| Hikmah di Balik Musibah |
| Minggu, 20 Juli 2008 | |
|
Pepatah Melayu mengungkapkan “untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak”. Ungkapan ini menunjukkan betapa orang Melayu sangat paham dengan takdir Allah. Takdir Illahi adalah suatu hal yang sangat nyata dalam hidup dan kehidupan ini bagi masyarakat Melayu yang agamis. Mereka sangat yakin betapa Allah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa, Maha Arif lagi Maha Bijaksana. Allahlah penentu segala kejadian di alam semesta ini. Tak bergerak sebesar zarrah apapun di langit ataupun di bumi selain atas izin dan kehendak Allah semata.
Apabila Allah telah berkehendak (kun), maka pastilah akan terjadi (faya kun). Tak satupun mahluk yang mampu menahan atau menghalanginya. Takdir Allah adalah pasti dan berlaku di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun. Itulah sunnatullah, hukum Allah, yang sangat diyakini akan kebenarannya. Ketentuan Allah tak dapat dibantah, dipungkiri ataupun dihindari oleh siapapun baik yang mempercayai maupun yang tidak mempercayainya. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu keputusan, maka keputusan itu pastilah akan terjadi. Dialah Allah, Tuhan kita, Tuhan semua malaikat, semua jin, dan Tuhan semesta alam. Saya bersyukur karena pada suatu hari mendapat kesempatan berkunjung ke negeri paling ujung di Sumatera yaitu Nangru Aceh Darussalam. Kunjungan saya bertepatan dengan pelaksanaan Forum Koordinasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber daya Ikan (FKPPS) seluruh Indonesia yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan RI di Banda Aceh pada tanggal 8 s/d 11 Juli 2008 yang baru lalu. Sungguh saya merasa bersyukur karena berkesempatan melihat secara langsung bekas-bekas musibah besar yang melanda negeri ini beberapa tahun yang lalu dengan kejadian yang cukup menggemparkan masyarakat dunia. Kenapa tidak, dalam kurun waktu yang sangat tidak terlalu lama sebuah bandar yang tenang tiba-tiba menjadi sebuah negeri yang karam. Gelombang dahsyat menerkam Banda Aceh tatkala penduduknya sedang beristirahat di pagi minggu. Ada yang sedang bermain, berlari, sedang mengadakan upacara yang dipimpin oleh wali kotanya, dan tentu saja tidak sedikit yang sedang bersantai-santai di rumah sambil menonton televisi. Tiba-tiba saja gelombang dahsyat bergelora, meroboh dan menenggelamkan rumah-rumah mereka. Ratusan ribu orang hanyut dan mati tenggelam karena tak dapat melarikan diri. Di Banda Aceh saja misalnya tidak kurang dari 100.000 mayat bergelimpangan di pinggir-pinggir jalan. Musibah ini benar-benar tidak memilih kelompok umur, jenis kelamin, warna kulit, agama, suku bangsa dan apa saja yang menjadi atribut manusia. Semua yang sampai takdirnya, pasti meninggal dunia. Hanya orang-orang yang berumur panjang sajalah yang diselamatkan Allah dari gelombang tsunami yang maha dahsyat itu. Sungguh saya dapat melihat bekas-bekas peninggalannya dan menyaksikan sebuah kapal tanker berbobot 26.000 ton milik PLN terdampar lebih dari 5 Km ke darat, meluluhlantakkan rumah-rumah penduduk yang dilaluinya. Lima buah rumah di antaranya masih berada di bawah lunas kapal besi itu yang tinggi lunasnya saja lebih dari 4 meter. Tidak kurang dari 35.000 anak-anak menjadi yatim piatu karena kehilangan orangtua. Sebagian di antara mereka sudah mendapat santunan dari negara-negara Islam yang terhimpun dalam OKI. Lebih dari lima ribu di antaranya mendapat santunan dari Raja Kerajaan Arab Saudi. Hikmah apakah yang terkandung di balik musibah besar ini? Salah satu di antaranya ”damainya rakyat Aceh”. Pemerintah Indonesia bersama dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah menemukan suatu kesepakatan untuk berdamai dengan membentuk daerah otonomi khusus, dengan menjadikan Aceh sebagai sebuah provinsi yang bisa melaksanakan Syariat Islam. Sungguh sangat luar biasa. Selama puluhan tahun Daerah Istimewa Aceh ini bergejolak dan mengalami kerusuhan karena adanya perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintah Indonesia, namun dengan adanya musibah tsunami, mereka pun dapat didamaikan. Semua mereka yang bertikai mendapatkan sebuah kesadaran yang tinggi bahwa bermusuhan sangatlah tidak baik apalagi berperang antar sesama saudara sendiri. Allah SWT benar-benar agaknya memberi pelajaran yang sangat berharga bagi rakyat Aceh dengan musibah ini sehingga masyarakat Aceh bersama dengan pemerintah sadar akan tugas dan tanggung jawabnya untuk menciptakan perdamaian. Perang saudara bertahun-tahun yang menghabiskan banyak potensi sumber daya mestilah dihentikan. Sekarang rakyat Aceh telah mendapatkan hikmah di balik musibah besar ini dengan mendapatkan kedamaian dan otonomi khusus. Bahkan sekarang gubernur, dan bupati serta walikota yang memimpin Aceh pun sebagian terbesar berasal dari kelompok yang bertikai ini (GAM) yang diangkat melalui pemilihan umum, langsung, bebas dan rahasia oleh rakyat Aceh sendiri. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Dalam Alquran Allah telah menjanjikan betapa dibalik kesulitan, ada kemudahan. Kalau dahulu negeri serambi Mekkah ini sangat sulit karena tidak aman, namun setelah musibah tsunami, negeri ini pun kembali menjadi aman dan rakyat Aceh sudah dapat kembali membangun negeri yang porak-poranda itu dengan memanfaatkan segala potensi sumber daya yang dianugerahi Allah. Otonomi khusus dan syariat Islam yang diberlakukan adalah modal dasar yang paling utama yang mesti dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam kondisi seperti ini saya teringat dengan kota Nagasaki yang saya pernah tinggal beberapa tahun di sana. Kota ini dulu pernah luluh lantak oleh bom atom yang diledakkan Amerika Serikat pada saat perang dunia kedua, sehingga lebih dari 60.000 orang penduduk kota ini meninggal dunia seketika. Namun setelah itu Jepang kembali sadar bahwa berdamai jauh lebih baik dari perang, sehingga mereka mau merubah prinsip dasar negaranya yang suka berperang kepada negara yang cinta damai. Kota Nagasaki benar-benar mereka jadikan sebagai kota perdamaian dengan membangun monumen perdamaian di pusat ledakan bom atom tersebut. Saat itu kota ini benar-benar sudah menjadi kota wisata yang terkenal dan dikunjungi wisatawan manca negara jutaan orang setiap tahun. Monumen perdamaian dengan bekas-bekas bom atom yang sengaja ditinggalkan, bersamaan dengan foto-foto dan benda-benda sejarah, menyebabkan kota ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Andaikan pemerintah bersama rakyat Aceh dapat menjadikan Banda Aceh sebagai kota sejarah dengan menyimpan dan menyajikan berbagai peninggalan sejarah termasuk bekas-bekas tsunami ini, saya sangat berkeyakinan Kota Banda Aceh akan menjadi kota wisatawan yang menarik. Banyak orang di dunia yang sudah mengetahui Banda Aceh dan sangat ingin mengunjunginya. Andaikan kapal tanker yang terdampar sejauh 5 km itu dapat dipoles menjadi sebuah musium, dengan melengkapinya dengan berbagai fasilitas termasuk foto-foto dokumentasi serta apa saja yang mampu memberi informasi mengenai tsunami ini, maka saya kira bukan saja bisa menjadi kota wisata sejarah, melainkan juga bisa menjadi kota pendidikan yang baik. Ummat Islam dunia pasti akan sangat tertarik untuk berkunjung ke serambi Mekkah ini. Apalagi kalau mereka mengetahui ada berbagai kejadian aneh yang dapat dijadikan sebagai iktibar dalam memperkuat iman dan takwa, seperti mesjid yang persis berada di pinggir pantai dengan gelombang besar, namun tetap eksis, walaupun semua bangunan di sekitar mesjid rata dengan tanah. Saksi sejarah lain juga mengungkapkan betapa gelombong besar yang berada di depan mesjid Agung Banda Aceh yang indah dan bersejarah itu tiba- tiba saja menjadi kecil pada saat mendekati mesjid, sehingga mesjid itu sama sekali tidak rusak. Padahal bangunan lain di sekitar mesjid benar-benar rata dengan tanah. Inilah iktibar yang sangat baik, terutama bagi anak-anak muda dan kalangan kaum remaja betapa kehidupan kita ini ada yang mengaturnya yaitu Allah SWT. Karena itu mari kita tingkatkan iman dan taqwa kita pada kepada Allah SWT agar selamat hidup dunia dan akherat. Amin.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



