Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Ancaman Menganga dari Primadona
Sabtu, 26 Juli 2008
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru  Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Dalam sepuluh tahun terakhir ada ‘’pepatah’’ baru tentang kekayaan alam yang dimiliki Provinsi Riau. Jika dulunya provinsi ini dikenal sebagai daerah yang kaya minyak, kini ‘’pepatah’’ untuk Riau berubah menjadi provinsi ‘’di atas minyak di bawah minyak’’. Dikatakan di bawah minyak karena Riau sejak dulu memang dikenal sebagai daerah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia. Dan sejak sepuluh tahun terakhir bumi Riau tidak hanya diberkahi limpahan minyak bumi, tapi juga dilimpahi minyak sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit.

Lahan perkebunan kelapa sawit di Riau dari tahun ke tahun juga terus mengalami peningkatan yang berarti. Pada 1998 luas areal perkebunan kelapa sawit hanya 796.250 hektare tetapi sepuluh tahun kemudian luasnya telah meningkat menjadi 2,3 juta hektare.  

Terus meningkatnya keinginan pengusaha sawit memperluas lahannya tidak lepas dari semakin melambungnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar dunia. Tahun ini luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan mencapai 6.425.061 hektare. Pada 2009 nanti luasnya diperkirakan akan meningkat menjadi 7.125.331 juta hektare.

Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun, dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Mei 2008 lalu pernah mengutarakan bahwa prospek perkebunan kelapa sawit yang cerah karena keperluan CPO dunia yang akan terus meningkat. Diperkirakan keperluan CPO dunia sekitar 3 juta ton per tahun. Sementara itu produksi CPO dunia hanya meningkat sekitar 1,5 juta ton per tahun. Tidak seimbangnya peningkatan keperluan dan produksi CPO selama beberapa tahun terakhir mengakibatkan harga CPO melambung. Jika pada Mei 2007 harga CPO masih sekitar 700 dolar AS per ton, pada Mei 2008 harganya sudah menembus 1.000 dolar AS per ton.

Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, Ahmad Manggabarani juga mengutarakan bahwa pada 2008 Indonesia masih kekurangan 70 juta bibit sawit. Di Indonesia sudah ada tujuh perusahaan produsen benih sawit nasional, namun hanya 159 juta bibit sawit yang dapat dihasilkan dari tujuh produsen benih tersebut. Untuk itulah pemerintah berupaya mengimpor bibit sawit.

Meningkatnya permintaan dunia terhadap CPO ini tentu saja berimbas kepada peningkatan lahan sawit di Indonesia dan juga di Riau tentunya. Maka tidak heran jika perusahaan dan masyarakat di Riau terus menerus mengembangkan perkebunan kelapa sawit.

Di tengah hasrat besar untuk mengembangkan kebun kelapa sawit itu muncul kebimbangan di hati mereka. Persoalannya adalah ketika ditemukannya bibit-bibit sawit palsu atau tidak unggul. Pengawas Benih Tanaman Perkebunan (BPT) dalam blog-nya memaparkan bahwa benih sawit palsu adalah benih yang tidak berasal dari sumber benih kelapa sawit legal. Umumnya dipasarkan secara perseorangan atau oleh perusahaan, dengan menyebutkan bahwa benih diperoleh dari sumber benih legal, berasal dari Malaysia atau dengan memalsukan label sumber benih legal.

Banyak kerugian akibat adanya bibit sawit palsu. Misalnya kelapa sawit yang ditanam berbuah lambat. Pohon kelapa sawit yang berasal dari benih palsu berbuah agak lambat, yaitu di usia 48 bulan. Sedangkan sawit yang berasal dari benih sudah berbuah di usia 36 bulan.

Dampak lainnya adalah produksi tandan buah segar (TBS) yang rendah dan cenderung terus menurun. Selain itu proses pengolahannya juga tidak efisien. Dan yang dampak yang paling utama tentu saja adanya kerugian finansial dan ekonomi. Karena tingkat produktivitas yang rendah, maka tingkat pendapatan juga menjadi lebih rendah.

Menanggapi banyak bibit sawit palsu yang ditemukan di Riau, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Drs HA Akmal Js M Ed mengutarakan, sekitar 500 ribu hektar lahan sawit milik masyarakat paling rentan menerima bibit sawit palsu. ‘’Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menanam benih kelapa sawit palsu atau tidak unggul. Ini untuk menghindari kerugian yang lebih besar di masa mendatang,’’ ujar Akmal.

Seperti diungkapkan Kepala Balai Benih Perkebunan Dinas Perkebunan Riau Ir Adjar Susena MM, kerugian yang akan dialami masyarakat itu bisa lama atau 25 tahun bila asal pakai bibit. Tak heran, ujarnya mengungkapkan, ada petani yang memiliki puluhan hektare kebun sawit di Kampar membongkar kebun sawitnya saat diketahui berasal dari bibit yang tidak unggul.

‘’Dia namanya tidak mau diekspose, tapi begitu dia tahu setelah berumur tiga tahun dibongkar untuk menghindari kerugian yang lebih besar,’’ ujar Adjar.

Prediksi yang lebih menakutkan bagi petani sawit bila memilih bibit yang tidak unggul atau palsu diungkapkan Kepala Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau (Unri) Ir Gulat ME Manurung MP. Menurutnya, masyarakat petani bukan tidak tahu kalau bibit unggul itu akan lebih baik dari pada bibit tidak unggul. Tetapi persoalannya adalah bagaimana dan dimana membeli yang namanya kecambah/bibit kelapa sawit yang unggul tersebut. Yang tidak diketahui oleh masyarakat adalah bahwa buah yang dihasilkan oleh bibit illegetim (tidak jelas asal usulnya) tersebut pada suatu saat akan ditolak oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) karena rendeman minyaknya cukup rendah serta merusak pabrik.

‘’Inilah yang paling menakutkan kita semua. Untuk saat sekarang mungkin PKS masih menerima dengan harga lebih murah karena kapasitas pabrik mereka belum optimal. Tetapi jika kapasitas pabrik PKS telah mencukupi dari hasil panen kebun perusahaan tersebut, maka perusahaan PKS hanya akan menerima buah jenis Tennera (T) dari masyarakat. Kalau ini terjadi, maka kiamatlah dunia perkelapasawitan kita dan RSJ akan over kapasitas,’’ tegasnya.

Apalagi Gulat mengklaim 85 persen kebun kelapa sawit masyarakat berasal dari bibit sawit tidak unggul atau palsu. Apakah kegembiraan petani sawit saat ini akibat kelapa sawit menjadi tanaman primadona yang diikuti tingginya harga CPO akan berubah tangis duka di masa datang pada saat PKS mulai selektif membeli TBS? Jawabannya, tergantung pilihan yang dilakukan petani saat ini dan kemampuan pemerintah memenuhi keperluan petani akan bibit unggul berkualitas. Bila tidak tanaman primadona menyimpan ancaman bagi petani di masa datang.(amf/fia/nto/a)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org