| 31 Agustus, Depag Sidang Penetapan Awal Puasa |
| Senin, 18 Agustus 2008 | |
|
JAKARTA (RP) - Kepastian jatuhnya 1 Ramadan versi pemerintah bakal diketahui akhir bulan ini. Departamen Agama (Depag) memastikan akan menggelar sidang penetapan awal Ramadan setelah putusan sidang isbat pada 31 Agustus mendatang.
‘’Tahun ini kemungkinan besar umat Islam di Indonesia awal puasanya sama,’’ kata Nasaruddin kepada wartawan di sela pembukaan Pemilihan Keluarga Ssakinah dan Kepala KUA Teladan dan Rakernas Badan Penasehatan Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4), kemarin. Sidang isbat yang digelar di Departemen Agama akan diikuti anggota Badan Hisab dan Rukyat, pimpinan ormas-ormas Islam, dan sidang tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni. Dirjen mengatakan, ketinggian hilal saat di tanah air saat pengamatan pada akhir bulan Syakban mencapai angka 3 derajat di atas ufuk, di bagian barat. Sedangkan di bagian timur 5 derajat di atas ufuk. Artinya, kemungkinan hilal akan bisa dirukyat cukup besar. ‘’Kemungkinan bisa dirukyat,’’ kata Dirjen seraya berharap pada saat pengamatan nanti langit di tanah air dalam kondisi yang cerah. ‘’Tapi kalau cuaca mendung bisa mengundang masalah, sebab bisa terhalang. Kalau cerah dengan mata telanjang saja terlihat,’’ ujarnya. Menanggapi keputusan salah satu ormas Islam yang menetapkan bahwa awal Ramadan melalui perhitungan hisab hakiki wujudul hilal jatuh pada 1 September, Nasaruddin menghargai keputusan itu. Namun, menurut dia, keputusan yang mengikat bagi masyarakat muslim di Indonesia tetap dilakukan setelah sidang itsbat oleh pemerintah dalam hal ini Depag. Menurutnya, fiqh telah mengatur persoalan yang bersifat kemasyarakatan perlu dan dibenarkan adanya campur tangan pemerintah (ulil amr) untuk mencapai kemaslahatan umum. Oleh sebab itu, persoalan penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah dipandang perlu adanya campur tangan pemerintah. Untuk diketahui, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1429 Hijriah jatuh pada 1 September 2008. Keputusan tersebut merupakan hasil penghitungan dengan metode hisab hakiki yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah 11 Agustus lalu. Penetapan itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam maklumat bernomor 04/MLM/I.0/E/2008. Selain awal Ramadan, PP Muhammadiyah juga menetapkan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Oktober 2008. Menurut lampiran dalam maklumat tersebut, ijtimak (konjungsi pada awal Ramadan, red) menjelang Ramadan 1429 H terjadi pada Ahad Legi, 31 Agustus 2008, pukul 02.59.48 WIB. Tinggi hilal pada saat terbenam matahari di Jogjakarta plus 5 derajat, 27 menit, 57 detik, sehingga hilal sudah dinyatakan wujud. Di seluruh Indonesia, pada saat matahari terbenam itu, hilal sudah berada di atas ufuk. Berdasarkan penghitungan tersebut, akhirnya hari permulaan puasa ditetapkan jatuh pada Senin Pahing, 1 September 2008. Sedangkan Idul Fitri 1429 H ditetapkan jatuh pada Rabu Pahing, 1 Oktober 2008. Dengan demikian, menurut PP Muhammadiyah, puasa Ramadan tahun ini akan berjumlah 30 hari. Berbeda dengan Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) memilih menunggu hasil sidang Istbat yang digelar Departemen Agama pada 31 Agustus depan. Ketua Lajnah Falakiyah PB NU KH Ghazali Masroeri menyatakan, PB NU mungkin tidak akan mengumumkan awal puasa Ramadan sebagaimana yang dilakukan PP Muhammadiyah.(zul/agm/jpnn) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




