| Pembunuh di Sekitar Kita |
| Jumat, 01 Agustus 2008 | |
|
Kasus jagal Jombang, Very Idam Henyansah alias Ryan, memantik kecemasan publik: banyak pembunuh berkeliaran di sekitar kita. Sosok lelaki yang kemayu dan berwajah innocence ternyata pembunuh berdarah dingin, buas, dan siap merampas hak hidup kita kapan saja.
Sampai hari ini, sudah 11 mayat korban Ryan yang ditemukan. Berbagai spekulasi muncul dan diduga lelaki asal Jombang itu telah menghabisi lebih dari 20 orang. Kisah pembunuhan berantai bisa terjadi kapan dan di mana saja. Apalagi jika sang pelaku memiliki motif-motif personal dan mengidap penyakit kejiwaan yang kronis. Sosok seperti Ryan bisa muncul di negara berkembang seperti Indonesia, pun bisa muncul di negara maju seperti AS. Hanya, yang membedakan, intensitas terjadinya kasus pembunuhan (kriminalitas) di negara berkembang tentu lebih besar dibanding di negara maju. Itu bisa terjadi karena latar belakang ekonomi, tingkat pendidikan, serta penegakan hukum. Dalam kasus Ryan misalnya, dari hasil penyidikan, selain karena dendam, ada motif ekonomi di balik aksi kejamnya membantai 11 orang. Dan Ryan hanyalah satu di antara sekian banyak pelaku pembunuhan dengan korban lebih dari satu orang di Indonesia yang saat ini sedang antre menanti eksekusi mati. Pada posisi kita sebagai warga negara yang ingin hidup aman, nyaman, dan tenteram, rangkaian aksi kriminalitas telah merusak ketenangan serta kenyamanan hidup itu. Kita setiap saat akan cemas terhadap munculnya Ryan-Ryan baru yang terus mencari korban. Memang ada alasan-alasan pribadi yang melatarbelakangi Ryan membunuh para korbannya. namun tetap saja itu merupakan cermin kondisi sosial masyarakat kita yang sedang sakit. Setiap warga negara tentu berharap bisa tinggal dan hidup dalam lingkungan yang aman serta nyaman. Namun, di Indonesia, keamanan dan kenyamanan itu makin hari makin menjadi barang mahal. Di rumah, kita khawatir pada maling dan perampokan. Di jalan, kita takut pada kecelakaan lalu lintas. Di sekolah, kita takut anak-anak kita jadi korban penculikan. Hingga dengan komunitas di mana kita bergaul, kita khawatir munculnya pembunuh berdarah dingin ala Ryan. Jika tak ada lagi rasa aman, di mana kita harus tinggal? Sebagai warga negara, kita patut menuntut hak kepada pemerintah untuk mengembalikan semua rasa aman dan nyaman tersebut. Kita percaya, hukum di negara ini akan memberikan ganjalan yang setimpal terhadap setiap perilaku kriminalitas sesuai derajat kesalahannya. Untuk pelaku pembunuhan seperti Ryan, tak ada pilihan yang lebih baik, kecuali dihukum mati. Namun, apakah hukuman mati semacam itu serta merta akan menekan angka kriminalitas? Belum tentu, bahkan mungkin tidak sama sekali. Ada pekerjaan rumah yang lebih besar yang harus diemban pemerintah selain sekadar menghukum berat pelaku kriminalitas. Yaitu, memperbaiki tata kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Perbaiki kondisi ekonomi dengan membuka kesempatan kerja yang lebih besar. Perbaiki kondisi sosial dengan menciptakan jaring pengaman, sehingga setiap warga memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dan fasilitas kesehatan. Kondisi sosial yang lebih baik seperti itu akan mengurangi munculnya orang-orang yang frustrasi dan nekat. Tentu saja penegakan hukum juga menjadi kunci yang lain untuk mengembalikan rasa aman dan nyaman tersebut.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




