Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Tersesat di Jalan yang Benar?
Selasa, 22 Juli 2008
Oleh : Ronny Basista
Kader Partai Golkar, Chaidir, bersama kader PDI Perjuangan, Suryadi Khusaini, akhirnya ditetapkan sebagai salah satu pasangan yang berhak tampil pada pilgubri September mendatang. Majunya pasangan yang mengusung tag-line CS ini mengancam suara pemilih Partai Golkar, karena bagaimanapun Chaidir merupakan kader partai yang potensial.
Yang kemudian menjadi soal, kenapa hal ini terjadi kembali pada Golkar? Mengapa banyak kader partai berlambang beringin tersia-siakan hingga akhirnya bersauh di perahu partai lain? Lalu, apakah ini akan menjadi deretan catatan rontoknya Golkar dalam pilkada? Tulisan ini setidaknya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Potret Kemerosotan Golkar

Kini saat yang wajib bagi Golkar merenung, disertai penjelajahan segala alternatif solusi yang mungkin untuk merevitalisasi kinerja. Kekalahan partai ini di sejumlah pilkada merupakan pukulan telak. Satu per satu “benteng pertahanan” Golkar berjatuhan. Di tingkat provinsi, basis-basis tradisional di Sumatera (Utara, Barat, Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi), roboh. Kini tinggal Riau dan Kepulauan Riau yang dipimpin gubernur Golkar dan di tempat pertama pun belum tentu Golkar menang dalam pilkada sebentar lagi.

Dari seluruh Kalimantan, tinggal di Kalimantan Timur Golkar masih punya sisa harapan. Di seluruh Sulawesi, Golkar berkuasa hanya di dua provinsi (Gorontalo dan Sulawesi Barat), dan keduanya adalah daerah pemekaran. Di keempat provinsi basis tradisionalnya, Golkar kalah. Gubernur Maluku bukan Golkar. Dan, konflik berlarut yang kini mendera Maluku Utara berpusat pada keputusan Mendagri yang mengalahkan pasangan kandidat Golkar. Di Papua dan Papua Barat, kedua gubernurnya juga bukan orang Golkar.

Mungkin yang paling merisaukan adalah potret Jawa: Golkar kalah telak di Jawa Tengah (perolehan suaranya separuh dari pemenang), selain terjungkal di Jawa Barat. Bahkan Gubernur DKI Fauzi Bowo
tidak dapat diklaim sebagai “gubernur Golkar” karena ia diusung kerumunan 20 partai. Jika di Jawa Timur yang berpilkada bulan ini Golkar kalah pula, maka akar Beringin tinggal hanya menancap di
Banten, provinsi terbaru di Jawa. Maka absahlah generalisasi bahwa Partai Golkar rontok dari Sabang sampai Merauke. Dan, dalam keadaan yang beginilah Golkar Riau dihadapkan pada ‘’musuh dalam selimutnya’’, Chaidir, pada pilkada gubri mendatang.

Akselerasi Chaidir

Setidaknya sepanjang tahun lalu, Chaidir sudah berusaha menampilkan dirinya sebagai sosok yang pantas mendampingi Rusli Zainal (RZ) dalam pilgubri 2008. Dari rekaman media, kita menyaksikan begitu intensnya dia mengikuti ‘’jejak langkah’’ RZ ke berbagai penjuru negeri. Dari sinyal itu dapat ditangkap kalau dia mengincar posisi orang nomor 2 di Riau. Dalam hal ini dia masih ‘’sopan’’, biarlah jadi orang kedua asalkan tidak mencederai komitmen sebagai kader parpol.

Terus-menerus, Chaidir merapatkan diri di tengah ingar-bingar calon lain yang juga melakukan hal serupa. Tercatat tokoh-tokoh seperti Abdul Gaffar Usman, Mambang Mit, hingga Rusli Efendi yang ‘’malu-malu kucing’’. Lambat-laun dia menyadari bahwa dia bukanlah pasangan yang ideal bagi RZ, setidaknya itu menurut petinggi parpol ini. Di tengah ketidakpastiannya ini Chaidir mendapat sinyal positif dari PDI Perjuangan, parpol yang notabene kompetitor utama Partai Golkar, untuk dipasangkan dengan kader parpol itu sendiri, Suryadi Khusaini. Chaidir, kader Golkar yang tersesat itu, akhirnya mendapatkan jalan menuju kompetisi pilgubri. Bahkan kali ini tidak sekadar nomor 2, tetapi menuju orang nomor 1 alias gubernur.

Yang menarik dari masuknya Chaidir dalam bursa cagubri ini adalah berulangnya kasus di mana kader Golkar menggunakan perahu parpol lain untuk jabatan eksekutif. Kita ingat, di tingkat pusat, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memanfaatkan perahu Demokrat untuk jabatan itu, dan setelah mendapatkannya dia pun menahkodai partai ini. Sebelumnya di Riau sendiri pun demikian. Rusli Zainal menggunakan PPP menuju perebutan kursi gubernur pada 2003. Dan, cerita selanjutnya persis sama dengan JK, di mana dia akhirnya menyingkirkan Ramlan Zas untuk memimpin Golkar Riau.

Menguatnya posisi pasangan CS di berbagai survei belakangan ini merupakan keberuntungan sekaligus kebuntungan bagi Golkar. Beruntung karena ada kadernya yang mulai mendapat tempat di mata masyarakat, sementara buntung karena menguatnya posisi pasangan tersebut justru menjadi ancaman serius bagi pasangan yang diusung mereka sendiri.

Over Confidence Golkar Riau

Petinggi Golkar sendiri masih sangat percaya diri pilkada mendatang dimenangkan oleh mereka. Potret buram di sejumlah provinsi tidak berdampak langsung terhadap Golkar di sini. Di sini, menurut mereka, kader mereka RZ sudah sangat mengakar. Apalagi diperoleh data bahwa 42 persen kursi kepala daerah kabupaten/kota diraih Golkar, meski sebagian besar berkat koalisi.

Yang patut dicatat, sebagian pemenang pilkada di sejumlah daerah adalah para mantan petinggi Golkar. Tapi justru karena ini pula maka introspeksi makin wajib. Mengapa mereka menang, padahal (atau justru?) setelah tak lagi di Golkar? Atau, apakah mereka bisa menang seandainya maju sebagai kandidat Golkar? Jawaban faktualnya: tidak.

Meski tidak dapat dengan mudah disimpulkan bahwa mereka menang justru karena bukan Golkar, tetapi jelas ketokohan mereka lebih bermakna daripada kegolkaran mereka. Di Sulawesi (Selatan, Utara, Tengah, Tenggara), ironisme itu nyata, keempat kandidat yang semua kalah adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah. Suatu pukulan simbolik yang telak. Apa sesungguhnya yang terjadi pada Golkar? Di mata massa-konstituen, potret negatif cukup jelas. Pada level fungsionaris, tampak di semua tingkat, yang terjadi adalah gendang tetap ditabuh dengan irama sama, sementara tarian sudah berbeda. Hasilnya, liuk tarian telah jauh melenceng dari rampak irama gendang. Satu-persatu para penari potensial berhilangan, tersesat, dan akhirnya ditemukan tengah mengikuti irama gendang yang lebih rancak.

Salah satunya, ya Chaidir ini. Dia tersesat di tengah belantara kerumitan yang dibuat partainya sendiri. Saya bukan ahli ramal, itu pasti. Tapi, jika Chaidir memenangkan pilkada mendatang maka siapkanlah kursi Ketua DPD buat dia. Sasaran berikutnya pasti itu. Sebelumnya mesti dibuktikan dulu, apakah Chaidir saat ini tersesat di jalan yang benar?***

Ronny Basista : Penulis adalah Dekan Fisipol Universitas Abdurrab-Pekanbaru
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga