| Sabar Hadapi Musibah |
| Rabu, 13 Agustus 2008 | |
|
Memasuki pekan kedua di Bulan Agustus ini, nampaknya masyarakat di Bumi Lancang Kuning ini harus lebih sabar menghadapi berbagai musibah. Terutama yang terjadi di daerah-daerah dan pelosok desa di kabupaten/kota.
Dalam catatan Riau Pos, ada beberapa hal yang terjadi-walau pengulangan hampir setiap tahun-sehingga masyarakat mengeluh. Pertama, meninggalnya Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Djaenuddin Nare. Masyarakat Riau patut bersedih karena kehilangan salah satu pemimpin di daerah ini. Kedua, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kejadian ini sudah berlangsung lama. Misalnya di Kabupaten Rokan Hulu, Ujungbatu dan Pasir Pengaraian. Antrean kendaraan yang akan mengisi BBM di kawasan ini hampir terjadi setiap hari. Bahkan antrean itu sudah sampai mengganggu jalan raya yang menjadi fasilitas umum. Kejadian yang lebih miris dan berdampak sangat luas, terjadi di Pulau Rangsang, Bengkalis. Karena kelangkaan solar, banyak nelayan tidak bisa melaut untuk mencari nafkah keluarga mereka. Peristiwa serupa juga terjadi Rengat, Indragiri Hulu. Bahkan antre di SBPU sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Ketiga, pemadaman listrik PLN. Dari pemadaman satu kali dalam satu hari selama satu jam, kini meningkat sekali padam selama tiga jam. Berlanjut, pemadaman sudah terjadi dua kali dalam sehari selama tiga jam. Berbagai dampak telah dirasakan masyarakat, mulai dari materi hingga psikologis. Banyak hal yang harus dikorbankan karena pemadaman bergilir ini. Memang PLN sudah memberikan jadwalnya, sudah memberikan alasannya. Tentu sebagai masyarakat yang terus berharap harus banyak bersabar dan menganggap pemadaman ini menjadi musibah yang harus dihadapi dengan tabah. Tentu, tindakan ekstra perlu kita lakukan bersama. Dalam catatan Riau Pos, akibat pemadaman listrik terjadi kebakaran karena arus pendek atau penggunaan lilin dan lampu minyak tanah. Keempat, asap. Beberapa kawasan seperti Bengkalis, Rokan Hulu, Siak, Rokan Hilir, Indragiri Hulu dalam pantauan pihak terkait telah terdapat titik api atau terjadi pembakaran lahan yang menyebabkan timbulnya asap tebal. Bahkan beberapa kawasan seperti Pekanbaru, asap terjadi bukan karena terjadi kebakaran lahan di Pekanbaru, tapi karena kiriman dari daerah-daerah. Kelima, kelangkaan pupuk. Bagi petani-petani yang memiliki lahan perkebunan, tentu dampak ini sangat terasa. Meskipun pemerintah sudah memberikan kebijakan dengan pupuk bersubsidi. Harga pupuk kini melambung dan sulit pula untuk mendapatkannya. Tentu ini adalah pukulan berat bagi kalangan petani kita. Kelima hal di atas cukup mewakili keresahan dan kegundahan hati masyarakat dalam pekan-pekan ini. Tentu, harus segera dicarikan. Dua hal penting yang dapat memberikan solusi yang tepat sehingga masalah selesai dan dampaknya bagi masyarakat bisa diatasi dengan cepat, yaitu dengan jalan: Pertama, pengayoman dan imbauan. Harus ada pihak-pihak yang memberikan imbauan kepada masyarakat agar dalam menghadapi berbagai masalah dan musibah ini, tabah. Kedua, upaya konkret. Selain masyarakat dianjurkan untuk terus bersabar, tentu harus ada upaya konkret yang ditawarkan pemimpin dan pihak-pihak yang berwenang dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat ini. Kita sangat berharap para pemimpin dan pihak-pihak terkait terus berbuat untuk mencari solusi terbaik. Jika berbagai persoalan ini terus terjadi, bagi masyarakat harus dianggap sebagai musibah, namun bagi pemimpin tentu tidak.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




