadi seperti kata penyair Chairil Anwar, ‘’lahir seorang besar, tenggelam beratus ribu.’’ Tapi jika dihitung sejak 1908, setelah genap seratus tahun kebangkitan nasional, mestinya sudah lahir pengganti Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Bukan bagai ‘’dewa-dewi’’ dari dunia mitologi. Bukan bagai artis yang berseliweran gonta-ganti.***

Bersihar Lubis, wartawan senior.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga