Sabtu, 22 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Pemimpin Harapan Umat
Jumat, 22 Agustus 2008
Oleh Syamsuddin Muir
Rakyat Riau saat ini disibukkan dengan persiapan Pilkada Gubernur Riau untuk masa jabatan 2009-2013. Berbagai berita dan acara tidak luput dengan menampilkan para calon gubri.

Memilih pemimpin perlu kepada pengetahuan yang dapat memberikan panduan dalam menentukan sikap. Allah SWT tidak melihat seseorang kepada bentuk rupa dan postur tubuh, tapi yang manjadi tumpuan penilaian itu adalah hati (iman) dan nilai kerjanya (pengorbanannya) (HR Muslim).

Teguh Keimanan

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang terbaik (master piece) dan termulia. Sebagai makhluk yang terbaik bentuk atau bangunannya, manusia adalah ciptaan Allah SWT yang berjalan lurus di muka bumi. Seluruh tubuh manusia telah direncanakan Allah SWT sedemikian baiknya (al-Tin:1-4), sehingga manusia mampu mengemban amanah yang telah dibebankan Allah SWT kepadanya (al-Ahzab:72).

Manusia yang berkualitas ini punya kemampuan dalam menjalankan peranannya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi (al-Baqarah: 30). Sebagai khalifah, manusia sepantasnya berkiprah sesuai dengan kehendak Allah SWT. Dan tugas utama khalifah itu ialah memakmurkan bumi (Hud: 61), dan beribadah hanya kepada Allah SWT (al-Zariyat: 56).

Dalam kaitan ini, Islam memberikan kriteria seorang pemimpin (khalifah) yang layak untuk dipilih, agar tugas kepemimpinan itu dapat dijalankan secara maksimal. Di antaranya, seorang pemimpin itu mesti memiliki pengetahuan luas, bersikap kreatif, inisiatif, peka, lapang dada dan selalu tanggap dalam persoalan rakyat (al-Mujadalah:11). Seorang pemimpin juga mesti bertindak adil, jujur dan konsekuen dalam menjalankan tugas (al-Nisa’: 58, al-Ma’idah: 8). Pemimpin itu juga seorang yang betanggung jawab terhadap amanah kepemimpinan yang terletak di pundaknya (al-An’am:164). Seorang pemimpin yang diharapkan rakyat sekarang ini juga selektif terhadap informasi yang berkembang, agar tidak timbul berbagai fitnah yang dapat merusak persaudaraan (al-Hujurat: 16). Seorang pemimpin itu juga mampu memberikan peringatan kepada rakyat menuju jalan yang benar (al-Zariyat: 55), memberikan petunjuk dan pengarahan (al-Sajadah:24), dan saling bermusyawarah untuk mendapat jalan kebenaran (Ali Imran: 159).

Untuk itu semua, Rasulullah SAW berpesan kepada pemimpin untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia. Karena, sebagai Nabi dan kepala negara, Rasulullah SAW juga diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak (HR. Bukhari). Dan akhlak Rasulullah SAW adalah penerapan Alquran dalam segala aspek kehidupannya (HR. Muslim).

Akhlak Rasulullah SAW, di antaranya, tercermin dalam kedermawanannya. Rasulullah SAW memberi bagaikan orang yang tidak pernah takut akan kefakiran, dan bahkan beliau sering mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Beliau juga mengatakan bahwa harta tidak akan berkurang disebabkan sedekah (HR. Muslim).

Akhlak Rasulullah SAW juga tercermin dalam sifat zuhudnya (tidak terlalu mengharapkan dunia). Beliau mengingatkan umatnya bahwa hidup di dunia ini bagaikan orang asing atau penyeberang jalan (HR Bukhari). Dunia ini hanya tempat mampir sementara untuk selanjutnya menuju kehidupan yang abadi (akhirat). Dan kata Rasulullah SAW, zuhud terhadap dunia, akan mendapat kecintaan dari Allah SWT. Dan zuhud (tidak memerlukan) pada apa yang ada pada manusia, niscaya akan mendapat kehormatan dari manusia (HR Ibnu Majah).

Akhlak Rasulullah SAW juga tercermin pada kerendahan hatinya. Rasulullah SAW melarang orang berdiri atau menundukkan kepala untuk menghormatinya. Beliau juga tidak suka dipuji, sebagaimana yang dilakukan oleh orang Nasrani terhadapat Nabi Isa (HR. Bukhari). Dengan akhlak mulia ini, Rasulullah SAW mendapat pujian dari Alquran (al-Qalam: 4).

Namun, kehidupan modern yang diterpa arus globalisasi ini, nilai akhlak mengalami dekadensi. Kecintaan kepada kemewahan dunia ini membuat keteguhan iman menjadi terkubur. Buktinya, sudah banyak wakil rakyat antrean masuk penjara karena terlibat kasus suap. Dan kecintaan dunia juga membuat idealisme perjuangan ikut hangus terbakar dalam bara “kepentingan”. Tiada lagi pengorbanan untuk rakyat, yang ada hanya rakyat terkorban ulah kepentingan mereka. Maka, yang kuat memangsa yang lemah, dan yang besar menginjak yang kecil.

Memang, fitrah manusia itu cinta terhadap kemegahan dunia. Tanpa itu, manusia tidak akan mampu membangun dunia ini. Tapi yang merusak itu, bila kecintaan kepada kebendaan dunia ini menjadi tujuan awal dan akhir dalam hidup ini. Semua ini perlu kepada keteguhan iman yang dapat meluruskan langkah seorang pemimpin (khalifah).

Teguh Pendirian

Keteguhan iman dengan penampilan akhlak mulia akan melahirkan seorang pemimpin yang memiliki keteguhan dalam pendirian (tujuan). Alquran menganjurkan untuk bersikap istiqamah (teguh pendirian) dalam Islam (Hud: 112). Istiqamah di sini ialah berpegang pada akidah Islam (Fushshilat: 30), dan istiqamah menjalankan syariat Islam (hukum Islam). Keteguhan ini adalah jalan lurus yang digariskan oleh Islam (al-Fatihah: 6-7). Istiqamah seperti ini akan memberikan keberhasilan dalam hidup di dunia (al-A’raf: 96), dan juga akan memberikan keberhasilan di akhirat kelak (Fushshilat: 30).

Sikap istiqamah itu telah direfleksikan oleh Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah Islam. Pada waktu pamannya, Abu Thalib, mengutarakan usulan kafir Quraisy agar Rasulullah SAW menghentikan dakwah
Islam dengan imbalan “kepentingan” berupa harta, takhta dan wanita, Rasulullah SAW tetap istiqamah dalam pendiriannya, menolaknya dan tidak mau meninggalkan dakwah Islam, sekalipun mereka memberikan imbalan yang besar dan mewah. Dan dengan keteguhan itu, hati pamannya menjadi terenyuh dan kagum bangga, serta siap membantu Rasulullah SAW dalam susah dan senang. Para Khulafa’ al-Rasyidin juga istiqamah dalam menjalankan dakwah Islam, sekalipun nyawa mereka yang menjadi tebusannya. Begitu juga yang tercatat dalam sejarah tentang keteguhan iman (pendirian) keluarga Ammar bin Yasir dan Bilal bin Rabah dalam menghadapi siksaan dari kafir Quraisy.

Jadi, pemimpin harapan rakyat itu ialah pemimpin yang teguh keimanannya yang tercermin dengan akhlak mulia, dan teguh dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan mulia (visi dan misi), tanpa dipengaruhi oleh kepentingan, golongan atau kekuatan asing. Jika begitu, rakyat akan siap memilihnya, dan juga siap berjuang bersamanya untuk membangun negeri tanah Melayu ini menjadi negeri cemerlang, gemilang, dan terbilang.***

H Syamsuddin Muir Lc MA; alumni Al-Azhar Mesir.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailBank Danamon Buka Cabang Baru

Jumat, 21 November 2008

Kucuran Kredit Capai Rp9 Triliun Laporan KARTINI FATTACH, Pekanbaru kartini-fattach@riaupos.co.id MEMPERMUDAH pelayanan ke para nasabah sekaligus memperlebar sayap bisnis di Riau, Bank...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailJalan Sudirman Ditutup Satu Jalur

Jumat, 21 November 2008

Mulai 07.00 s/d 13.00 WIB Laporan MUSLIM NURDIN dan RPG, Kota redaksi@riaupos.co.id UNTUK melancarkan pelaksanaan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau terpilih H Rusli Zainal SE dan...

Simak Juga