| Radovan Karadzic |
| Sabtu, 26 Juli 2008 | |
|
Oleh : Hasan Junus
HARI-HARI akhir ini suatu nama yang melejit dalam pemberitaan dunia menyebutkan nama seorang tokoh Serbia, Radovan Karadzic, dinyatakan sebagai seorang yang sangat tersangkut dalam pelanggaran berat hak-hak azasi manusia sebagai seorang yang bertanggung jawab pada ethnic cleansing atau la purification ethnique. Istilah tersebut juga dikenal sebagai la genocide, padanan dari satu kata bahasa Yunani genos, yang bisa berarti suku bangsa, dan satu kata bahasa Latin, caedere, yang artinya membunuh atau membinasakan. Le Petit Larousse Illustre 1995 halaman … mengartikan kata itu sebagai ‘’Extermination systematique d’un groupe humain, national, ethnique et mreligieux’’ (Pembasmian secara sistematik suatu kelompok manusia, karena kebangsaan, etnis dan agama.). Tentang tokoh Radovan Karadzic yang dulunya seorang penyair itu pernah saya tulis dalam sebuah berkala sastra Suara yang dikelola oleh Elmustian Rahman, Al azhar dan Hasan Junus. Tulisan yang saya beri judul ‘’Di Seberang Jembatan Sungai Drina’’ itu terbit dalam Nomor Kedua November 1998 dari halaman 46 sampai halaman 49. Radovan Karadzic dalam perjalanan estetikanya sebagai penyair sepertinya mempunyai puncak cita-cita hendak menjadi seperti Nero, kaisar Romawi yang berdendang diiringi lira yang dipetiknya ketika Roma sedang di(ter)bakar dilalap api yang menjulat-julat. Nero memang memberikan inspirasi bagi seorang penyair yang dengan tangannya sendiri membakar ibukotanya Roma. Majalah berita TIME (July 29, 1996) berupaya keras mencari tahu tentang siapa Radovan Karadzic itu; bahan inilah yang saya pakai untuk tulisan dalam berkala sastra Suara itu. Salah-satu cebisan sajaknya yang terkumpul dalam suatu himpunan sajak ialah seperti berikut ini: Akhirnya aku pun rebah / Berbinar seperti rokok menyala, / Pada bibir yang gemetar: / Sedang mereka mencariku ke sana ke mari / Kunantikan sergapan fajar. (Nukilan dari himpunan yang berjudul “A Morning Hand Grenade”, Rodovan Karadzic, 1983). Sebagai penyair Radovan Karadzic tentulah berdiri di kutub lain dibandingkan dengan Mahmoud Darwish, penyair Palestina yang menulis konsep awal pidato Yaser Arafat sehingga layak sangat dinyatakan sebagai suatu karya sastra terutama karena sifatnya yang tak terterjemahkan. Radovan tumbuh sebagai seorang anak petani di suatu kampung di kawasan berbukit di Montenegro pada 19 Juni 1945. Masih pada usia belia ia sudah diamanahkan oleh keluarganya mengelola sebidang tanah pertanian dan peternakan. Malam-malam selalu diisinya dengan mendengarkan senandung tukang cerita mendendangkan tentang pertempuran menyala antara orang Serbia dengan Turki yang dinamakan oleh pakar sastra lisan sebagai ‘’learning nationalism by osmosis’’. Ayah Radovan berada dalam penjara karena tindakannya dalam masa perang yaitu menjadi anggota Chetnik (gerilya nasionalis yang memerangi baik tentara pendudukan Nazi Jerman di Yogoslavia dan juga kaum partisan di bawah pimpinan Tito). Tidak didapat keterangan apakah Radovan Karadzic ada bertalian darah dengan Vuk Karadzic yang lahir di Trsic tahun 1787 dan meninggal-dunia di Eina tahun 1864, seorang reformator bahasa Serbia yang terkenal. Pada tahun 1960 ia bergabung dengan arus gerakan anak-anak muda Serbia yang meninggalkan dusun mereka untuk menjadi penduduk kota. Pada masa itulah ia memelihara rambut panjang dan menyatakan dirinya sebagai penyair. Ia lalu belajar psikiatri di Sarajevo karena menjadi dokter (fisik maupun jiwa) pada masa itu dipandang sebagai suatu posisi yang aman dan bergengsi. Dalam menjalani pendidikannya inilah ia berkenalan dan berhubungan erat dengan Lijljana Zelen, anak perempuan seorang kaya-raya dan berkedudukan tinggi. Mereka lalu menikah dan menghuni sebuah apartemen di Jalan Sutjeska No 2 tempat ayah Lijljana juga tinggal. Teman-teman Radovan mengatakan bahwa Lijljana itu seorang wanita yang tidak menarik tapi sangat berkuasa. ‘’Radovan menikahi Lijljana mungkin sekali dengan pertimbangan keuangan sebagai yang biasa dialami anak-anak petani miskin yang sesat di tengah keramaian kota. Dengan demikian amanlah urusan makan dan tempat tinggal serta uang.’’ Sedangkan Radovan sendiri menamakan isterinya sebagai seorang wanita berkecantikan Creole. Mereka memiliki dua orang anak, seorang perempuan dan seorang lelaki. Lalu suatu perubahan besar terjadi pada diri Radovan Karadzic. Dulu ia biasa hidup dalam pergaulan akrab dengan etnis dan puak-puak lain di Sarajevo, baik dengan orang Muslim atau dengan orang Kroasia yang beragama Kristen. Maka di seberang jembatan Drina, yang mengingatkan orang pada novel besar Ivo Andric, peraih Hadiah Nobel yang berjudul seperti itu, di sebelah sana peperangan gencar dan penistaan manusia, orang-orang di negeri itu juga melahirkan karya-karya seni yang menggambarkan darah yang mengalir sia-sia, diselang-seling dengan duka-cita dan air mata. Sepatah kata pengarang Perancis kelahiran Aljazair yang patut jadi sebut-sebutan ialah, ‘’Le non est la voie qui mène au oui!’’ (Tidak ialah jalan yang menghala ke arah Ya). Sebut saja satu nama terkenal: Susan Sontag, pengarang wanita terkemuka dari Amerika Serikat. Sebagaimana diberikan dalam TIME (30 Agustus 1993) pengarang dan kritikus sastra Amerika Serikat ini pada waktu itu membentangkan sandiwara absurd En attendant Godot (Menanti Godot) karya Samuel Beckett di tengah puing-puing kota Sarajevo, kota tempat picu Perang Dunia Pertama dulu meletus yang kini telah menjadi mirip dengan Athena di Yunani. Dramatis personae karya Samuel Beckett yang dibentangkan oleh Susan Sontag itu terdiri dari orang-orang Muslim Bosnia, orang-orang Croat dan juga orang-orang Serbia, bercampur dan beraduk sebati dan selarah menjadi pemain yang mendukung karya terkenal itu. Apa yang hendak dikatakan oleh Susan Sontag dengan membentangkan karya itu barangkali suatu pernyataan bahwa hidup ini harus terus berjalan dan dijalankan meski seperti apapun keadaannya. Dengan puisi-puisinya Radovan Karadzic berhasil sedikit mengukir nama di belantara estetika, dan sebagai pengamal ethnis cleansing atau la purification ethnique ia mungkin akan diseret di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, karena pelanggaran hak-hak azasi manusia yang berat. Ada sepatah ungkapan purba dalam bahasa Melayu yang masih patut diingat yaitu: Tangan Mencencang Bahu Memikul. Tanganmu mencencang, Radovan, maka bahumulah yang memikul. Sekarang bahumu sedang memikul beban dosa.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



