Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Permainan Asah Otak Digemari Orang Dewasa
Minggu, 27 Juli 2008
SCRABBLE bukan semata kegiatan iseng pengisi waktu luang bagi anak-anak. Orang dewasa pun sah-sah saja melakukannya. Bahkan, Elisee Poka rela menempuh perjalanan lima hari di atas bus menyusuri jalanan Afrika demi mengikuti kompetisi permainan asah otak dengan menyusun huruf-huruf imut yang tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-37 itu.

Namun, jangan dibayangkan bila perjalanan panjang dengan bus yang dialami Poka itu merupakan perjalanan yang nyaman. Sungguh, tidak berlebihan bila perjalanan tersebut merupakan bentuk lain perjuangan bagi pria 32 tahun itu. Pasalnya, jalanan yang dilalui bus yang ditumpanginya adalah jalanan rusak dengan banyak lubang. Apa yang dilakukan Poka berbanding 180 derajad dengan yang peserta dari Prancis. Sebab, mereka tiba di lokasi kompetisi tingkat dunia itu dengan menggunakan pesawat.  

Meskipun demikian, soal semangat Poka dan para peserta dari negara-negara Afrika lain tidak bisa diremehkan. Dan dia menjadi salah seorang di antara 500 peserta dari sekitar 20 negara berbahasa Prancis yang mengikuti turnamen yang diadakan di Dakar, Senegal itu.

‘’Peralatan kami memang jauh tertinggal dibandingkan yang dimiliki para pemain asal Prancis,’’ ujar Poka. ‘’Tapi kami terus mengalahkan mereka’’.

Minat Poka, dan penduduk Afrika lain terhadap scrabble memang serius. Baginya, permainan kata-kata itu tidak hanya dilakukan sambil lalu. Melainkan harus dengan serius. Malah, saat dia masih kanak-kanak, karena tidak bisa membeli set permainan scrabble dari toko, dia membuat sendiri dengan memotong kayu. Bahkan, di beberapa negara Afrika, scrabble merupakan olah raga (otak) resmi. Untuk itu, memerlukan disiplin tersendiri bila benar-benar ingin menguasainya.

Dan untuk persiapan mengikuti lomba, Poka membawa diari di dalam tasnya. Dia memanfaatkan setiap kesempatan yang dimilikinya untuk menghafalkan kata-kata dari catatannya tadi. Sebaliknya, pesaingnya dari Prancis menggunakan piranti canggih, komputer, untuk berlatih lewat permainan anagram.

Memang, peralatan yang dimiliki peserta dari negara-negara Afrika jauh tertinggal bila dibandingkan yang dimiliki peserta asal Prancis. Alih-alih unggul dengan semua kelebihan yang dimiliki, peserta asal Negeri Eiffel itu tetap tidak bisa merebut kemenangan dari tangan peserta Afrika, khususnya dalam duel satu lawan satu Kejuaraan Scrabble Francophone (Bahasa Prancis) Dunia. Dan itu terjadi selama tiga tahun berturut-turut.(dia/ksm)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga