Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Jalan Panjang Menuju Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab
Sabtu, 26 Juli 2008
Mimpi Itu Terwujud Setelah 41 Tahun
Fakultas kedokteran yang menjadi cita-cita Tabrani Rab sejak 41 tahun silam akhirnya terwujud juga. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tanggal 11 Juli 2008 lalu memberikan ijin bagi Universitas Abdurrab untuk penyelenggaraan program studi pendidikan dokter jenjang S1. Kedokteran yang dibangun dari mimpi untuk membuat jumlah dokter di Riau berimbang dengan jumlah masyarakat itu akan tampil dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang memungkinkan gelar sarjana kedokteran diraih dalam waktu lima tahun

Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru  Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Tahun 1967, Tabrani Rab yang telah menyandang gelar dokter dari Univeristas Padjajaran Bandung (Unpad) dan telah sempat bekerja di tempat itu, pulang ke Riau. Kepulangannya itu menambah jumlah dokter yang ada di Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau menjadi empat orang. Sebuah jumlah yang sangat minim, bila dibandingkan jumlah penduduk masyarakat Riau saat itu.

Untuk itulah, pria kelahiran Bagan Siapiapi, 30 September 1941 ini punya mimpi agar Riau memiliki Fakultas Kedokteran. Tempat memproduksi dokter-dokter muda yang kelak dapat melayani masyarakat Riau dengan jumlah yang berimbang.

Cita-citanya itu pun dikumandangkan, Universitas Riau tempatnya mengajar pun menyambut baik ide itu. Unri yang kala itu dipimpin oleh Soeman Hs pun membuka Fakultas Kedokteran. Namun cita-citanya gagal di tangan pusat, karena dinilai Unri belum layak mendirikan Fakultas Kedokteran. Mimpi 41 tahun silam itu pun terkubur rapi sampai kemudian bergelora lagi lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1972. Namun kali ini Fakultas Kedokteran itu tidak dibangun di Unri namun di Universitas Islam Riau (UIR). Namun, lagi-lagi keinginan dan mimpi itu kandas. Kegagalan yang sudah dua kali itu, tak juga menyurutkan keinginan Tabrani untuk mendirikan fakultas kedokteran di Riau.

Kali ini dia mulai membangun mimpi itu dengan membangun sendiri sebuah yayasan pendidikan bernama Yayasan Abdurrab pada tahun 1983. Yayasan itu memang tidak serta-merta mewujudkan mimpinya mendirikan fakultas idamannya itu. Namun harus dimulainya dari awal dengan mendirikan Sekolah Menengah Analisis Kesehatan (SMAK), kemudian akademi kesehatan meliputi Akademi Keperawatan, Akademi Fisiotrapi, dan Akademi Kebidanan. Lalu pada tahun 2005, Yayasan Abdurrab mendapat SK dari Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) RI untuk mendirikan Universitas Abdurrab dengan 14 program studi.

Berbekal itulah, Tabrani bersama yayasannya kembali membangun Fakultas Kedokteran. Lagi-lagi kegagalan yang ditemui Tabrani, meskipun universitas itu telah menerima mahasiswa kedokteran dalam dua angkatan. Mahasiswa yang terlanjur diterima tadi memilih pergi meninggalkan Universitas Abdurrab karena tidak keluarnya izin Fakultas Kedokteran tersebut.

Tapi tidak ada kata berhenti bagi Tabrani dan orang-orang di Universitas Abdurrab. Meskipun tanpa mahasiswa, izin pendirian tetap diurus. Meskipun bersamaan dengan itu, ternyata Unri telah berhasil membangun Fakultas Kedokteran.

“Memang Unri sudah punya Fakultas Kedokteran. Namun jumlah dokter di Riau tetap saja belum memadai. Profil Kesehatan Provinsi Riau tahun 2006 menyebutkan rasio perbandingan jumlah dokter dengan jumlah penduduk 1 banding 6.060. Sementara rasio dokter Puskesmas terhadap jumlah penduduk 1 banding 12.505. Untuk itu saya tetap ingin membangun Fakultas Kedokteran agar jumlah dokter yang melayani masyarakat berimbang,” ungkapnya di ruang kerja Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab.

Keinginan dan mimpi Tabrani akhirnya terjawab. Pada tanggal 11 Juli lalu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) mengeluarkan izin penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Dokter (S1) pada Universitas Abdurrab. Bahkan Universitas Abdurrab juga mendapatkan bantuan dari Universitas Indonesia (UI) dalam menjalankan Fakultas Kedokteran. Hingga nantinya, sampai waktunya fakultas yang terletak di Jalan Riau Ujung ini mampu menjalankan secara mandiri program pendidikan dokternya.

Tamat dalam Lima Tahun

Cita-cita untuk mendapat izin penyelenggaraan program studi pendidikan dokter jenjang S1 telah berada di tangan. Namun jalan panjang untuk menunjukkan eksistensi Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab baru saja dimulai. Fakultas Kedokteran ini harus menghadapi kenyataan bahwa kini sekolah kedokteran sudah menjamur. Apalagi sejak dibukanya kelas khusus oleh universitas-universitas favorit di Indonesia. Di mana untuk masuk Fakultas Kedokteran seperti UI dan Universitas Gadja Mada (UGM) tidak hanya lagi mengandalkan otak. Tetapi mereka bisa masuk lewat kelas tambahan asal memiliki kemampuan finansial untuk membiayai kelas tambahan tersebut.

Keadaan itu pun harus ditanggapi Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab dengan serius. Salah satunya mereka capai dengan menerapkan sistem pendidikan dokter yang lebih efektif dan lebih cepat tamat. Untuk itu mereka memilih memakai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dengan metoda pembelajaran full Problem Based Learning (PBL) dengan prinsip SPICES (Student centered, Problem-based learning, Integreated teaching, Community oriented, Early clinical exposure, Self-directed learning). Secara sederhana semua itu disebut dengan sistem blok. Sistem blok itu kini hanya dipakai oleh empat universitas ternama di Indonesia, yakni UGM, UI, Unpad, dan Universitas Islam Indonesia (UII).

Dokter Dimas Pramita Nugraha, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab yang telah mendapatkan pelatihan tentang sistem pendidikan itu memaparkan perbedaan dari sistem blok itu dengan sistem konvensional . Sistem blok, menurutnya berorientasi student center (pusatnya mahasiswa). Di mana mahasiswa jauh lebih berperan dalam mengembangkan pengetahuannya dan dosen hanya sebagai fasilitator. Sementara sistem konvensional, yakni sistem pendidikan dokter yang dulu juga dijalaninya berorientasi teacher center (pusatnya dosen). Di mana berbagai ilmu yang diajarkan lebih banyak bersumber dari dosen. Istilahnya diasup terus, sehingga mahasiswa menjadi tidak mandiri.

Sistem blok, tambah Dimas, juga menarik karena mahasiswa belajar tidak berdasarkan teori-teori semata, namun langsung terjun pada berbagai kasus. “Jadi mereka langsung belajar berdasarkan kasus yang dihadapi dan melakukan praktek. Pembahasannya juga dibuat terintregasi. Misalnya untuk persoalan demam, mereka membahas persoalan demam itu dari demam biasa, demam anak-anak dan klasifikasi deman lainnya. Tidak seperti sistem konvensional yang sepotong-sepotong. Selain itu sistem konvensional juga sistem belajarnya bertingkat. Kalau belum dapat pelajaran ini tidak boleh mengetahui pelajaran berikutnya,” ungkap Dimas.

Dengan sistem blok tersebut, lanjut Dimas, menjamin mahasiswa akan lebih terampil dan cepat tamat. “Saya pikir sistem ini jauh lebih bagus dari sistem pendidikan dokter yang dulu saya jalani. Keuntungan lainnya, mereka bisa tamat dalam waktu lima tahun. Tidak seperti saat ini yang paling cepat bisa tamat selama enam tahun,” ungkap pria yang banyak mendapatkan pelatihan tentang sistem pengajaran metode ini di Fakultas Kedokteran UGM.

Untuk mendukung sistem blok yang ada penanggung jawab Fakultas Kedokteran itu yang juga menjadi Wakil Rektor Universitas Abdurrab, Susiana Tabrani, mengungkapkan Universitas Abdurrab menyiapkan fasilitas yang juga tidak main-main. Uang ratusan miliaran rupiah sudah dipersiapkan untuk menjamin bahwa sarana dan prasana pendukung Fakultas Kedokteran itu. Untuk saat ini saja, tambahnya, dari kunjungan berbagai dosen peninjau dari UI dan juga dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyatakan telah memadai. Baik dari kelengkapan laboratorium yang mereka miliki, gedung fakultas kedokteran yang akan digunakan maupun hal lainnya.

Bahkan sarana penunjang lainnya seperti jaringan internet 24 jam dan perpustakaan super komplit akan mereka siapkan secara sungguh-sungguh. Sehingga sistem pendidikan yang berpusat kepada mahasiswa dapat terlaksana dengan baik.

“Sistem itu juga membuat mahasiswa menjadi kreatif. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan yang cukup pesat dan bisa diakses di internet maka mereka akan belajar dengan sendiri. Kita juga akan bekali mereka dengan kemampuan berbahasa inggris untuk membaca berbagai literatur itu.Kita akan rubah prilaku mereka menjadi mahasiswa-mahasiswa yang rajin membaca,” tambah Susi optimis.

Susi juga menjelaskan seiring dengan full bimbingan dari UI, para dosen mereka juga terus dipersiapkan untuk menjadi tenaga pengajar yang bisa mengikuti zaman. Para dosen yang ada terus diprogramkan untuk mendapatkan strata pendidikan S2 dan juga sejumlah pelatihan lainnya untuk mendukung sistem pendidikan berbasis kompetensi tersebut.

Namun, tak kala disinggung semua yang dipaparkan Susi memang ideal secara teori dan di atas kertas, tetapi bagaimana dengan kesiapan mental mahasiswa? Mengingat selama ini sebelum menjadi mahasiswa para siswa tersebut terbiasa sistem belajarnya mendapatkan asupan dari guru-guru mereka. Membaca juga bukan bagian dari budaya mereka.

Susi menanggapinya dengan serius. Menurutnya semua hal mungkin dan manusia bisa berubah. “Sebagai langkah awal sebelum sistem pendidikan dimulai kita akan rubah pola pikir mereka. Kita siapkan waktu khusus untuk perubahan ini dan tenaga terampil. Saya percaya dan telah mencoba, ketika seseorang yang malas saya tempatkan pada lingkungan yang rajin, mereka bisa berubah. Saya yakin mereka pasti bisa dirubah,” papar Susi.

Dengan semangat dan keoptimisan itulah, pada tahun ajaran 2008/2009 ini, Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab membuka pendaftaran perdana. Mereka akan menampung sekitar 50 calon dokter Riau yang akan mendapat gelar sarjana kedokteran dalam waktu lima tahun. Mereka juga menjalin kerja sama dengan Bank Syariah Mandiri. Dengan sistem itu memungkinkan mahasiswa dapat membayar biaya kedokteran secara cicilan ke bank.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org