| Suami Memukul, Teman Wanitanya Menjambak |
| Rabu, 13 Agustus 2008 | |
|
* Kasus Kekerasan Pejabat Kuansing pada Istrinya
AIRMATA Shanty tak terbendung, ketika majelis hakim yang terdiri dari Wasdi Permana sebagai hakim ketua dan Endang sebagai hakim anggota, bertanya apakah ia bisa memaafkan suaminya yang kini menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap dirinya. Laporan Monang Lubis, Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Sebelum kasus penganiayaan yang dilakukannya bersama wanita yang diduga kuat simpanannya sampai ke pengadilan, ia sebagai istri masih tetap mencintainya. Tapi sikap suaminya yang tidak pernah mau mengakui perbuatannya telah menganiaya, membuatnya memutuskan untuk melaporkannya ke kepolisian. ”Tujuannya sangat sederhana, agar ia bisa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,” sebut Shanty sambil menyeka air matanya yang terus merembes di pipinya. Sementara ketika itu, ruang sidang Pengadilan Negeri Pekanbaru tengah ramai dan terdakwa, dalam kasus itu adalah suami Shanty bernama Delis Martoni-biasa dipanggil Toni-juga salah seorang pejabat di Pemkab Kuansing dan wanita yang disebut Shanty sebagai simpanannya bernama Rini Lestari. Shanty yang menjabat sebagai salah seorang Kepala Seksi di Pemkab Kuansing menjelaskan, penganiayaan itu berawal ketika ia mencuci mobilnya di salah satu pencucian mobil di Jalan Riau pada April 2008 lalu. Saat itu ia baru saja mengambil mobilnya dari bengkel. Ia bersama dua stafnya menunggu mobilnya selesai dicuci. Ketika itulah ia melihat mobil suaminya. Menunggu beberapa waktu tidak ada yang turun dari dalam mobil, ia mendekat dan membuka pintu belakang sambil melongok ke dalam mobil. Tak disangka, ternyata suaminya tengah bersama seorang wanita muda. Melihat hal itu, korban mencoba meminta penjelasan suaminya tentang apa yang dilihatnya, tapi malah hinaan yang diterimanya dari wanita yang bersama suaminya itu. Tidak tahan, akhirnya Shanty memaksa suaminya turun dari dalam mobil dan suaminya pun turun. Demikian juga dengan wanita yang bersama suaminya itu. Tapi wanita yang bersama suaminya bertahan dan mengatakan mobil itu miliknya. Saat Shanty sibuk memeriksa isi mobil, suaminya malah menjepitnya dengan pintu, sehingga membuat tubuhnya sakit semua. Tak lama berselang, wanita yang bersama suaminya ikut menyerang. Akibatnya penganiayaan yang dilakukan suaminya bersama wanita tersebut, membuatnya terjengkang dari dalam mobil karena dia dijambak dan dipukuli, hingga badannya lebam-lebam bahkan salah satu jari tangannya patah. Bahkan akibatnya, dia sampai terseret ke luar mobil. ”Untung dua staf saya datang melerai, kalau tidak saya tidak tahu apa yang terjadi, sebab saat itu saya sudah pasrahkan diri pada Allah, karena leher saya dipelintir dan sulit bernafas,” ungkapnya sambil tercekat menahan kepedihan hatinya. Tak terima perlakukan itu, Shanty melaporkan kasus ini ke Poltabes Pekanbaru dan berharap kasus tersebut dapat menjadi pelajaran bagi suaminya, yang tetap tidak mengakui penganiayaan yang telah dilakukannya. Shanty masih dalam tangisnya berucap, ia sudah berusaha menjemput suaminya yang sudah asik dengan dunia malamnya. Tapi malah perlakuan kasar yang diterimanya. Padahal ia sangat ingin kejelasan dari suaminya. Jika memang tidak memungkinkan hubungan mereka dilanjutkan, ia tidak ada-apa, yang terpenting baginya ada penjelasan. Tapi ketika itu disebutkannya, suaminya tetap bertahan tidak mau menceraikannya. Bahkan sebaliknya memfitnahnya ada ‘main’ dengan bawahannya. Tapi setelah dipergokinya suaminya bersama wanita idaman lain, dia malah dianiaya. Saat Wasdi Permana sebagai hakim ketua menanyakan pada Rini Lestari apakah menerima seluruh penjelasan Shanty, Rini menyebutkan hanya menerima sebagian,” Tapi kalau menjambak memang betul, kami memang saling jambak,” sebutnya. Demikian halnya juga dengan Toni, ia malah membantah seluruh pengakuan Shanty.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




