Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Braak
Minggu, 03 Agustus 2008
Braak! Seperti onomatope pintu depan yang dihantam ayunan cangkul yang terjadi pada pagi cerah 14 Mei 1940. Bukankah kata penyair Hermann Gorter bulan Mei ialah bulan terindah di negeri Belanda? Bunga-bunga bermekaran dan aromanya memenuhi udara di kota yang dinamakan dalam bahasa Inggeris The Hague atau dalam sosok aslinya Den Haag atau dulu kita, sebagai anak jajahan, mengenalnya juga dengan nama ‘s-Graven hage, bahkan nama ini tertulis dalam tiket kereta api dan tertera juga di papan-papan pengumuman di stasiun kereta-api negeri Perancis sebagai La Haye.

Di pagi berseri di kota Den Haag atau s’Gravenhage atau The Hague atau La Haye itu budayawan atau penulis esei sastra dan politik Menno ter Braak yang sering dinamakan sebagai hati nurani kesusastraan Belanda, the conscience of Dutch literature, mendengar langkah sepatu lars Nazi yang mulai memasuki perbatasan Jerman dengan Belanda lalu melakukan bunuh-diri. Jangan tunggu sebentarpun. Hukuman untuk seorang yang bersikap anti totaliter seperti Menno ter Braak sudah pasti.

Ia dilahirkan di Eibergengen, Belanda, 26 Januari 1902. Sepanjang hayatnya ia telah berpikir dan menulis tentang penolakannya terhadap Nazi Jerman yang sedang bergerak melanda Eropa, dimulai dari tetangganya yang terdekat: Belanda. Ayahnya seorang dokter terkemuka, taat beragama Protestan. Rencana untuk menjadi teolog dibatalkannya. Bukan menyelesaikan pendidikannya dalam ilmu agama, ia menjadi doktor ilmu sejarah.

Rangkaian karyanya menjadi saksi terhadap keyakinan dan pikiran-pikirannya yang cemerlang. Bersama dengan Edgar du Perron pada tahun 1932 ia mendirikan majalah budaya yang sangat berpengaruh, berumur panjang dan terkenal dinamakan Forum (yang cukup berpengaruh juga di negeri jajahan Hindia-Belanda yang kemudian menjadi Indonesia.

Kumpulan tulisannya yang terdiri dari esei-esei sastra diberinya judul Het carnaval der burger (1930; ‘’Karnaval para Warga” atau ada juga yang menerjemahkan sebagai ‘’Karnaval kaum Borjuis”), dan esei politiknya yang sangat sering disitir di Indonesia yaitu Politicus zonder partij (1934; ‘’Politikus tanpa Partai”) dan Van oude en nieuwe Christenen (1937; ‘’Tentang Kristen Lama dan Baru”).

Karya budayawan dan penulis esei Menno ter Braak yang sangat disukai dan menjadi pegangan para seniman dan budayawan kita ialah karya yang berjudul Demasqué de schoonheit (‘’Pendedahan keindahan”). Sedangkan Nyanyian Angsa yang merupakan karya terakhir Menno ter Braak ialah karya tahun 1939 yang berjudul De nieuwe elite (‘’Elit Baru”).

Itulah selintas pintas tentang Menno ter Braak. Mungkin sekali budayawan yang dijuluki hati nurani kesusastraan Belanda ini tidak semata-mata dirangsang oleh suasana putus-asa sebagaimana digambarkan oleh penyair Gerrit Acherberg dalam karya yang terbit pada tahun 1940 yang dalam terjemahan bahasa Inggerisnya Dead End?

Bunyi braak di pintu depan rumah lain dari seorang sastrawan yang lain baik pikiran maupun arahan hidupnya terjadi Paris pada pintu rumah Drieu La Rochelle. Ia juga mengakhiri kehidupannya dengan membunuh-diri.

Pengarang Perancis ini dilahirkan di Paris pada 3 Januari 1893. Roman, esei, dan kehidupannya menggambarkan suatu generasi sastrawan Perancis yang mengalami kegoncangan karena terperangkap di antara dua perang besar di Eropa, Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.

Keberpihakan Drieu La Rochelle kepada totalirerisme, baik yang bernama Naziame Jemrna atau Vichy dinyatakannya dalam semacam apologi terhadap pendudukan Nazi di negerinya, dan bahkan ketika ia sedang memimpin berkala sastra Nouvelle Revue française (nrf) di Paris yang mengubah arah berkala itu sehingga menjadi memihak Nazisme. Sehubungan dengan hal inilah Drieu La Rochelle lalu menghakimi dirinya sendiri dengan membunuh dirinya sendiri pada 16 Maret 1945 lima tahun setelah Menno ter Braak berbuat yang sama dengan alasan yang bertolak belakang dari kutub ke kutub.

Karya sulung Drieu La Rochelle yang terbit pada tahun 1925 berjudul L’Homme couvert de femmes (‘’Lelaki diselimuti Para Wanita”). Karya tersebut diikuti oleh Le Feu follet (1931; diterjemahkan ke bahasa Inggeris menjadi Will o’the Wisp) lalu dijadikan film pada tahun 1963. Karya ini mengisahkan tentang saat-saat terakhir yang dialami oleh seorang pemuda sebelum membunuh dirinya.

Roman lain karya Drieu La Rochelle yang cukup terkenal berjudul Gilles (1939), diterbitkan secara posthumous dan terbagai dua, pertama memakai judul Recit secret (1961; ‘’Kisah Rahasia”) dan kedua Memoires de Dirk Raspe (1966; ‘’Memoire Dirk Raspe”). Salah-satu karya Drieu La Rochelle sudah disadur menjadi film sineas oleh Pierre Granier-Deferre yang dikenal sebagai Une Femme à sa Fenêtre (Seorang Perempuan di Jendelanya).

Meskipun banyak sastrawan yang hati dan pikirannya memihak kepada pemerintahan totaliter dan otoriter serta kediktatoran, samasekali bukan berarti karya-karya mereka harus disingkirkan. Karya-karya mereka sangatlah dibaca atau dihayati karena estetika yang terkandung di dalamnya tetap merupakan makanan rohani meskipun ada kadar racunnya. Tapi bagi seorang yang piawai racun itu bisa disingkirkan dan bahkan dapat berubah menjadi guna dan faedah. Di bidang sastra dan seni pada umumnya dunia yang sempit dan terbatas ini senantiasa menawarkan alternatif sehingga apa yang kita hadapi seyogianya the song not the singer, senantiasa karya dan bukan orangnya.

Sebuah film lama memberikan sumbangan ‘’The Song Not the Singer” yang dapat mengait ingatan kita pada pentingnya membedakan karya dengan si pencipta karya. Misalnya sebuah karya anonim apakah diciptakan oleh orang di sini yang serba baik atau orang di seberang sana yang serba tak baik harus dipilah dengan garis-garis yang samar, bukan garis-garis yang tegas dan kaku. Seni seperti dipesankan Goethe ialah bancuhan antara terang benderang (ilmu) dengan gelap gulita (kejahilan); seni ialah die Dämmerung yaitu sabur-limur, tidak terlalu terang dan tidak pula gelap gulita, perpaduan antara terang dan gelap seperti dalam lukisan yang memanfaatkan baik cahaya maupun kegelapan. Pencerahan dalam bidang budaya samasekali tidak bersahabat dengan para pemusnah buku, apalagi pemusnahan jiwa manusia baik itu bernama génocide, la purification ethnique, ethnic cleansing, atau yang semacam itu.

Kata dan bunyi braak terdengar keras di pintu depan. Bukan memanggil nama budayawan terkenal Belanda Menno ter Braak. Bunyi braak terdengar keras dan bertalu-talu. Braak! Braak! Braak! Tapi bunyi dahsyat itu tidak membuat Jean Cocteau, Knut Hamsun, Charles Maurras, Josef Weinheber, Ezra Pound, Céline @ Louis-Ferdinand Céline dan lainnya lalu membunuh diri. Braak!***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org