Sabtu, 22 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Wapres Cemberut Tonton Adegan Tersensor
Rabu, 13 Agustus 2008
JAKARTA (RP) - Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin mendapatkan suguhan istimewa. Selama sekitar setengah jam, Wapres menonton potongan adegan film yang digunting Lembaga Sensor Film (LSF).

Suguhan tersebut diberikan usai audiensi Wapres dengan praktisi film nasional di Gedung Film, Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. Sejumlah produser film, pengelola rumah produksi, dan sutradara tampak dalam pertemuan itu.

Usai pertemuan, Kalla yang didampingi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengunjungi ruang sinema di Lantai VIII Gedung Film. Meski bioskop itu berkapasitas lebih dari 100 kursi, namun LSF tidak memperkenankan satu pun wartawan untuk meliput. Soalnya, selama setengah jam itu, LSF memutarkan materi-materi film yang dipenuhi adegan ranjang yang sangat vulgar, kekerasan, dan adegan-adegan lain yang digunting oleh LSF, baik dari film impor maupun film produksi dalam negeri.

Ketika keluar dari ruang sinema, wajah Jusuf Kalla tampak tertekuk. Kalla yang jarang menampakkan wajah cemberut di muka umum kemarin tampak tak kuasa menahan diri. Ketika melewati kerumunan wartawan, Menbudpar Jero Wacik berusaha meredakan amarah Kalla. Dengan cepat dia menunjuk deretan poster film yang dipajang di depan ruang sinema.

Naas, Jero tampaknya tak memperhatikan poster yang dipamerkannya, karena dia justru menunjuk poster film-film horor produk lokal. Tak pelak, wajah Jusuf Kalla tampak tertekuk lebih dalam, karena poster yang ditunjukkan tak lain gambar mayat dan hantu di film Tiren (Mati Kemaren), Tali Pocong Perawan, Beranak Dalam Kubur, serta Kuntilanak Merah Terowongan Casablangka.

Kepada wartawan, Jusuf Kalla mengaku bersyukur pemerintah masih memiliki mekanisme sensor yang efektif menjaga perfilman nasional tetap sesuai norma sosial. ‘’Saya membayangkan sekiranya LSF tidak ada, tentu arah perfilman kita sangat lain,’’ katanya.

Menurut dia, sensor film bukan untuk membatasi munculnya film bermutu dan film yang laris di pasaran. Lembaga sensor tetap dibutuhkan karena tidak semua insan film bertanggung jawab dengan karya budaya yang dibuatnya. ’Kita mengapresiasi pertumbuhan film, tapi kita harus sinkronkan,'' katanya.(fal/jpnn)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailBank Danamon Buka Cabang Baru

Jumat, 21 November 2008

Kucuran Kredit Capai Rp9 Triliun Laporan KARTINI FATTACH, Pekanbaru kartini-fattach@riaupos.co.id MEMPERMUDAH pelayanan ke para nasabah sekaligus memperlebar sayap bisnis di Riau, Bank...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailJalan Sudirman Ditutup Satu Jalur

Jumat, 21 November 2008

Mulai 07.00 s/d 13.00 WIB Laporan MUSLIM NURDIN dan RPG, Kota redaksi@riaupos.co.id UNTUK melancarkan pelaksanaan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau terpilih H Rusli Zainal SE dan...

Simak Juga