| Menyeleksi Capres Usia Muda |
| Selasa, 29 Juli 2008 | |
|
Deman calon presiden (capres) usia muda terus menusuk panggung politik negeri ini. Demannya kian tinggi menyusul virus Pemilu 2009 -sekaligus pemilihan presiden- tinggal hitungan bulan saja.
Kian menjadi-jadi -demam capres muda itu- lantaran capres negara adi kuasa satu-satunya, Amerika Serikat, dari Partai Demokrat, Barack Obamah, yang mengusung isu perubahan juga berusia muda. Dia juga amat populer di kalangan muda Amerika. Tokoh-tokoh muda Indonesia pun seolah menemukan momentum yang lebih kondusif untuk tampil dengan mengusung isu perlunya presiden usia muda untuk memimpin RI pada 2009-2014. Masyarakat -yang memang ingin bangsa Indonesia berubah menjadi lebih baik- pastilah suka cita menyambut banyaknya orang muda yang menyatakan diri akan maju menjadi capres. Negeri ini memang membutuhkan figur yang segar, sarat memiliki vitalitas, visioner, dan kaya inovasi politik guna mempercepat kemajuan. Nah, vitalitas dan visioner, misalnya, memang dianggap identik dengan tokoh muda. Mengingat anggapan, menjadi normal jika nanti Indonesia harus dipimpin presiden yang berasal dari tokoh berusia muda. Oleh sebab itu, di antara nama-nama tokoh muda yang sudah terang-terang menyatakan akan maju menjadi capres, masyarakat perlu menyeleksi dan menggali sedalam-sedalamnya kredibilitas dan kompetensi mereka. Masyarakat wajib terus mengadu tokoh-tokoh muda itu agar mengeluarkan segenap tenaganya untuk menunjukkan kepada publik kemampuannya sebagai presiden, baik sebagai kepala negara maupun sebagai "manajer" pemerintahan. Sampai menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 nanti, masyarakat harus terus mengikuti sepak terjang tokoh-tokoh muda itu. Pada saatnya kelak -pada Pilpres 2009- barulah diputuskan, siapa di antara tokoh muda itu yang memang patut dipilih. Keterlibatan yang intens dari segenap elemen bangsa dan komponen masyarakat untuk melakukan semacam "seleksi alam" sangat diperlukan. Tujuannya, selain kita perlu memberikan ruang terbuka yang lega dan lapang agar kompetisi calon presiden bersifat fair, juga menguji akuntabilitas dan transparansinya sebagai calon pemimpin bangsa. Seleksi alam itu diperlukan juga untuk mengetahui derajat sportivitas dan kejujurannya. Bukan hanya sportif atau jujur mengenai kompetensi dan kredibilitasnya, melainkan yang justru sangat penting ialah moralnya. Misalnya, benarkah orang-orang muda itu jujur dan sportif untuk diri mereka sendiri. Jujur bahwa mereka punya kemampuan sebagai capres. Jujur bahwa mereka memang punya kapital untuk maju dalam medan pilpres di negeri yang mahaluas dan membutuhkan modal amat besar. Dari mana mereka mencari dana yang jumlahnya sangat besar untuk keperluan pencapresan itu? Sportif bahwa mereka memang lebih layak memimpin bangsa ini daripada tokoh-tokoh tua yang mereka tuding tidak mampu atau dituduh gagal. Jangan beri kesempatan kepada tokoh-tokoh muda menjadi capres jika bekalnya hanya mengikuti arus dan tren politik. Tanpa masyarakat aktif untuk menyeleksinya, kelak bangsa ini akan tertipu lagi, entah untuk yang keberapa. Tertipu oleh tokoh-tokoh yang pandai berbohong ketika gagal. Hanya menyalahkan orang lain. Hanya tuding sana sini ketika tidak mampu membuat perubahan menjadi lebih baik. Kita jangan terus menjadi bangsa yang mudah tertipu oleh wacana. Mudah tertipu oleh gaya orasi yang seolah-olah pintar. Padahal, isinya hanya omong besar yang dalam kenyatannya tidak bisa bekerja. Dan, tidak bisa memimpin pemerintahan dengan benar.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




