Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Derita Romusha Tragedi Kemanusiaan
Minggu, 17 Agustus 2008
Wartawan tiga zaman, H Rosihan Anwar dalam laporan berjudul KA Maut Birma-Pekanbaru menulis, ketika masa penjajahan Jepang, berbagai suku bangsa di Asia, termasuk orang Jawa menjadi pekerja paksa atau romusha. Seperti untuk pembangunan rel kereta api sepanjang 415 km yang menghubungkan Birma - Thailand, Jepang  mempekerjakan sekitar 160.000 orang romusha dari Pulau Jawa. Dari jumlah ini, sekitar 80-90 persen di antaranya meninggal karena diperlakukan secara tidak manusiawi.

Laporan SUSETO, Dumai  Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
SEDANGKAN untuk pembangunan jaringan kereta api line Sumatera Tengah yang melintasi Sumatera Barat, Riau hingga ke Dumai,  wartawan Henk Hovinga dalam bukunya Eindstation Pekan Baru 1944-1945-Dodenspoorweg door het Oerwoud (1982), tercatat 6.764 bangsa Eropa sebagai tawanan perang sekutu yang dipekerjakan Jepang, sebanyak 2.596 orang di antaranya meninggal.

    Sementara yang didatangkan dari tanah Jawa untuk pembangunan kereta api line Sumatera Tengah, dari sekitar 100.000 orang romusha yang dipekerjakan, yang tersisa dan hidup hanya sekitar 20.000 orang. Ketika masa kemerdekaan,  romusha asal Jawa yang hidup  tersebar di berbagai daerah. Begitu pula di Dumai, banyak romusha dari Jawa juga meninggal karena selain kekejaman Jepang,  juga keganasan alam hutan belantara Dumai ketika itu.  

    Neraka Romusha, karya H Nahar Effendi dalam kumpulan buku Tujuh Penguak Tabir yang diterbitkan Dewan Kesenian Dumai (2005) disebutkan, romusha yang dipekerjakan secara paksa di Dumai selain berasal dari Jawa juga ada 100-an laki-laki, perempuan dan anak-anak yang diambil paksa oleh tentara Jepang dari Pulau Rupat.

    Pekerjaan romusha di Dumai, terbagi untuk bagian jalan dan besi yang kerjanya membangun rel kereta api dan tangki minyak, serta ada juga romosha yang tugasnya di bagian pertanian. Karena perlakuan Jepang yang tidak manusiawi, ribuan romusha yang dipekerjaan di Dumai sebagian besarnya juga meninggal. Sedangkan yang hidup setelah kemerdekaan, sebagian memilih menetap dan turut membuka hutan belantara, berladang dan membuka kampung di Dumai.

    Untuk pembangunan kereta api, Jepang mencabuti sistem rel ganda kereta api yang menghubungkan Surabaya-Malang, Yogya-Solo,  Jakarta-Cikampek untuk dibawa ke lokasi. Begitu pula ratusan lokomotif dan gerbong barang juga diangkut dari tanah Jawa. Artinya semasa penjajahan Jepang, ratusan ribu jiwa bersama rel dan lokomotif diangkut meninggalkan tanah Jawa menuju Birma, Thailand dan line Sumatera Tengah. Sebagian besi untuk pembangunan rel kereta api ada yang diambil dari Singapura.

    Seperti yang dijalani H Marlan kelahiran 1914 asal Magetan, Jawa Timur, yang kini menjalani sisa-sisa kehidupannya di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Timur. Setelah tiga bulan dipekerjakan oleh Jepang di Dumai, Marlan bersama ratusan romusha lainnya diberangkatkan ke Singapura untuk mengumpulkan besi-besi. Besi-besi di Singapura kami pikul untuk dikumpulkan di pinggir pelabuhan dekat Bukit Baltis.

    Begitu pula kisah Ngadiyo, kelahiran tahun 1912 dari Gunung Kidul Yogyakarta, dalam Tracks of War (Jejak-jejak Perang) karya Jan Banning, fotografer asal Belanda. Setelah menjalani kerja paksa di Singapura, Ngadiyo lalu dipindah untuk membangun jaringan kereta api Birma-Siam. ‘’Kami disuntik agar tetap sehat, tapi makanannya begitu sedikit. Banyak orang mati karena kelaparan,’’ katanya.

    Jatah makanan untuk empat orang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang. Ada juga yang mati kena penyakit beri-beri kering atau basah, juga malaria atau batuk darah. Setiap hari tiga orang meninggal, lalu menjadi lima sampai sepuluh orang. Ratusan orang yang diberangkatkankan dari Singapura sekitar 70 orang yang selamat. Begitu pula Marlan bersama ratusan romusha lainnya dari Singapura yang dibawa kembali, juga banyak yang meningal di Dumai.

    Memang para romusha tersebut disuntik agar tetap sehat, tapi  banyak yang meninggal selain berbagai penyakit juga kelaparan. ‘’Ada teman yang sedang sakit, kami disuruh mengubur. Ketika itu teman tadi bilang, saya belum mati. Tapi kami harus menguburnya, jika tidak kami bisa mati,’’ kata Sardi, lelaki kelahiran 1928 asal Deesa Candisari, Grobogan, Jawa Tengah juga menjadi romusha di jalur kereta api Muara Sijunjung-Pekanbaru.

    Jumlah tentara Jepang waktu itu memang sedikit, tetapi untuk mengawasi pekerja romusha mereka dibantu para mandor dari Korea, Taiwan (Formosa) dan Mansyu. Ketiga bangsa jajahan yang diperbantukan Jepang ini lebih kejam.

    Sisa-sisa pembangunan rel kereta api di Dumai beberapa waktu lalu sempat dapat ditemui di sekitar Bukit Jin sekarang. Begitu pula bedeng-bedeng beratap rumbia berdinding nibung untuk menampung romusha, dulunya berlokasi di sepanjang pelabuhan Seismic dan sekitar persimpangan Jalan Sultan Syarif Kasim-Jalan Sukajadi Dumai.  Begitu pula perkuburan romusha yang tersebar di berbagai tempat di Dumai juga masih dapat ditelusuri.

    Sudah saatnya nilai-nilai sejarah para pendahulu ini digali kembali untuk menjadi pegangan anak cucu kita di kemudian hari.  Karena ribuan bahkan jutaan nyawa orang Jawa sudah terkubur di Siam-Birma dan Sumatera Tengah, termasuk Dumai untuk membangun jaringan kereta api. Sayang rasanya jika cucuran keringat, darah, dan nyawa mereka jika suatu saat jejaknya lenyap begitu saja seiring dengan makin uzurnya usia sisa-sisa romusha.

    Pembangunan kereta api antara Pekanbaru-Muara-Sijunjung, yang panjangnya sekitar 220 kilo meter itu rencananya untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto ke Shonanto-Singapura. Pembangunannya dimulai tahun 1944 dan selesai 15 Agustus 1945 bersamaan dengan hari Dai Nippon menyerah setelah Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh Amerika.

    Meskipun Panglima Tentara ke-25 Dai Nippon yang bermarkas di Singapura dan bertanggung jawab atas pemerintah balatentara Dai Nippon di Singapura, Malaka, Borneo Utara dan Sumatera yaitu Letjend Morotaki Tanabe dihukum mati oleh pengadilan militer Belanda di Medan tanggal 30 Desember 1948, namun sejarah pahit kekejaman Jepang belum pupus dari ingatan bangsa kita.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailBank Danamon Buka Cabang Baru

Jumat, 21 November 2008

Kucuran Kredit Capai Rp9 Triliun Laporan KARTINI FATTACH, Pekanbaru kartini-fattach@riaupos.co.id MEMPERMUDAH pelayanan ke para nasabah sekaligus memperlebar sayap bisnis di Riau, Bank...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailJalan Sudirman Ditutup Satu Jalur

Jumat, 21 November 2008

Mulai 07.00 s/d 13.00 WIB Laporan MUSLIM NURDIN dan RPG, Kota redaksi@riaupos.co.id UNTUK melancarkan pelaksanaan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau terpilih H Rusli Zainal SE dan...

Simak Juga