| Caleg Artis dan Kebangkrutan Partai |
| Kamis, 14 Agustus 2008 | |
|
PADA musim pencalegan ini, gelombang artis yang masuk daftar caleg (calon legislatif) kian banyak. Gelombang itu seakan melengkapi langkah sejumlah partai yang mencalonkan artis dalam pemilihan kepala daerah.
Sekilas, tidak ada masalah atas fenomena tersebut. Mengingat, sebagai warga negara, artis juga memiliki hak memilih dan dipilih. Apalagi bila sang artis memang orang yang sudah lama berkecimpung di dunia politik, baik sebagai kader partai maupun sebagai sosok yang memang aktif dalam dunia pergerakan (kemasyarakatan). Sayang, tidak semua artis yang direkrut menjadi caleg atau calon dalam pilkada memiliki kriteria itu. Sebagian di antara mereka direkrut hanya karena ketenarannya sebagai artis. Sang artis benar-benar seorang artis yang dekat dengan kegelamoran, tidak terlihat kepeduliannya kepada masalah-masalah kemanusiaan dan sebagainya. Bila kasus kedua itu yang terjadi, kita patut menyayangkannya. Sebab, hal tersebut menunjukkan kemerosotan partai yang mencalonkan. Partai itu hakikatnya partai bangkrut yang tidak lagi memiliki sesuatu yang berharga untuk dijual kepada rakyat. Sebuah partai politik akan berharga bila keberadaannya mendatangkan manfaat bagi rakyat. Ketika rakyat sedih, partai politik datang untuk menemani, bahkan memberikan solusi. Ketika rakyat mulai kehilangan harapan hidup, partai pun akan datang dengan membawa harapan baru. Kini, yang terjadi memang berbeda. Jarak antara partai dan rakyat cenderung kian jauh. Ketika BBM naik dan rakyat bertangisan, misalnya, partai seakan diam seribu bahasa. Mereka tidak mencoba menemani. Bahkan, yang lebih tragis lagi, wakil mereka di Senayan tidak malu mengajukan kenaikan gaji terkait dengan kenaikan BBM tersebut. Begitu juga dengan gaya hidup para kader partai, baik yang di Senayan (jadi anggota DPR) dan DPRD atau tidak. Mereka acap kali mempertontonkan kemewahan di depan rakyat yang kelaparan. Seakan, rasa empati kepada rakyat yang mereka wakili sudah mati. Yang lebih menyakitkan lagi, harta benda mewah yang dipamerkan itu tidak jelas asal usulnya. Dalam arti, harta benda tersebut lebih mewah daripada penghasilan yang mereka peroleh dari posisinya sebagai wakil rakyat. Padahal, rakyat mengetahui bahwa sang legislator itu bukanlah berasal dari keluarga berada yang memiliki pundi-pundi kekayaan berlipat atau memiliki sejumlah perusahaan yang setiap bulan memproduksi uang. Kondisi tersebut tentu sangat menyakitkan rakyat. Dengan demikian, ke depan, tentu sangat berat bila rakyat harus menyerahkan amanat perwakilannya kepada mereka. Nah, dalam konteks ini, agaknya, sejumlah partai berusaha menggaet artis sebagai umpan. Mereka berusaha mengelabui rakyat dengan wajah mulus para artis. Mereka tidak peduli, apa yang bisa diberikan para artis nanti ketika sudah duduk di Senayan. Itu beda dengan partai yang selama ini konsisten menjalankan amanat rakyat. Ketika pemilu tiba, partai tersebut bisa menjual konsistensi itu untuk meraih dukungan. Kini, kita tinggal berharap, semoga rakyat pada pemilu mendatang sudah cukup cerdas untuk memilih dan menentukan pilihan. Dengan demikian, mereka tidak mudah dijebak dan diming-imingi ‘’kemulusan’’ seorang artis semata.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




