| Beban Berlebih Macan Kemayoran |
| Rabu, 06 Agustus 2008 | |
|
JAKARTA (RP) - PERSIJA Jakarta mengawali kiprah di Indonesia Super League (ISL) dengan torehan menakjubkan. Mereka sukses menumbangkan dua rival utamanya, Persitara Jakarta Utara dan Persib Bandung di kandang sang lawan. Karenanya, semangat anak-anak Persija melambung tinggi.
Tapi sayang, ketika dijamu PSMS di Stadion Jatidiri, Semarang, petang ini, semangat tersebut telah melemah. Persija telah kehilangan momentum. Penyebabnya adalah dibatalkannya dua pertandingan kandang tim berjuluk Macan Kemayoran itu. “Kondisi fisik pemain memang sangat bagus. Tapi, kami terkendala peak performa. Saya juga khawatir dengan mental anak-anak yang sempat drop,” aku Danurwindo, pelatih Persija. Jadi, boleh dibilang Persija bakal melakoni pertarungan dengan PSMS dengan memikul beban berlebih. Apalagi, tim asal Ibukota tersebut punya kenangan buruk di Semarang musim lalu. Di kota itulah Persija kehilangan manajernya musim lalu, Susanto atau yang akrab disapa Haji Santo. Ya, usai mendampingi Persija bertarung dengan PSIS Semarang di Jatidiri, Haji Santo menghembuskan nafas terakhir di kota tersebut. “Tapi, saya berharap anak-anak bisa melepaskan beban ini dan kami mampu mengakhiri pertandingan dengan kemenangan,” ujar Danurwindo. Sama seperti Persija, kubu tuan rumah juga menjalani pertarungan sore ini dengan beban yang tidak ringan. Beberapa pilar PSMS harus absen karena cedera. Mereka yang absen di antaranya ada Rahmat Afandi dan Asri Akbar. Selain itu, internal PSMS juga baru saja bergolak. Hal itu seiring dipecatnya Iwan Setiawan dari kursi pelatih. Memang PSMS telah menunjuk Erick Williams sebagai karetaker. Tapi tentu saja antara Erick dan para pemain masih butuh proses adaptasi. “Ya, kami memang harus melakukan penyesuaian lagi. Tapi sebagai profesional, itu tidak boleh dijadikan alasan. Kami harus tetap tampil bagus untuk mengalahkan Persija,” tegas Patricio Jimenez, kapten PSMS. Masalah PSMS belum berakhir sampai di situ. Untuk menjamu Persija, mereka harus pindah stadion. Mereka tidak lagi menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta karena tidak mengantongi izin dari kepolisian. PSMS pun harus rela boyongan ke Semarang. Dengan bermain di Semarang, Ayam Kinantan —julukan PSMS— semakin minim dukungan suporter. “Masalah tempat bukan masalah bagi kami. Bermain di manapun itu sama bagi kami,” koar Sihar Sitorus, direktur pengelola PSMS.(fim/jpnn/ted) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




