Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Alarm Kian Nyaring bagi Golkar
Selasa, 29 Juli 2008
Oleh : Hanta Yuda AR
Partai Golkar rontok berturut-turut dalam pemilihan gubernur (pilgub) di sejumlah daerah. Setelah keok di Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, dan Bali, kemarin giliran pilgub Jatim merontokkan jagoan Golkar (cagub Soenarjo).

Kekalahan-kekalahan itu setidaknya menjadi alarm yang kian nyaring bagi Golkar agar tidak dilanjutkan dengan anjloknya suara Golkar dalam Pemilu 2009.

Akankah posisi Golkar makin kuat atau sebaliknya, tersungkur dan dikalahkan partai-partai lain dalam Pemilu 2009? Padahal, sebelumnya, Partai Golkar boleh dibilang sukses menghadapi reformasi. Proses survival Partai Golkar dalam empasan arus demokratisasi dan reformasi politik bisa dibilang berhasil.

Stabilitas perolehan suara yang cukup signifikan dalam Pemilu 1999 dan 2004 menjadi bukti empirisnya. Konsistensi memosisikan diri sebagai partai tengah (catch-all), jaringan kekuasaan yang dimilikinya, serta infrastruktur yang telah mengakar membuat Partai Golkar tetap eksis.

Namun, kedigdayaan Golkar kini terus memudar. Kekalahan demi kekalahan dalam beberapa pemilihan kepala daerah setidaknya telah memberikan sinyal itu.

Menurun

Kecenderungan suara Partai Golkar sejak Pemilu 1999 hingga sekarang menjelang Pemilu 2009 mengalami tren menurun. Terakhir, hasil survei Indo Barometer (Juli 2008) menunjukkan dukungan terhadap Partai Golkar menurun drastis. Sedangkan dukungan terhadap Partai Demokrat (PD) dan Partai Oposisi (PDI Perjuangan) meningkat. Pada Pemilu 1999, Golkar meraih 22,3 persen suara, kemudian 21,5 persen pada Pemilu 2004.

Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada September 2007, suara Golkar diprediksi 20,5 persen. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Oktober 2007, suara Golkar diperkirakan menurun menjadi 17,5 persen. Dan terakhir survei yang dilakukan Indo Barometer, suara Golkar diprediksi 12 persen.

Anjloknya popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di mata publik seperti hasil survei yang dilansir berbagai lembaga survei tentu akan berdampak terhadap popularitas Partai Golkar. Sebab, sebagai partai yang sejak awal mengklaim mendukung pemerintahan Yudhoyono-Kalla, tentulah Partai Golkar menanggung risiko atas kegagalan kepemimpinan Yudhoyono-Kalla.

Dukungan terhadap Partai Golkar tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal seperti popularitas pemerintahan, tapi juga dipengaruhi faktor internal. Saat ini, Golkar tidak hanya sedang berhadapan dengan ancaman dari luar, tapi juga sedang berhadapan dengan ancaman dari Golkar sendiri.

Potensi faksionalisasi elite dan pola perekrutan yang tidak demokratis serta aspiratif akan menjadi ancaman bagi Golkar jika tidak dikelola dengan baik.

Faksionalisasi Elite

Partai Golkar secara samar kini terbelah menjadi beberapa faksi. Indikasi itu semakin kentara menyusul langkah partai berlambang pohon beringin tersebut mengadakan silaturahmi politik dengan PDIP di Medan dan Palembang. Sangat mungkin faksi-faksi itulah yang akan bertarung pada munas pemilihan ketua umum Partai Golkar 2009.

Faksi-faksi yang bertarung di internal Golkar sebenarnya merupakan hal yang biasa. Polemik semacam itu memang sudah sering terjadi dalam Partai Golkar, tapi kali ini terindikasi mengancam integrasi partai beringin tersebut.

Bahkan, kemunculan faksi-faksi itu belakangan bisa mengancam soliditas partai dan akan menempatkan Golkar dalam kondisi yang rentan mengalami konflik internal.

Hal itu tentu akan kontraproduktif bagi Golkar dalam konteks menghadapi Pemilu 2009. Selain itu, meruncingnya faksionalisasi elite akan berimbas terhadap pola perekrutan dan alur kaderisasi di bawahnya. Jika tidak dikelola dengan baik, faksionalisasi tersebut akan semakin tajam pada 2009 seiring semakin mengemukanya kepentingan-kepentingan faksi di internal Golkar menjelang Pemilu 2009.

Hanta Yuda A.R., analis politik di The Indonesian Institute Jakarta
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga