| Tiga Harimau Liar Masih di Limau Kapas |
| Minggu, 17 Agustus 2008 | |
|
BAGANSIAPIAPI (RP) - Tiga ekor harimau sumatera yang masih berkliaran bebas di sekitar Kepenghuluan Sungai Daun Kecamatan Pasir Limau Kapas ditengarai masih akan terus menjadi ancaman serius, terhadap keselamatan warga didaerah itu. Satu-satunya jalan penyelesaian masalah adalah secepatnya menangkap dan mengevakuasi ke tempat yang aman dan terlindungi.
“Ini soal keselamatan manusia. Cepat atau lambat, sudah pasti akan menimbulkan masalah baru terutama penyerangan-penyerangan seperti yang baru saja terjadi akhir pekan ini,” tukas Selamat,pawang harimau yang telah berkali-kali berhasil menangkap dan menjinakkan satwa liar itu baik di Kecamatan Palika, Bagansiapiapi maupun lainnya. Pria kurus dan terlihat tenang itu sesekali menyebut bahwa terjadi berbagai asumsi dan dugaan-dugaan yang kurang berdasar pasca penyerangan Jumat lalu. Dugaan seperti akan adanya penyerangan-penyerangan terhadap warga disebutkannya msih mungkin terjadi. Kemungkinan terbesar kalau harimau itu tengah hamil atau sedang punya anak kecil. “Harimau itu tidak jauh berbeda dengan manusia. Hanya terbanding karena ia adalah koloni hewan. Tetapi, soal prinsip mempertahankan hidup, manusia pun akan lebih beringas dari pada hewan hanya untuk soal makan,” sahut Selamat. Berbagai upaya yang dilakukan pihak terkait soal menangkap atau mengevakuasi harimau dinilai masih setengah hati. Malah ada kesan semata-mata disebabkan dana. Kerap warga merasa kecil hati ketika berbagai upaya yang dilakukan secara swadaya sama sekali luput dari hanya sekedar ucapan terima kasih. Lantas, satwa seperti harimau dibandrol terjamin undang-undang, tetapi menjadi musuh karena beringas dan buas. “Masyarakat terus bisanya berbuat apa. Coba kalau cepat-cepat diatasi, itu harimau ditangkap dan dievakuasi jauh dari pemukiman. Jelas semua permasalahan akan selesai,” sambung Selamat. Tetapi karena tidak ada gerakan yang pasti, diperparah rasa abai dan melepaskan jawabannya pada persoalan waktu, maka setiap waktu teror raja rimba itu akan terus terjadi. Meski korban-korban akan saling berjatuhan, tetap saja antisipasi maksimal tidak dapat dilakukan. “Jujur saja, kita kurang beruntung ketika masalah konflik antara harimau dan manusia terjadi tepat dimasa kita harus tenang dan tentram. Apalagi, ketika warga akan bertindak tegas, di hadapkan pada persoalan undang-undang yang dapat menyeret manusianya ke muka hukum. Ini prinsip gila dimana manusia semata-mata jadi korban tunggal,” tutup Selamat.(i) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




