| Mereformasi Wirid Yasin |
| Jumat, 01 Agustus 2008 | |
|
Meminjam pameo Gus Dur “gitu aja kok repot” memang tak perlu repot buat mencari-cari sepotong sabda Rasulullah SAW atau teladan perilaku beliau tentang keharusan menggelar Wirid Yasin bagi umat. Konon pula, melaksanakan Wirid Yasin di rumah secara bergiliran. Konon pula, harus dihidangkan makanan yang lezat oleh sang pemilik rumah.
Terus terang tak ada Hadist Rasulullah SAW terkait hal itu! Juga, tak usah repot-repot mencari tahu, siapa gerangan yang mempopulerkan Wirid Yasin, kenapa yang dibaca itu Surat Yasin dan bukan surat lain, kenapa ditaja setiap hari Kamis malam Jumat, kenapa dipraktikkan selama tiga malam berturut-turut setiap terjadi musibah kematian berlanjut dengan menujuh hari, mengempatpuluh hari, menyeratus hari, dan seterusnya. Fakta yang tak bisa dibantah, organisasi Wirid Yasin itu jelas ada dan tumbuh menjamur dimana-mana. Uniknya, organisasi Wirid Yasin sepenuhnya otonom tak memiliki struktur vertikal, horizontal, apalagi diagonal. Gaya tumbuhnya pun mirip batang ubi, yang tak pilih tempat bisa langsung tumbuh begitu saja. Praktis, organisasi Wirid Yasin terdapat di lingkungan kumuh, di kalangan elit, di ceruk kampung, di tengah kota megapolitan, bahkan sampai merambah kelompok Kedubes plus masyarakat Muslim Indonesia di luar negeri! Banyak sisi positif kegiatan Wirid Yasin, sebenarnya. Antara lain mengentalkan ukhuwwah silaturrahim. Dengan adanya kegiatan Wirid Yasin, sikap individualistis maupun akhlak egosentris masing-masing orang dapat mencair. Mereka yang selama ini berwatak pongah dan tak mau mengenal lingkungan tetangga, tak suka karpet rumahnya diinjak pedagang kaki lima, terpaksa ikhlas menerima kedatangan rombongan Wirid Yasin yang heterososial. Dikarenakan budaya ketimuran berpantang menerima kunjungan tamu ke rumah sendiri tanpa basa-basi, maka juadah pun dipersiapkan. Juadah tak sembarangan, tentu. Sebab, juadah itu menyangkut pencitraan status, gengsi dan martabat siempunya rumah. Kapan orang miskin dapat kesempatan menginjak rumah orang kaya serta menikmati hidangan yang super enak gurih, kalau tak ada Wirid Yasin? Malah saat Idul Fitri sekalipun belum tentu datang kesempatan itu. Mamasuki rumah orang kaya hanya sendirian, bisa membuat herder yang menjaga rumah itu menyeringai secara reflek. Tapi dalam kunjungan Wirid Yasin, herder tadi dikurung. Sisi positif berikutnya, organisasi Wirid Yasin akan di kejar-kejar kalau sekonyong-konyong terjadi peristiwa kematian. Untuk apa? Nah, peran Wirid Yasin sangat dibutuhkan untuk ritual kematian. Sejak mengerahkan massa, lalu memandikan, mengkafani, menshalatkan, menguburkan jenazah hingga acara takziah 3 malam di rumah duka, semua kegiatan tersebut ditackle Wirid Yasin. Sampai disitu? Tentu tidak. Karena, Wirid Yasin ikut menyumbangkan dana guna meringankan beban finansial ahli musibah. Istilahnya bantuan kemalangan. Lalu, bagaimana dengan kegiatan sakral lainnya yang tak kalah penting? Seperti acara pernikahan, sunatan, kenduri syukuran maupun acara hajatan melepas anggota keluarga naik haji? Terang saja organisasi Wirid Yasin tak mungkin disepelekan perannya. Walau tak semua, sebagian besar perwiridan Yasin memiliki berbagai peralatan keperluan yang dibutuhkan dalam menggelar acara. Mulai dari piring, panci hingga tenda, kursi sound sistem, rebana hingga kompang. Membangun Dukungan Aparat Keadaan organisasi Wirid Yasin dengan potensi jamaah demikian besar, sudah barang tentu menggembirakan bagi aparat lapis terbawah struktur pemerintahan birokrasi, yakni Ketua RT/RW. Maka tak heran jika para ketua RT/RW memberikan support istimewa bagi eksistensi Wirid Yasin. Konon pula, lazimnya organisasi Wirid Yasin mempunyai keterkaitan kuat dengan Pengurus Masjid/Musholla. Potensi ini sangat memberi nilai tambah bagi tugas-tugas Ketua RT/RW yang menyangkut kebersihan dan keamanan, kerukunan maupun keharmonisan lingkungan. Tidak ada satupun diantara para Ketua RT/RW serta Kepala Desa yang memusuhi Wirid Yasin atau berseberangan dengan organisasi tersebut. Bahkan pada event pemilihan Ketua RT/RW juga Kepala Desa posisi Wirid Yasin berada pada ruang strategis. Logis belaka jika Ketua RT/RW maupun Kepala Desa selalu memperjuangkan Wirid Yasin agar mendapat injeksi dana melalui APBD Kota/Kabupaten dan APBD Provinsi. Dari segi politis, Wirid Yasin murni tumbuh dari bawah, istilahnya bottom-up. Sama sekali bukan direkayasakan dari atas alias top-down. Sebab, kendati massa perwiridan Yasin sangat besar jumlahnya, namun tanpa registrasi, tanpa hirarki dan tanpa manajemen organisasi, juga tanpa kaidah-kaidah evaluasi dan prestasi pengembangan. Akibatnya, Wirid Yasin bagaikan berjalan di tempat. Karakter Wirid Yasin tahun 60-an tak berbeda dengan karakter Wirid Yasin tahun 2008. Sejumlah orang berkumpul tanpa dikomandoi, membaca surat Yasin bersama-sama, bertahtim, bertahlil lalu berdo’a dan selesai. Habis itu menyantap makanan. Begitu potret Wirid Yasin tahun 60-an seperti itu pula wajah Wirid Yasin tahun 2008! Perlu Upaya Reformasi Dikarenakan tak kunjung berubah walau sudah hampir setengah abad berkiprah, praktis selama itu pula faktor kejanggalan yang mengganjal tak pula kunjung bisa diperbaiki. Apa yang janggal dan mengganjal bagi suatu perwiridan Yasin selama setengah abad? Khawatir tak banyak yang datang maka umumnya acara Wirid Yasin di taja seusai shalat Magrhib. Jarak antara Shalat Maghrib dan Isya sesungguhnya lumayan panjang, bervariasi sekitar 50-60 menit. Artinya, rentang waktu itu bisa cukup kalau digunakan efektif, efisien. Namun sayangnya perlaku efektif, efisien itu pula yang tak diakomodir perwiridan Yasin. Akibatnya, tak jarang jadwal Wirid Yasin baru dimulai beberapa menit jelang azan Isya dikumandangkan. Risiko tak terhindarkanpun terjadi! Salat di awal waktu lenyap dibawa angin! Padahal, tidak ada argumen apapun yang boleh menafikan salat di awal waktu. Upaya mereformasikan Wirid Yasin memang mutlak perlu dilaksanakan. Jangan karena berharap bongkah batu, sebutir berlian dicampakkan! Adapun upaya reformasi berikutnya, Wirid Yasin sudah saatnya ditradisikan dibaca secara hafalan tanpa melihat lagi pada kitab kecil. Sungguh aneh, ratusan kali Wirid Yasin, kok surat Yasin itu tak kunjung hafal? Padahal, untuk sebuah konser lagu, sang artis penyanyi dangdut melantunkan puluhan tembang tanpa melihat buku lagi? Ibrahim Muhammad; Peminat masalah agama. Tinggal di Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




