Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Hubungan Kedua Negara Jadi Lebih Dekat
Minggu, 03 Agustus 2008
Konsul Malaysia di Pekanbaru Mhd Nasri Abdulrahman
Laporan Firman Agus, Pekanbaru  Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Sosek Malindo merupakan kerja sama antara dua negara Malaysia dan Indonesia. Dalam Sosek Malindo ini banyak memberi penekanan bagaimana antara kedua negara bisa mengadakan hubungan dagang, hubungan pendidikan, hubungan pertahanan. Dalam hubungan pertahanan bisa dilihat dengan digelarnya pelatihan pertahanan, baik itu pertahanan udara, laut dan darat yang setiap tahun diselenggarakan baik di Sumatera, Jawa atau pun di Malaysia.

Sedangkan Sosek Malindo antara Melaka, Johor dan Riau penekanannya lebih banyak kepada soal ekonomi, seperti bagaimana bisa melakukan hubungan dagang dan sebagainya. Melalui pertemuan-pertemuan delegasi kedua negara setiap tahun akan dibahas kendala kendala yang dihadapi dalam menuju kerja sama tersebut. Oleh sebab itu, pertemuan yang selalu dilaksnakan kedua belak pihak sangat menentukan bagi kelangsungan kerja sama ini.

‘’Kita melihat ini pertemuan yang positif. Setiap tahun kita mengadakan pertemuan Sosek Malindo baik di Malaysia maupun di sini (Pekanbaru, red), itu positif. Karena setiap tahun kita bisa memecahkan halangan investasi antara Malaysia dan Indonesia. Kalau tidak ada perbincangan tidak ada pergerakan. Ada perbincangan sedikit banyak akan peluang akan dilihat. Dimana ada permasalahan maka nanti kita lihat. Ini sangat bagus harus ada meeting sepeti ini. Kalau kita melihat dari segi materi tidak tampak, terkadang secara fleksibel persoalan ini akan berjalan,’’ ujar Konsul Malaysia di Pekanbaru Mhd Nasri Abdulrahman kepada Riau Pos di ruang kerjanya, Selasa (29/7) lalu.

Dalam pertemuan itu, menurut Mhd Nasri, tim dari Malaysia akan duduk bersama dengan tim dari Riau. Yang paling penting bagaimana memecahkan persoalan teknis. Sehingga dalam perdagangan apa yang sekarang tidak bisa dibawa, bagaimana bisa dipecahkan agar bisa dibawa. Atau bagaiman memasukkan barang dari Malaysia ke Indonesia (Riau) maupun dari Indonesia ke Malaysia. ‘’Ini harus dilakukan di tingkat negara. Kalau pedagang membawa barang dagangan kan peraturan negara begini-begini. Sedangkan di sini begini-begini. Oleh karena itu, antara kedua negara harus memperbincangkan bagaimana bisa kita jalinkan, kita benarkan dimana peluang-peluangnya. Itu yang banyak diperbuat dalam Sosek Malindo ini,’’ ungkap Nasri.

Oleh karena itu, menurut Nasri, keberlangsungan program ini sangat penting bagi kedua belah pihak. Apalagi Riau berbatasan langsung dengan Melaka, Selangor dan Johor. Jadi hubungan yang dekat ini tampak jauh kalau tidak dipecahkan. Bagaiman bisa masuk atau melakukan investasi dari sana ke Riau ke Malaysia dan dari Riau ke Malaysia. ‘’Saya kasih contoh, kita mau buka Roro Melaka dengan sini (Dumai, -red). Persoalan yang belum selesai sekarang bagaimana membawa mobil dari Malaysia ke sini. Walaupun itu perbincangan di tingkat IMT-GT, tapi dari Sosek Malindo mereka juga harus duduk. Bagaiman mobil dari Malaysia masuk ke sini. Sekarang peraturan yang berat adalah orang Malaysia harus membayar atau meletakkan uang seharga mobil. Orang sini ke Malaysia hanya perlu membeli asuransi. Kan itu beda jauh. Sekarang itu yang coba didekatkan bagaimana bisa terealisasi. Tim-tim ini yang akan memperbincangkan. Bagaimana kita memasukkan barang dagangan dari Malaysia ke sini dan memasukkan langsung dari sini ke Malaysia,’’ terangnya.

Namun diakui Nasri, kendala dalam setiap pertemuan akan selalu ada, apalagi bila hasil pertemuan itu dibawa ke tingkat yang lebih tinggi atau negara. Kalau negeri Melaka, sebagian peraturannya yang teratas di peringkat federal begitu juga di Riau akan dibawa ke Jakarta. ‘’Ini yang akan memakan waktu karena harus dinaikkan dulu ke tingkat atas dan di tingkat atas akan melakukan meeting lagi dan baru turun kembali ke bawah,’’ ungkapnya.

Untuk Roro Dumai-Melaka, diakui Mhd Nasri, pihak Malaysia juga berharap cepat terealisasi. Walaupun diakuinya di Melaka sendiri saat ini belum ada pembenahan menyeluruh dan juga belum
disiapkannya terminal. Namun Malaysia juga ingin melihat suatu saat nanti orang Malaysia bebas datang ke Riau dengan mudah bisa membawa kendaraan, keluarga, bisa investasi yang lebih
banyak dan begitu juga orang Riau ke Melaka.

‘’Ini mungkin pembuka kepada peluang-peluang atau hubungan yang lebih besar mungkin seperti adanya jembatan di masa datang. Ini adalah permulaannya. Tidak ada usaha ini maka tidak akan ada apa-apa sama sekali. Kalau sudah ada, maka besok-besok kita berusaha lebih gigih supaya suatu hari ada jembatan yang kita bisa bolak-balik. Orang Riau mau pergi ke Melaka mungkin hari ini pergi dan besok pulang. Orang sana pun bisa datang ke sini buat usaha melihat saudara ataupun hanya untuk wisata lebih mudah. Ini akan menambah ekonomi bagus untuk kedua negara,’’ ungkapnya.

Mhd Nasri memberi contoh, dulu Malaysia dan Singapura tidak punya jembatan. Sekarang dengan adanya jembatan bisa dilihat orang bolak-balik setiap hari dan itu meningkatkan ekonomi di Selatan Malaysia dan Singapura sendiri.

‘’Jadi ini suatu batu loncatan untuk langkah yang lebih besar. Dan Sosek Malindo ini dimana ruang-ruang masalah kita cari untuk membetulkan. Mungkin dulu kita tidak pernah terpikir bahwa kita bisa melanjutkan hubungan. Kalau dulu kan Kuala Lumpur dan Jakarta saja. Sekarang, bagaimana kita melihat soal yang lebih dekat ini kita pecahkan persoalan-persoalan yang susah itu, kita permudah lagi. Kalau ada halangan di sini, kita duduk, dibincangkan dan menghadapinya bagaimana,’’ terangnya.

Meski Nasri sendiri mengakui investasi Malaysia di Riau khususnya, masih banyak bergerak di sektor perkebunan. Namun perkembangan positif mulai terlihat dengan adanya keinginan investor Malaysia untuk berinvestasi di bidang lain seperti air bersih, listrik dan objek wisata seperti water boom. Jadi tidak lagi betumpu kepada sawit atau perkebunan saja.

Menariknya, Nasri mengakui, kedatangan para investor tersebut lengkap dengan proposal usahanya. Bahkan sudah ada yang mulai menandatangani memorandum of understanding (MoU)
membeli lahan-lahan di sini dengan melakukan kerja sama dengan pengusaha lokal. ‘’Pokoknya dalam dua tahun ini bisa melihat sedikit demi sedikit hasilnya,’’ ujarnya.

Di sisi lain, beberapa kendala juga masih dihadapi seperti soal perizinan yang masih harus melalui Jakarta. Atau pun tempat usaha yang tidak boleh dimiliki perusahaan asing jadi perusahaan
tempatan saja yang menguasai. ‘’Ini di antara halangan-halangan, namun saya percaya Pemerintah Provinsi Riau sangat prihatin soal ini dan telah banyak kita lakukan koordinasi dan dilihat lebih baik oleh Pemerintah Riau. Satu lagi, soal listrik yang masih kurang, infrastruktur yang masih kurang begitu juga air bersih. Tapi saya pikir investor yang mau datang mereka sudah siap. Kalau mereka bikin usaha di sini mereka kan harus siap,’’ ungkapnya.

Meski di sisi lain, Nasri tidak menafikan di antara investor yang pernah melakukan MoU tersebut hanya berhenti sampai MoU. ‘’Bahkan saya melihat beberap MoU yang ada di tangan saya pun yang masih MoU,’’ ungkapnya.

Tapi, menurutnya, sebagian di antaranya menghadapi kendala ketika masuk ke Riau melihat hambatan dari segi birokrasi, dari segi infrasrukutr dan penyediaan listrik itu yang masih kurang.
‘’Mungkin mereka tidak bersedia dengan melihat posisi itu. Kalau di Malaysia kalau ada investor datang, dia bikin usaha semuanya itu sudah tersedia. Tapi kalau di sini kalau mau bikin, jalannya belum siap. Jadi kalau orang ke sini misalnya mau bikin pabrik bukan saja membuat pabriknya, tapi bagaimana membuat listriknya, jalannya. Juga soal hambatan dari segi biroktrasi. Ada pengusaha yang memang mau masuk apabila diteken MoU dibawa ke sini dari Pekanbaru harus naik ke Jakarta. Di Jakarta sudah ada peraturan lain pula. Ini juga menjadi sebagian dari hambatan,’’ terangnya.

Nasri mencontohkan jalan tol Pekanbaru-Dumai. Jalan tol itu sudah ada MoU sebelumnya, tapi sampai ke Jakarta ada hambatan lain pula harus begini-begini. ‘’Jadi apa mau lagi dibuat dan MoU tinggal MoU. Persoalannya memang kita berminat cuma sebagian MoU hanya menjadi MoU karena hambatan-hambatan dalam soal birokrasi. Saya rasa Pemerintah Riau sudah tahu,’’ ungkapnya.

Saat disinggung realissai investasi di Riau tahun ini, Nasri mengakui yang datang tahun ini kebanyakan orang yang telah datang tahun sebelumnya dan membawa proposal yang sudah berjalan. ‘’Kalau tahun sebelumnya mereka datang melihat-lihat, tahun ini datang dengan segala proposal, MoU dan juga sponsornya dan siap rangkaian kerja samanya. Jadi sudah ke arah itu,’’ ungkapnya.(amf)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org