| BI: Ekonomi 2009 Lebih Cerah |
| Kamis, 14 Agustus 2008 | |
|
Laporan JPNN, Jakarta
Perlahan tapi pasti, perekonomian nasional diperkirakan terus membaik. Tekanan inflasi akibat tingginya harga minyak pada awal tahun ini, diperkirakan tidak akan berlanjut pada 2009. Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mengatakan, dari beberapa parameter perekonomian yang ada, kondisi 2009 memang akan lebih baik. ”Saya kira akan lebih cerah,” ujarnya saat ditanya proyeksi overview perekonomian nasional tahun depan, usai acara Annual Report Award 2007 di Jakarta kemarin malam (12/8). Menurut Boediono, salah satu parameter perekonomian yang jadi acuan adalah tingkat inflasi yang diperkirakan masih single digit dan berada pada kisaran 6,5 – 7,5 persen. ”Itu sasaran kita. Insya Allah pertengahan tahun depan tercapai,” katanya. Boediono juga masih optimistis dengan kondisi perekonomian tahun ini. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi semester I tahun ini diperkirakan masih bisa mencapai angka 6 persen. ”Saya dengar cukup baik. Tapi untuk data pastinya, nanti tunggu pengumuman BPS (Badan Pusat Statistik, red),” terangnya. Ketika ditanya apakah penurunan harga minyak dunia akan memberikan pengaruh signifikan bagi inflasi tahun ini, Boediono mengatakan, asumsi inflasi saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Apalagi, lanjut dia, harga bahan bakar minyak (BBM) konsumsi masyarakat sudah dipatok. Sehingga, penurunan harga minyak baru akan berpengaruh ke inflasi ketika berpengaruh pada penurunan harga pangan dan transportasi. ”Kita berharap, moga-moga inflasi bisa turun,” tuturnya. Dihubungi terpisah, Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, perekonomian 2009 memang bakal lebih cerah dibanding 2008. ”Proyeksi kami, inflasi bakal turun dan pertumbuhan ekonomi bakal lebih tinggi,” ujarnya. Menurut Fauzi, jika laju inflasi tahun ini diperkirakan bisa double digit dan menembus 12 persen, maka inflasi tahun depan diperkirakan akan berada di angka 7 persen. Sedangkan untuk parameter pertumbuhan ekonomi, kata dia, jika tahun ini diperkirakan hanya mentok di angka 6,0 persen, maka tahun depan diperkirakan bisa naik tipis di angka 6 persen. Untuk harga minyak dunia, Fauzi memperkirakan tidak akan meroket liar seperti pertengahan tahun ini yang sempat menembus 147 dolar AS per barel. Menurut dia, rata-rata harga minyak tahun depan bisa berada di kisaran 100 per barel. ”Bahkan, kalau fundamentalnya bagus, bisa di kisaran 90 dolar AS per barel,” katanya. Bagaimana dengan efek Pemilu 2009? Menurut Fauzi, agenda lima tahunan itu tidak akan menjadi sentimen negatif bagi perekonomian 2009. Sebab, lanjut dia, belajar dari pengalaman Pemilu 2004 dan beberapa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), terutama di Jawa, yang berlangsung damai, maka kekhawatiran investor mulai teredam. Selain itu, kata Fauzi, hingga saat ini peta politik nasional masih menempatkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri di urutan teratas calon pemimpin nasional. Menurut dia, hal itu tidak menjadi sentimen negatif. Sebab, kebijakan ekonomi SBY dan Megawati saat menjabat sebagai RI 1 relatif sama. ”Ini terlihat dari peran Pak Boediono (Gubernur BI, Red) yang masih menjadi tokoh sentral perekonomian nasional. Kontinuitas seperti ini sangat penting bagi investor,” paparnya. Satu-satunya hal negatif yang bisa menekan perekonomian pada 2009 adalah tren penurunan harga komoditas di pasar internasional. Hal ini, kata Fauzi, disebabkan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih didominasi oleh saham-saham emiten yang mengandalkan komoditas. Sehingga, anjloknya harga komoditas bisa berpengaruh pada kinerja pasar modal secara umum. ”Jadi, ini mesti jadi perhatian juga. Tapi, overall 2009 masih cukup menjanjikan,” pungkasnya.(owi/fan/fiz/jpnn) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




