| Musim Pemimpin |
| Rabu, 20 Agustus 2008 | |
|
Oleh Haris Jumadi
Tahun 2008-2009 ini merupakan tahun yang penuh dengan dinamika politik. Bagaimana tidak, tahun yang akan dilalui ini merupakan tahun yang penuh pemilihan pemimpin, baik tingkat lokal dan nasional. Wacana suksesi ataupun pergantian pemimpin mulai sering terdengar, baik di tingkat politisi, pengamat sampai menjadi pembicaraan hangat di warung kopi. Namun tentu kita sebagai masyarakat harus jeli dan cermat menghadapi keadaan ini. Jangan sampai terjebak dengan rayuan manis para politisi yang memang pintar untuk mengambil hati masyarakat agar terpilih kelak. Mengenai perlunya ada pemimpin ditegaskan Rasulullah SAW: ‘’Apabila berangkat tiga orang dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antaranya menjadi pemimpin’’ (HR Abu Dawud). Dalam ajaran Islam, seorang pemimpin dituntut mampu menampilkan kepribadian yang ber-Akhlaqul Karimah (memiliki moralitas yang baik). Lihatlah betapa banyak saat ini para pemimpin dan pejabat yang katanya mewakili suara masyarakat ternyata sikapnya tidak memcerminkan itu semua. Betapa banyak saat ini para wakil masyarakat yang terlibat korupsi karena terlena dengan duniawi. Qona’ah (sederhana), sifat sederhana ini mulai jarang kita temui dalam diri pemimpin dan pejabat. Betapa tidak perilaku dan gaya hidup mewah telah merasuki diri mereka. Lihatlah berbagai fasilitas yang diterima dan telah diberikan begitu mewah padahal masih terlalu banyak masyarakat yang untuk makan saja masih merasa susah. Tidaklah para pemimpin dan para penyambung lidah rakyat itu merasa malu, hidup bermewah-mewahan sementara kehidupan masyarakat kian memprihatinkan. Tingkah pejabat hidup berkecukupan cenderung berlebihan banyak kita saksikan di bumi Melayu ini. Kemudian diperlukan juga sikap Istiqomah (konsisten/tidak ambivalen). Konsisten dalam arti kata kalau sudah terpilih itu tentu harus mengutamakan kepentingan rakyat jangan lagi mengutamakan kepentingan pribadi, golongan maupun partai. Sedangkan berdasarkan teladan Nabi Muhammad SAW adalah Siddiq artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan. Sesuatu itu harus disampaikan walaupun terasa pahit. Kejujuran seakan menjadi barang langka yang dapat kita temukan dalam diri manusia yang katanya mewakili dan menjadi pemimpin masyarakat. Memutar balikkan fakta berdalih untuk kepentingan rakyat sudah menjadi hal yang biasa dilakukan untuk memperkaya diri maupun golongan. Fathonah artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan profesional. Seorang pemimpin harus cerdas, ini tentu merupakan syarat yang jelas diperlukan karena tanpa kecerdasan dan profesional bagaimana mau membawa masyarakat menuju adil dan makmur. Berbagai persoalan yang komplek dan menahun tentu memerlukan solusi dan pemecahan yang cerdas sehingga keadaan masyarakat tidak kian terpuruk. Amanah artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. Ketika berbicara amanah mungkin sudah terlalu sulit menghitung betapa banyak kekecewaan yang didapat oleh masyarakat. Para pemimpin sebelum menjadi pemimpin telah memperdaya masyarakat dengan janji-janji manis yang sayangnya setelah terpilih janji itu tinggallah janji. Memang kita pun sebagai masyarakat hendaklah janganlah terlalu mudah terpedaya oleh janji para pemimpin. Masyarakat hendaknya dapat lebih arif dan bijaksana dalam menentukan bahwa saat ini janji bukanlah lagi menyenangkan tapi bukti yang utama. Tabligh artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif. Memang ironis, sangat banyak bacaan, sangat banyak referensi, banyak pula perbandingan yang boleh dipetik dari kesalahan-kesalahan, tetapi kita terpuruk dalam wilayah krisis kepemimpinan. Bahkan dalam setiap ajang pemilihan yang paling demokratis pun untuk memilih pemimpin baik di ranah nasional maupun lokal, kita gagal menghadirkan sosok pemimpin yang terbaik. Sangat disayangkan memang kita yang merasa bangsa yang besar namun pada kenyataannya belum lagi dapat berbuat banyak. Bangsa ini terkenal dengan predikat-predikat yang negatif, memalukan memang, namun inilah kenyataannya, dan kita nampaknya masih terus terlena dengan keadaan seperti ini. Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai momentum bangsa akan melahirkan pemimpin, baik pemimpin nasional maupun lokal (Pilkada), apakah figur baru atau lama. Pemilu juga akan menghasilkan wakil rakyat, apakah wajah baru atau stok lama. Kita sudah merasakan bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa selama masa transisi. Kita bisa menghitung sisi positif dan negatif, kemajuan dan kemunduran bahkan, stagnasi yang terjadi. Kita tentunya telah belajar banyak selama ini, namun apakah pelajaran itu akan dapat kita petik hikmahnya atau hanya sia-sia saja yang kita dapat. Maju-mundurnya suatu bangsa ditentukan pemimpinnya. Tapi jangan lupa, munculnya seorang pemimpin amat terkait dengan kualitas bangsa secara keseluruhan. Pemimpin yang dihasilkan masih banyak tidak berani, kebanyakan keputusan yang dilakukan merupakan keputusan politik yang tentunya mempertimbangkan untung dan rugi tidak merupakan keputusan yang berdasarkan suara rakyat. Bangsa yang berjiwa besar dan bertekad maju, mustahil melahirkan pemimpin berjiwa kerdil dan berorientasi jangka pendek. Bangsa yang ingin mewujudkan cita-cita para founding fathers, akan memilih pemimpin yang mampu mewujudkan tekad luhur itu. Sebaliknya bangsa pemalas, tak produktif, dan orientasinya mencari kekuasaan yang bersifat egoistik, mustahil akan memilih pemimpin yang suka bekerja keras dan mendahulukan kepentingan rakyat. Bangsa yang menjunjung agenda reformasi demi terwujudnya negara yang makmur dan bersatu, yang berdaulat dan berwibawa di mata bangsa lain, pasti akan memilih sosok pemimpin mampu memenuhi harapan itu. Budayawan Riau, Tenas Effendy, menegaskan ungkapan bahwa pemimpin adalah orang yang dituakan oleh kaum dan bangsanya, ‘’Yang didahulukan selangkah, yang ditinggikan seranting, yang dilebihkan serambut, yang dimuliakan sekuku.’’ Ungkapan ini dengan tegas menunjukkan, bahwa antara pemimpin dan masyarakatnya jaraknya hanya sekadar ‘’Dahulukan selangkah dan ditinggikan seranting,’’ sehingga mudah dijangkau dan dihubungi. Bahkan dalam ungkapan adat yang lain ditegaskan lagi, ‘’Jauhnya tidak berjarak, dekatnya tidak berantara.’’ Dengan demikian akan terjalin hubungan yang akrab antara pemimpin dengan masyarakatnya, sebagaimana ungkapan ‘’Bagaikan aur dengan tebing.’’ Kekuasaan dan kepemimpinan sesungguhnya merupakan amanah dari rakyat. Bila sang pemimpin memperoleh kekuasaan maka kekuasaan itu haruslah dipergunakan sebaik-baiknya untuk peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat. *** H Haris Jumadi SE MM; Wakil Ketua ICMI Kota Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




