Sabtu, 22 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Kita Sudah Merdeka?
Minggu, 17 Agustus 2008
Oleh Afrizal
Di rumah kita telah tegak tiang bendera dan umbul-umbul merah putih, di lingkungan RT dan RW kita telah muncul beragam kegiatan perlombaan. Mulai dari lomba yang biasa saja sampai pada lomba yang tidak biasa atau tidak lazim dibuat orang, seperti main bola pakai kain sarung dan sebagainya. Di jalan-jalan para pedagang menghiasi pinggir jalan untuk berjualan bendera dan umbul-umbul guna untuk menampung semangat kemerdekaan yang menggebu-gebu dari masyarakat hingga tidak susah-susah mencari bendera. Setiap persimpangan lampu merah juga ada yang menjual atribut-atribut semangat kemerdekaan, walaupun kadang-kadang sangat mengganggu arus lalu lintas.

Tidak terasa sudah 63 tahun negara Republik Indonesia merayakan hari kemerdekaan, hari yang dinanti-nantikan. Karena pada hari itu telah terjadi sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Hari yang bangsa Indonesia lepas dari cengkeraman penjajah yang mengekang, menghambat bangsa indonesia untuk bebas dalam hidup, berkarya dan sebagainya. Panglima Besar Sudirman dengan ikhlas meninggalkan keluarganya untuk berjuang walaupun dalam keadaan sakit tetap bergerilya dalam memimpin perang. Bandung lautan api, arek-arek Suroboyo serta kisah-kisah lain senantiasa mengisahkan para pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang tercinta ini. Intinya untuk meraih itu semua mereka para pahlawan telah mengorban apa bisa mereka korbankan baik harta, jiwa dan keluarga mereka.

Sekarang Indonesia telah merdeka, tidak perlu lagi berperang melawan penjajah, tidak perlu lagi memanggul senjata. Kita bebas melakukan apa saja tanpa ditekan dan didikte negara lain, kita bebas berkarya, bebas segalanya. Kita bebas memanfaatkan semua kekayaan alam yang Allah ciptakan serta bebas juga memanfaatkan sumber daya alam tersebut untuk kepentingan kita.

Kita bebas untuk mendapat pendidikan yang layak dari negara, kita juga bebas untuk mendapatkan pendidikan gratis dari negara, anak telantar dan pengemis juga berhak mendapat pemeliharaan dari negara, masyarakat juga bebas untuk mendapat pelayanan yang prima dari birokrasi pemerintah, masyarakat bebas untuk memilih siapa calon yang terbaik menjadi pemimpin tanpa disogok dan dibayar, para calon pemimpin juga bebas untuk tidak membayar dan menyogok calon pemilih. Itu semua merupakan hal-hal yang harus dilakukan dalam mengisi kemerdekaan.

Rakyat Indonesia hari ini memaknai kemerdekaan dengan berbagai pemahaman sehingga berdampak kepada berbagai tindakan yang dilakukan. Kemerdekaan dipahami sebagai kebebasan tetapi dalam pelaksanaan dan tindakan menjadi kebablasan. Dahulu rakyat Indonesia berjuang untuk menggapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing, tetapi sekarang manusia berjuang demi mencapai kebebasan dari kekangan norma, nilai kebaikan. Manusia hari ini sangat mudah membuat tampilan dan alasan kemanusian serta hak azazi manusialah namanya dengan membuat prilaku dan kebijakan aneh dengan alasan kebebasan. Bahkan mereka juga ingin merdeka dari aturan agama. Na’uzubillah minzalik.

Pusat pelacuran yang menjadi penyakit masyarakat dan sangat dilarang agama, bukan untuk dibasmi dan disuruh pelakunya bertaubat, malah dilokalisasikan dan dipertahankan keberadaannya. Bahkan baru-baru ini nyaris dibuat acara besar dengan mengundang artis ibu kota di daerah lokalisasi yang ada di negeri Melayu yang beragama ini dalam rangka memeriahkan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Untung masih ada sebagian manusia menolak agenda tersebut.

Setiap kemerdekaan yang diraih pasti ada para pejuang dan pahlawan yang selalu hadir hingga tujuan itu tercapai. Begitu juga dengan kemerdekaan yang ditafsir kan secara aneh oleh orang-orang merusak makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Para pahlawan kemerdekaan nafsu bermunculan di sana-sini. Ada pahlawan yang berjuang untuk para pezina dengan melegalkan tempat-tempat prostitusi. Mereka menganggap para penjaja seks merupakan pekerjaan yang perlu dilindungi, jika dibasmi atau ditiadakan akan melanggar hak azazi manusia. Ada juga yang berjuang untuk kaum gay, waria dan lesbian. Selain itu korupsi juga ada pejuangnya dengan berusaha meringankan hukuman terhadap para pelaku sehingga tidak menimbulkan efek jera dan terus melahirkan para koruptor baru.

Lumrahnya para pejuang dalam meraih kemerdekaan pasti ada senjata yang digunakan. Pejuang kemerdekaan Republik Indonesia menggunakan bedil, senapan dan bambu runcing dalam berjuang, para pejuang kemerdekaan nafsu menggunakan media massa, televisi, sinetron, infotainment dalam meraih tujuannya. Senjata yang digunakan para pejuang kemerdekaan nafsu membuahkan hasil walaupun tanpa deklarasi dari para pahlawan dan pejuangnya sebagaimana Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Jelas, permasalahan salah dalam mengartikan kemerdekaan sangat meresahkan masyarakat Indonesia. Kriminal, prilaku seks bebas, moral yang rendah merupakan salah satu produk dari salah mengartikan kemerdekaan menghiasi kehidupan kita hari ini. Semua permasalahan ini pasti ada penyebabnya. Jauhnya manusia dari norma agama dan nilai hukum menjadikan hidup mereka tidak beraturan. Serangan Barat berupa perang pemikiran dengan memisahkan antara agama dengan kehidupan bernegara (sekuler) menjadi penguat lemahnya pengamalan manusia akan nilai kebaikan. Agama yang seharusnya mengawal manusia dalam setiap tindakan hanya dijadikan simbol. Seolah-olah agama hanya yang berhubungan dengan masjid, salat, puasa dan zakat saja.

Oleh karena itu, wahai para pemuda. Mari kita merdeka dari segala bentuk ajakan nafsu kejahatan. Isi kemerdekaan ini dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Jangan jauhkan agama dalam kehidupan kita. Tuntutlah ilmu, sesungguhnya ilmu bisa menjaga kita dari hal-hal negatif. Kepada para pejuang kemerdekaan hawa nafsu, berhentilah untuk melakukan kesesatan. Mari kita syukuri nikmat kemerdekaan yang Allah berikan dengan memaknai kemerdekaan sebagai kemerdekaan dalam menjalankan kebaikan.***

Afrizal KH SIP, mahasiswa Pasca-sarjana Program Studi Ilmu Politik Konsentrasi Manajemen Pemerintahan Daerah Universitas Riau.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailBank Danamon Buka Cabang Baru

Jumat, 21 November 2008

Kucuran Kredit Capai Rp9 Triliun Laporan KARTINI FATTACH, Pekanbaru kartini-fattach@riaupos.co.id MEMPERMUDAH pelayanan ke para nasabah sekaligus memperlebar sayap bisnis di Riau, Bank...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailJalan Sudirman Ditutup Satu Jalur

Jumat, 21 November 2008

Mulai 07.00 s/d 13.00 WIB Laporan MUSLIM NURDIN dan RPG, Kota redaksi@riaupos.co.id UNTUK melancarkan pelaksanaan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau terpilih H Rusli Zainal SE dan...

Simak Juga