| Hubungan Berbahaya |
| Minggu, 20 Juli 2008 | |
|
SUATU kesalahan kecil saja tak baik kalau dibiarkan. Apalagi kalau kesalahan itu terus bertambah dan membentuk timbunan kesalahan yang dapat membuat orang-orang yang tersentuh oleh kesalahan itu lalu menjadi dungu. Suatu karya sastra yang adalah sebuah roman disebut oleh seorang penulis sebagai karya sandiwara, dan karangan Si Anu dinyatakan sebagai karangan Si Ani atau Si Ana. Sekecil apapun kesalahan seyogianya diperbaiki.
Judul asli karya Choderlos de Laclos yang terbit pada tahun 1782 dan yang menggemparkan kota Paris itu ialah Les Liaisons dangereuses. Pengarangnya dilahirkan dari kalangan bangsawan kota Paris pada 18 Oktober 1741 di Amiens (Perancis) sebagai Pierre-Ambroise-François Choderlos de Laclos. Ia memasuki dan menjalani karir kemiliteran secara sempurna sampai meninggal-dunia di Taranto dalam sebuah republik di Itali pada 5 November 1803. Dari sosoknya saja Les Liaisons dangereuses mempunyai beberapa keunggulan yaitu sebagai roman psikologis dan roman epistolaire atau roman berbentuk surat yang tergolong awal dalam kesusastraan Perancis dan juga inilah sebuah karya sastra yang kemunculannya sangat menggemparkan kalangan atas di Perancis. Tambahan pula Prakata dari pengarangnya berisi selintas pendapat yang membangkitkan kekaguman banyak orang yaitu, ‘’Agar dapat terhindar dari dosa maka kejahatan itu haruslah dilukiskan lebih dulu.’’ Lintasan Prakata itu seperti sulutan api pada meriam-meriam yang ditujukan kepada para pembacanya yang pada masa itu terdiri dari orang-orang yang serba sopan dan beradab serta beradat seolah-olah dunia yang terbentang sampai jauh ini tak layak sekali-kali untuk dijadikan tempat hidup bagi orang-orang yang tidak seperti mereka. Karya Choderlos de Laclos lainnya ialah De l’éducation des femmes (1785; ‘’Tentang Pendidikan para wanita’’). Selain itu Choderlos de Laclos termasyhur dengan karyanya dalam bentuk surat yaitu Lettre à MM l’Académie Française sur l’éloge de M le Maréchal de Vauban (1786; Surat kepada Yang Terhormat L’Academie Française sebagai Sanjungan kepada Tuan Marsekal de Vauban’’). Karena dianggap telah memperolok-olok seorang jenderal di jajaran kemiliteran Perancis maka Choderlos lalu mengundurkan diri dari ketentaraan. Namun pada tahun 1792 ia kembali ke pangkuan militer bahkan berhasil mencapai pangkat jenderal di bawah pemerintahan Napoleon. Les Liaisons dangereuses telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, di Inggeris sebagai Dangerous Acquaintances dan di Amerika Serikat sebagai Dangerous Liaisons. Bagaimanapun bagusnya terjemahan atas suatu karya sastra versi orisinalnya selalu bernilai lebih. Akan tetapi menghadapi Sastra Dunia yang seperti ombak di lautan siapa saja tentulah menguasai bahasa akan berdepan dengan batasan. Demikian juga film ialah sebuah karya seni, seperti juga sastra. Namun perlu diketahui bahwa film bukanlah karya sastra seperti juga roman atau novel bukanlah seni film, bagaimanapun bagusnya roman atau novel dibuat film dan bagaimanapun film bagus diadaptasi menjadi novel. Karena itu film Holywood yang berjudul Dangerous Liaisons bukanlah novel atau roman dengan judul yang sama atau kalaupun dibuat dengan memakai judul yang berbeda. Seperti itu juga halnya dengan film Human Comedy yang dibuat film berdasarkan novel karya William Saroyan, dan film Dokter Zhivago yang berasal dari novel Boris Pasternak yang meraih Hadiah Nobel tahun 1957, The Old Man and the Sea novel singkat Ernest Hemingway yang meraih Hadiah Nobel tahun 1954, dan dua cerita-pendek Akutagawa Ryûnosuke yaitu Rashômon dan Yabu no Naka dijadikan film Rashômon pada tahun 1950. Keunggulan karya sastra melebihi seni film ialah bahwa dalam karya sastra pembaca dapat secara leluasa memakai hak otonomnya terhadap karya sastra itu. Akan tetapi para penonton seni film dicekoki dan dirintangi imajinasinya yang seyogianya tidak dibatas-batasi. Penulis novel Wiliam Saroyan mengatakan bahwa film The Human Comedy ialah sebuah film yang buruk. ‘’Kalau hendak mengetahui tentang aku, bacalah novelnya,’’ kata pengarang terkemuka itu. Hal yang sama dikatakan oleh Ernest Hemingway tentang film The Old Man and the Sea. Pak tua Santiago yang dilanda salao atau semacam nasib malang karena sudah lebih delapan puluh hari tak berhasil memancing seekor ikanpun, tidak akan secara penuh dijumpai penonton dalam filmnya tapi dapat dipahami secara penuh melalui novelnya, meskipun pemegang peranan dari film itu Spencer Tracy yang terkenal itu. Baik Omar Shariff yang memerankan Dokter Zhivago, juga Spencer Tracy yang memegang peranan Pak Tua Santiago, atau Toshiro Mifune yang memegang peran sebagai Si Perampok pastilah telah ditentukan oleh para pembuat film sehingga kadang-kadang bertentangan dengan gambaran yang dibayangkan oleh para penonton. Belum lagi kenyatan tidak semua petunjuk dan arahan dari teks-teks kesusastraan sejalan atau sama dengan kaidah film. Bisa saja terjadi kaidah sastra dan kaidah film bukan saja tidak sama tapi juga mungkin sekali sangat bertentangan. Dalam film buatan Holywod Dangereous Liaisons pasangan yang memerankan sang perwira kavaleri Valmont ialah Glenn Close, sedangkan Madame Markise de Merteuil dipegang oleh Michele Pfeiffer. Lebih dari dua ratus tahun karya ini dibaca tentu saja banyak sekali orang yang menolak Madame de Merteuil diperankan oleh Michele Pfeiffer dan Valmont diperankan oleh Glen Close. Mengapa begitu? Karena dalam hidup ini pembaca selalu menginginkan kebebasan, juga dalam memilih peranan yang dirasanya pas, terutama ia tidak dicekoki oleh mereka yang berasal dari kesenian yang lain, misalnya film. Akhirnya memadankan peranan yang pas ialah seyogianya menjadi urusan pembaca atau penonton. Dunia yang penuh dengan sikap otoriter sangatlah tidak menarik terutama dalam karya-karya seni. Dunia gemerlap kelompok elite aristocrat Paris yang di puncaknya diwakili oleh seorang perwira muda kavaleri Valmont dan Nyonya de Merteuil penuh warna-warni dan harum semerbak apabila dihidu sekarang tapi segera akan berbau busuk seperti kumpulan danur setelah diberikan senjangan waktu sebentar. Kelompok yang sudah tak tahu lagi berbuat apa itu tak lagi tahu bagaimana membuat hidup yang penuh benderang dan mewah itu agar dapat dipertahankan. Kejenuhan, kebekuan segera menuju dekadensi karena kebebasan tanpa batas akan mengantar kehidupan yang laknatnya tak tanggung-tanggung. Sempurnalah isi karya ini mempunyai pawai atas amoralisme, cabul, dan kebejatan akhlak. Dengan laluan sepintas lintas di sepanjang jalan pinggir karya sastra ini jadilah roman ini sebuah karya epistolaire dan roman psikologis yang unggul** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



