| Bebal |
| Sabtu, 26 Juli 2008 | |
|
Oleh : Gde Agung Lontar
Awang Bebal. Ya, itulah nama laki-laki itu. Tapi nama panggilan itu jangan kau sebutkan di depan batang hidungnya karena pastilah dia akan mengamuk. Itu adalah nama panggilan orang-orang bila berhadap-hadapan dengan punggungnya. Ya, siapa pula yang akan suka bila dipanggil dengan tambahan “bebal” di belakang namanya. Panggilan Amat Tonjang, mungkin akan suka-suka saja. Udin Peang, mungkin begitu juga. Bahar Juling, mungkin tak apa-apa. Bahkan Atan Senget, mungkin juga masih bisa diterima. Tetapi Awang Bebal? Tak ada yang suka. Tetapi, itulah yang terjadi pada Awang. Panggilan “Bebal” itu perlahan-lahan mulai melekat di belakang nama Awang ketika lelaki itu mulai mendapatkan ayah yang keempat. Ayah yang keempat? Ya. Inilah jalan ceritanya. Emak si Awang, biasa dipanggil dengan Bonda, agaknya memang luar biasa. Kalau dihitung-hitung agaknya sekarang sudah 63 tahun usiaya, tetapi Bonda masih tetap cantik juga. Bahkan kata orang semakin cantik, dalam usianya yang kian matang dan ranum itu. Oleh karena itulah tidak usah heran kalau banyak lelaki yang berminat menyunting, atau mungkin dipersunting, oleh Bonda manakala suaminya yang terdahulu telah tiada, atau telah diceraikannya. Suami pertama Bonda, ayah kandung Awang, adalah seorang arsitek. Tak usah heran kalau beliau dikenal punya selera yang tinggi terhadap seni. Beliau juga dikenal peduli dengan tetangga dan lingkungan, dan sering ikut dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Beliau juga terkenal ganteng dan flamboyan. Masa kecil Awang pun dipenuhi dengan kenangan-kenangan indah seperti itu. Tetapi, karena itu pula tak usah heran kalau suami pertama Bonda itu menjadi pujaan banyak perempuan, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Akibatnya, lama kelamaan Bonda pun mulai gelisah melihat suaminya yang mulai menggatal itu. Apalagi ketika kemudian sebagai arsitek beliau perlahan-lahan berhasil meningkatkan taraf hidup perekonomian mereka. Lalu, gosip-gosip selayang pun mulai terdengar kalau beliau ternyata sudah punya istri simpanan. Berbilang tahun kemudian bahkan gosip-gosip mulai berkembang menjadi berbilang istri simpanan pula. Tentu saja Bonda menjadi kian risau, sampai suatu ketika naik pitamnya. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Dan yang tak disangka-sangka Bonda dan Awang, ternyata sang ayah tiba-tiba saja menjadi pemarah, keras kepala, dan angkuh. “Sudah! Tak usah merepet lagi!” sergah sang ayah pertama dengan penuh amarah kepada Bonda. “Kita balik saja ke perjanjian awal, bahwa aku adalah raja dan engkau dan anak-anak adalah permaisuri dan pangeran-pangeranku! Tak peduli siapa kalian, aku sebagai raja harus kalian turuti segala titahku!” Ayah pertama Awang memang dikenal sebagai orang yang pandai sekali bersilat lidah. Padahal kalau sempat diamati dengan cermat, pernyataan beliau seringkali menyalahi kaidah, jungkir-balik, atau bahkan tak masuk nalar. Tetapi itulah, orang kita yang terbiasa dengan bahasa ucap seringkali tak terkejar dengan kemampuan nalar. Apa saja yang dikatakan seakan benar, selagi itu diucapkan dengan sedap. Maka, Bonda dan Awang beserta adik-adiknya pun tak dapat bercakap apa-apa lagi. Pikir Bonda, ayah adalah kepala keluarga dan memang haknyalah untuk menentukan hitam-putih keluarga ini. Meski sedih, Bonda kemudian hanya diam. Tetapi, dengan keadaan begitu bukannya sang ayah pertama kembali menjadi ayah yang sejati, tetapi justru kian menjadi-jadi. Kata orang, tua-tua keladi. Maka ayah pun mulai jarang pulang; mungkin menjadi lebih sering bermalam di rumah bini-bini simpanannya. Kalau pun pulang, kerjanya hanya marah-marah dan mengamuk saja. Apa yang dilakukan Bonda, semua salah. Apa yang dibuat anak-anaknya, semua tak betul. Tetapi, bertambah tahun anak-anak kian bertambah besar, dan mulai menyadari ayahnya kian bertambah tua tetapi juga bertambah-tambah maharajalelanya. Oleh karena itu mulai timbullah keberanian Awang dan adik-adiknya. Mulailah setiap amarah ayahnya berbalas jawab dengan Awang dan adik-adiknya. Sampai suatu ketika Awang dan adik-adiknya berhasil meyakinkan Bonda untuk menceraikan saja ayah yang sudah tak dapat diharap itu lagi. Meskipun masih mencinta, Bonda dengan berat hati akhirnya menceraikan suami pertamanya itu. Tetapi Bonda segera mendapatkan penggantinya sebagai suami kedua. Suami kedua ini juga tak kalah ganteng dengan suaminya yang pertama. Tetapi berbeda dengan suaminya yang pertama yang kalau berbicara seringkali menggemuruh, suami yang kedua ini tutur katanya jauh lebih lembut. Awang segera mulai merasakan kenyamanan dengan ayah kedua ini, apalagi sang ayah ini memiliki senyum yang manis sekali. Ayah kedua ini juga suka memberinya uang jajan, membelikan untuknya dan adik-adik coklat yang manis serta es krim, atau membawakannya oleh-oleh bila habis bepergian. Melihat perkembangan ini, hati Bonda pun menjadi tenteram. Suami Bonda yang kedua ini ternyata seorang pengusaha yang lihai, meskipun kabarnya dulunya beliau bekas seorang serdadu. Dan rezeki keluarga itu pun tampak kian jauh membaik ketika berbilang tahun kemudian perusahaan sang ayah kedua ini kian berkembang luas bahkan hingga beranak pinak. Kata orang bahkan sempat menjadi semacam konglomerat. Itu, pengusaha yang punya berpuluh beratus perusahaan. Keruan saja Awang dan adik-adiknya pun ikut pula menjadi kian terkenal di seantero kota bahkan negeri, dan Bonda disebut-sebut sebagai wanita yang paling beruntung. Tetapi, kebahagiaan tidak pernah sempurna. Seringkali bahkan kebahagian hanyalah sebuah kamuflase belaka, semu, menutup kesedihan yang akan segera tiba. Usia perkawinan Bonda yang kedua ini memang amat panjang, bahkan mungkin termasuk pemegang rekor dunia barangkali. Ini sesungguhnya bukan karena Bonda dan anak-anak memang merasa telah mendapatkan ayah yang sejati, tetapi hanya karena mereka terlambat menyadari. Terlambat menyadari ada sesuatu yang salah dengan ayah kedua ini, di samping mungkin juga karena kelihaian sang ayah menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi. Maklumlah, pengusaha. Untung dibilang rugi, rugi dibilang untung; tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Yang mula-mula mulai dirasakan oleh Bonda dan anak-anak adalah, perlahan-lahan hampir tanpa disadari gerak mereka dibatasi. Awalnya dilarang ke luar negeri, karena katanya di sana sering ada terorisme. Lalu dilarang jalan ke ujung negeri, karena katanya takut tersesat nanti. Hingga bahkan kemudian sampai ke rumah tetangga pun harus diawasi. Kemudian, soal bercakap. Tak baik bercakap terlalu banyak, kata ayah kedua, karena nanti akan mubazir dan salah-salah dilalu setan. Bercakap seperlunya saja, dan harus dengan penuh sopan-santun tutur-katanya. Dengan begitu, tentu saja kehidupan kian lama perlahan-lahan kian terasa kering. Macam tinggal di kuburan saja; gerutu Bonda terlepas suatu kali. Belum lagi –belakangan ayah kedua, melalui satpam penjaga rumahnya– mulai suka melecut Awang dan adik-adiknya bila melanggar peraturan-peraturan itu. Maka, kehidupan Bonda dan anak-anak pun kian terasa mencekam. Lalu, ditambah pula lagi Bonda dan anak-anak mulai menyadari kalau majunya perusahaan ayah kedua ini bukan semata-mata berkat kelihaian dan kerja kerasnya, tetapi ternyata juga terutama berkat kelicikannya, yang selama ini tidak mereka sadari. Bonda sebagai wanita cantik dan anak tunggal bukanlah terlahir miskin. Bonda sesungguhnya memiliki banyak warisan tanah, kebun, dan perhiasan dari orang tuanya. Itulah yang sesungguhnya telah dimanfaatkan oleh sang ayah kedua untuk menggelembungkan, atau sekarang boleh ditulis “menggelembungkan”, usahanya. Banyak tanah Bonda yang telah digadaikan, banyak kebun Bonda yang telah dipanen habis, dan banyak perhiasan Bonda yang telah dijual –yang semula semua diikhlaskan oleh Bonda sebagai bentuk kecintaan dan penghormatannya kepada suami keduanya ini. Tapi, apa lacur, bahkan itu semua ternyata belum juga cukup karena ternyata kemudian diketahui sang ayah kedua ini juga ternyata punya banyak utang mulai dari bank-bank hingga tengkulak dan rentenir. Ini kemudian mereka ketahui ketika para pengutang itu mulai sering datang ke rumah untuk menagih utang-utang ayah. Tentu saja Bonda dan anak-anak terkaget-kaget, tapi mereka tak dapat berkata apa-apa. Sampai suatu ketika sang ayah kedua meninggal mendadak karena stroke; meninggal tegang karena memikirkan utang. Ayah ketiga, di luar dugaan Awang dan adik-adiknya, ternyata bekas wakil direktur sang ayah kedua. Bonda agaknya sengaja memilih lelaki yang memiliki bola mata yang lucu ini barangkali lebih karena unsur strategis semata. Tentu, selain sang (mantan) suami kedua, maka orang yang paling mengerti tentang lika-liku perusahaan-perusahaan mereka adalah sang wakil direktur ini. Maka, beliau diharapkan dapat bersegera menyelamatkan keadaan perusahaan-perusahaan yang mulai karam itu. Suami Bonda yang ketiga ini ternyata juga seorang yang sangat ramah. Gaya berbicaranya sangat cepat, tetapi lucu bagi kebanyakan orang; apalagi bila ditambah dengan paduan koreografi gerakan tangan dan matanya yang macam orang sedang menarikan tarian Bali itu. Beliau juga orangnya terbuka, dan yang lebih dari itu, yang paling membanggakan Awang dan adik-adiknya adalah, sang ayah ketiga ini ternyata juga seorang ahli kapal. Dan konon, cita-cita sang ayah ketiga ini sedari dulu adalah membuat kapal yang bisa menyelam sekaligus bisa lewat jalan darat! Hebat, bukan? Tetapi kali ini, entah kenapa, segera saja Awang dan adik-adiknya menjadi bosan dengan sang ayah ketiga. Bahkan, kalau kemudian ditanya-tanya kembali kepada Awang dan adik-adiknya apa sebabnya, mereka tidak bisa menjawab dengan pasti. Paling-paling yang sering dikemukakan adalah karena sang ayah ketiga adalah orangnya sang ayah kedua yang menyebalkan itu! Padahal sang ayah ketiga cukup berhasil dalam menormalkan kembali sebagian besar perusahaan-perusahaan mereka. Didesak oleh anak-anaknya, Bonda kemudian terpaksa menceraikan suaminya yang ketiga ini. Dan barangkali karena peristiwa ini pulalah Bonda mendadak punya pikiran bahwa anak-anaknya telah pada dewasa, sehingga mereka berhak pula untuk menentukan siapa ayah mereka selanjutnya. Maka, sejak itu pemilihan ayah-ayah selanjutnya pun dimulai. Suami keempat yang dipilih oleh anak-anaknya –di luar dugaan Bonda– adalah seorang lelaki yang sudah hampir sepuh, bahkan cenderung pikun. Dalam kesendiriannya, Bonda kadang terpikir mungkin anak-anak sudah mulai mengganggapnya tua. Segera saja perasaan sedih melanda hati perempuan yang sebenarnya masih saja tetap cantik itu, meski di saat yang sama perlahan-lahan ia mulai membenarkan. Tapi karena ini adalah pilihan anak-anak, yang memang sudah ditetapkannya dalam hati mulai sejak ini memang harus demikian, Bonda pun perlahan-lahan mencoba menerima dengan keikhlasan. “Toh, aku juga sudah mulai beranjak tua,” pikir Bonda kemudian. “Aku tidak lagi memerlukan kemudaan laki-laki.” Tetapi di lain pihak Bonda juga mencoba berpikir dengan positif. Suami keempat Bonda ini adalah seorang ustad yang sederhana tetapi sangat terkenal di kota mereka. Mungkin jalan pikiran anak-anak adalah dengan mendapatkan suami seorang ustad, Bonda tidak lagi perlu khawatir akan sifat culas yang mungkin muncul dari seorang laki-laki. Tidak mungkinlah sebagai seorang ustad, laki-laki itu akan suka main-main perempuan. Tidak mungkin juga dia akan menjadi seorang otoriter yang pemarah dan pemabuk. Tidak mungin juga dia bila berusaha akan menjadi seorang yang licik serta akan mengekang kehidupan mereka. Seorang ustad tentu tahu dan taat pada hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Apalagi perlahan-lahan Bonda kemudian mulai dapat menyenangi laki-laki itu karena ia ternyata seorang yang suka melucu, ceplas-ceplosan, dan sangat terbuka. Begitu terbukanya sehingga sang ayah keempat ini bahkan mengatakan kepada Awang dan adik-adiknya, “Kalian boleh bermain ke mana-mana saja! Ayah tak akan melarang kalian melakukan apa pun.” Tak disangka Bonda, akibatnya bagi anak-anaknya ternyata di luar dugaan. Awang dan adik-adiknya yang selama puluhan tahun terbiasa hidup tak jauh-jauh dari rumah, nyaris terkekang seperti dalam penjara serta hampir tidak boleh melakukan permainan apa pun, segera saja tiba-tiba seakan menjadi serombongan kuda liar yang dilepaskan di sebuah hutan sabana yang mahaluas. Segera saja Bonda merasa khawatir, tapi lagi-lagi dengan perasaan keibuannya Bonda mencoba memahami perkembangan yang terjadi. “Ah, mungkin memang sudah seharusnyalah demikian,” ajuk Bonda dalam hati. “Kasihan anak-anak itu, setelah terkurung sedemikian lama bolehlah sekarang sedikit melepas-lepas hati.” Tetapi di luar dugaan, anak-anak yang sudah mendapatkan kebebasan sepenuhnya oleh ayah keempat itu malah berbalik menyerang lelaki tua itu. Tiba-tiba saja Awang dan adik-adiknya ada saja terasa tak selesa. Tentu saja Bonda jadi terheran-heran. Padahal bukankah laki-laki ini adalah pilihan mereka sendiri? Demikian pikirnya. Tetapi anak-anaknya mengatakan bahwa ayah mereka memang suka melucu, tapi lama-lama jadi tidak lucu lagi. Lalu, yang menurut mereka agak memalukan, ayah mereka ini suka muncul selamba saja, sesuka hatinya saja dengan pakaian yang dikenakannya. Jauh sekali dibanding ayah pertama mereka yang terkenal perlente itu, atau dari ayah kedua yang terkenal rapi, serta ayah ketiga yang terkenal modis. Maka atas paksaan anak-anaknya itu Bonda pun kemudian menceraikan suaminya yang keempat ini. Sebagai gantinya anak-anak memilih suami Bonda yang kelima seorang lelaki muda yang tampan. Benar-benar beda 180° dari suaminya yang keempat. Bonda jadi geleng-geleng kepala sendiri, dan merasa mulai tak mengerti dengan jalan pikiran anak-anaknya. Suami Bonda yang kelima ini tadinya sebenarnya adalah runner-up atau pilihan kedua saat anak-anak mencarikan suami yang keempat untuk Bonda. Kenapa kemudian yang menang ustad sepuh itu, tak lain karena laki-laki yang sekarang menjadi suami kelima Bonda ini begitu tampannya sehingga menjadi terlalu manis untuk seorang laki-laki! Lihatlah gerakannya yang begitu lembut, hingga bahkan cenderung gemulai. Lihatlah pakaiannya yang begitu modis, hingga bahkan berhiaskan renda dan sulaman. Dengarlah tutur-katanya yang begitu perlahan, hingga nyaris tak kedengaran. Ah, setelah memilih ayah kelima mereka ini, Awang dan adik-adiknya seringkali jadi geli hati sendiri. Tetapi sejurus kemudian kelemah-lembutan itu berubah menjadi petaka bagi mereka. Dalam gemulainya itu sang ayah kelima ternyata seorang yang kaku pada aturan-aturan. Beliau memang seorang yang cenderung pendiam, tetapi sekali bercakap kata-katanya harus diperturutkan. Sekali katanya ya, selamanya ya; sekali katanya tidak, selamanya tidak. Dan yang lebih merunsingkan Awang dan adik-adiknya adalah, sang ayah kelima ini gemar sekali melego perusahaan-perusahaan mereka. Alasannya, “Kita tak perlu perusahaan banyak-banyak, pusing memikirkannya. Biar sedikit, tetapi fokus. Itu yang lebih menguntungkan!” Benar-benar tak dinyana. Sampai suatu waktu kemudian Awang dan adik-adiknya memiliki alasan untuk memaksa Bonda menceraikan suami kelimanya itu ketika lelaki gemulai itu menghilangkan berhektar-hektar tanah warisan. Suami keenam pun kemudian dipilih. Ia adalah seorang lelaki yang tak kalah ganteng dari ayah pertama, tinggi besar pula, dan yang menarik punya hobi menyanyi. Bonda jadi berdesir hati, dan senyum-senyum sendiri dengan pilihan anak-anaknya ini. Dalam hati, Bonda serasa muda kembali. Tapi agaknya seperti orang-orang bilang, sang ayah keenam ini seperti tak memiliki wahyu keratonsuami. Begitu selesai pelaminan, bencana datang silih berganti menimpa mereka. Tanah warisan mereka di ujung sana longsor tiba-tiba sehingga menyebabkan air telaga yang ada di situ melimpah kemana-mana. Perusahaan mendadak rugi dan tumbang satu per satu, tanpa sebab-sebab yang jelas. Angin puting beliung bahkan sempat menyapu habis dapur rumah mereka. Tetapi yang kemudian lebih menyebalkan Awang dan adik-adiknya, sudah begitu, sang ayah keenam ini kerjanya hanya menyanyi saja. Masya Allah! Dan sekarang, mereka sedang bermaksud mencari suami ketujuh untuk Bonda sekaligus juga ayah ketujuh untuk mereka. Apakah kesalahan-kesalahan itu akan berulang? “Haya, ingat, ini angka ketujuh, angka keramat,” kata Asiong, salah seorang adik Awang saat mereka sedang merundingkan masalah itu. “Kita sekali ini harus memilih dengan tepat, kalau tidak alamat akan kiamatlah.” “Betul itu,” sambar Luqman pula, salah seorang adiknya yang terkenal alim. “Meski aku tak percaya dengan angka-angka keramat, kita harus belajar dari kesalahan selama ini. Kita harus tawadu, jangan lagi mau tergoda dengan iming-iming sebatang coklat dan baju baru. Kita harus memilih dengan hati yang bersih kali ini. Bila perlu sekali ini sebelum memilih kita shalat tahajut bersama-sama.” “Menurut pemahaman aku,” tambah Krishna pula yang suka pada mejik-mejik, “aku setuju dengan apa yang dikatakan abang Asiong sekaligus juga apa yang dikatakan adik Luqman. Jadi kita harus mempelajari apa kesalahan kita selama ini, apa kelemahan ayah-ayah kita selama ini. Dan untuk itu kita memang perlu membersihkan dan menenangkan hati dan pikiran. Bila perlu kita boleh coba meditasi untuk mendapatkan petujuk.” “Tapi, abang-abang sekalian,” Angela di bungsu cantik bermata biru lagi pintar, “kita jangan melupakan satu hal. Of course kita boleh saja menentukan dan memilih seperti apa yang kita inginkan, tetapi gimana kalau di luar sana tidak ada lelaki yang seperti itu? By the way, aku sendiri masih kesulitan mendapatkan suami yang kuidam-idamkan. So, be realistic, agaknya kata-kata itu juga harus kita pertimbangkan. Okay?!” Awang tersenyum. Dan sekarang sudah mulai berbondong-bondong datang lelaki dari berbagai macam kalangan ke rumah mereka. Bagaimana pun, Bonda masihlah seorang wanita yang sangat menawan, di usianya yang kian hari kian bertambah matang. Tetapi terselip juga pikiran, kalau mereka salah terus menerus, ada kemungkinan karena senantiasa menderita sang Bonda akhirnya tak tertahankan diri lagi hingga menjadi tua, pikun, dan layu. Apakah ia tega melihatnya? Dan, di rumah pun sudah mulai penuh dengan berbagai kado bingkisan, parsel persembahan, dan karangan bunga rayuan. Laki-laki yang datang penuh dengan senyuman serta keramah-tamahan. Ah, tamu-tamu yang berbaik hati. Yang berharap dapat menjadi suami ketujuh Bonda Pertiwi. Orang-orang kampung pun memperhatikan dengan harap-harap cemas, apakah Awang dan adik-adiknya masih saja terkungkung penyakit bebal itu. Tetapi, diam-diam agaknya Awang sudah menetapkan kriteria sendiri. “Kalau semua model masing-masing telah gagal,” pikirnya dalam semedi, “bagaimana kalau kali ini aku gabung saja, sehingga semuanya harus ada dalam satu orang. Dia haruslah seorang yang gagah, penyuka seni, ramah, humoris, suka memperhatikan tetangga dan lingkungan, seorang ustad, seorang pengusaha, seorang penyanyi atau bahkan artis sekalian, sekaligus seorang tentara atau bahkan jenderal!”*** Payungsekaki, 100708. Gde Agung Lontar, adalah salah seorang cerpenis Riau. Beberapa karyanya dimuat di berbagai media dan antologi. Tinggal di Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



