Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Tambang Mulai Tumbang
Selasa, 12 Agustus 2008
Langkah sektor pertambangan dan komoditas kini mulai tertatih. Setelah mengalami masa-masa keemasan sepanjang 2007 dan awal 2008, mendekati tutup tahun performa kedua sektor itu mulai menukik. Contoh paling kasat mata adalah pergerakan harga sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saat ini hampir semua saham perusahaan tambang dan komoditas yang melantai di BEI harganya merosot tajam. Rata-rata terkoreksi 30-50 persen dari harga normal. Ambil contoh kinerja PT International Nickel Indonesia Tbk (Inco). Pada 2007, perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia itu melesat mencetak laba bersih Rp10,557 triliun.

Artinya, Inco bisa meraih laba bersih Rp29 miliar tiap hari. Harga sahamnya awal tahun ini masih di atas Rp9.000 per lembar. Tapi, pada semester pertama 2008, laba bersihnya sudah drop 58 persen dibanding 2007. Sementara harga sahamnya terjun menjadi Rp4.000-an per lembar.

Di sektor komoditas, performa produsen sawit mentah (CPO) PT Astra Agro Lestari Tbk bisa dijadikan contoh konkret. Pada awal tahun ini, harga saham perusahaan di bawah Grup Astra itu masih Rp35.000-an per lembar. Tapi, pada penutupan perdagangan Jumat (8/8) lalu, harga sahamnya sudah longsor ke Rp 18.000-an.

Itu belum emiten-emiten papan atas lain seperti PT Bumi Resources Tbk (batu bara), PT Aneka Tambang Tbk (nikel dan emas), atau PT London Sumatra Indonesia Tbk (CPO). Semua harga sahamnya terkoreksi tajam.

Selama ini dua sektor itu dan perbankan memang menjadi motor pasar modal. Tambang dan komoditas menjadi idola setelah tren harga minyak dunia terus menanjak. Harga saham perusahaan batu bara melonjak gila-gilaan karena menjadi bahan bakar alternatif selain minyak. Begitu pula saham CPO meroket seiring kenaikan harga pangan dunia dan tingginya permintaan untuk bahan bakar nabati.

Menurut catatan lembaga finansial internasional PricewaterhouseCoopers (PwC), kapitalisasi pasar perusahaan tambang melambung di atas 270 persen pada 2007. Lonjakan luar biasa itu ditopang tingginya permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama dari Asia. Ini mengikuti pertumbuhan ekonomi di wilayah regional yang terus melaju konstan.

Namun, itu hanya cerita manis di masa silam. Saat ini harga minyak terus menurun. Hal itu membuat harga batu bara ikut melemah. Buntutnya, pendapatan perusahaan batu bara juga merosot signifikan. Mengikuti emas hitam, harga minyak sawit juga terus tertekan yang ujung-ujungnya turut menggerus pendapatan emiten CPO.

Untuk perusahaan tambang mineral seperti nikel, tahun lalu permintaannya luar biasa besar dari Cina untuk persiapan Olimpiade 2008. Sektor perumahan di AS pun masih sehat dan baru jatuh mendekati akhir 2007 terhantam kredit macet kelas bawah (subprime mortgage). Kedua proyek itu membutuhkan nikel dalam jumlah besar sebagai campuran baja tahan karat.

Apakah itu berarti akhir dari kejayaan tambang dan komoditas? Tentu kita berharap tidak. Sebab, saat sumur-sumur minyak mulai kering, sektor tambang dan komoditas bisa menjadi substitusi penerimaan negara dan stimulan pertumbuhan. Jika perekonomian global kembali membaik, kita berharap kedua sektor itu kembali ke puncak.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga