| Ketika Anak Mengaku Berprofesi Pengamen |
| Minggu, 20 Juli 2008 | |
|
‘’Namanya siapa?’’
‘’Mely.’’ ‘’Kerjanya apa?’’ ‘’Ngamen.’’ Apa yang ada di benak Anda ketika pernyataan itu keluar dengan polosnya dari mulut seorang anak yang baru berusia empat tahun? Tapi itulah kenyataannya. Meski tayangan Kickandy di Metro Tv yang saya tonton Kamis (18/7) malam lebih menitikberatkan pada tema penculik anak, tapi pengakuan Mely memang semakin menyadarkan kita akan realita: bahwa memang ada aktor intelektual di balik makin maraknya pekerja anak di kota-kota besar. Mereka tidak spontan melakukannya, tapi diorganisir karena motif ekonomi oleh orang dewasa. Mely, dalam tayangan itu, diculik dan kemudian dijadikan pengamen bahkan ikut demo oleh penculiknya. Namanya diganti dan ia bahkan kemudian sudah tak ingat lagi dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Beruntung ia kemudian ditemukan dan kembali pada keluarganya. Itu baru Mely yang di Jakarta. Kini, ‘Mely-Mely’ yang lain pun sekitar tujuh tahun terakhir ini juga makin banyak saja jumlahnya di Pekanbaru. Itu sebenarnya hanya transfer ‘ilmu’. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya pertengahan tahun 1997, saya dan teman sekelas mendapat tugas menulis laporan jurnalistik investigatif dari dosen sebagai tugas kuliah. Topik yang dipilih tim kami ketika itu adalah fenomena anak jalanan yang kian menjamur di persimpangan-persimpangan jalan di Kota Bandung. Secara bergantian, kami mengamati tingkah-polah mereka nyaris seharian. Hasilnya, pada tengah malam, ternyata anak jalanan ini dijemput truk yang mengumpulkan anak-anak ini di sejumlah simpang lampu merah dan membawa mereka ke sebuah rumah di pinggir kota. Di rumah inilah mereka hidup bersama seadanya. Sebelum Subuh, trip berikutnya juga kembali diantar ke tempat yang sama untuk menjalani profesi serupa. Di tengah suasana permulaan tahun ajaran baru ini, ada agaknya dua pemandangan yang cukup kontras. Di satu sisi, ribuan anak berbondong-bondong diantar orang tuanya untuk masuk sekolah baru, di sisi lain, pekerja anak di persimpangan lampu merah juga kian menjamur. Ini dengan mudah bisa kita temui di Pekanbaru. Jika dulu pekerjaannya masih standar seperti mengemis atau mengamen, kini mulai ada varian kerja baru seperti mengelap kaca mobil dengan kemoceng. Hak-hak anak agaknya memang belum begitu mendapat tempat di negeri kita. Eksploitasi anak seperti mempekerjakan anak di bawah umur, kejahatan terhadap anak (penculikan, sodomi), hingga penjualan (trafficking) anak yang sebagian besar kemudian bekerja sebagai pekerja seks. Atau mungkin dalam ruang lingkup yang lebih kecil, anak tidak dianggap sebagai individu yang unik di mata orang tuanya. Banyak orang tua yang kerap melakukan kekerasan fisik hingga verbal pada anak. Parahnya, terkadang, pelaku kejahatan terhadap anak adalah orang yang dekat dengan anak. Salah satu motif yang paling banyak ditengarai sebagai penyebabnya adalah tekanan ekonomi. Menurut data Tim P2E-LIPI yang diterbitkan tahun 2008 ini dan dilansir Femina, akibat kenaikan harga BBM, diperkirakan jumlah warga miskin di Indonesia akan meningkat 21,92 persen jadi 41,7 juta orang. Itu artinya akan makin banyak orang yang terjepit karena faktor ekonomi. Cara termudah yang selama ada di benak masyarakat kita menyuruh anak mereka turut membantu perekonomian keluarga. Atau lebih parahnya, anak terpaksa putus sekolah karena kalah dengan urusan perut. Mereka terpaksa turun ke jalan-jalan untuk mengumpulkan rupiah. Bagi yang perempuan, mereka juga rawan jadi korban pelecehan seksual. Bagi anak-anak ekonomi mampu juga bukan berarti tak ada masalah. Kekerasan yang dilakukan teman sebaya di sekolah akibat efek menonton televisi kini juga mengkhawatirkan. Bahkan sampai ada anak yang meninggal dunia karena di-smack down ramai-ramai oleh temannya. Meski tidak boleh apatis, agaknya kita belum bisa berharap banyak pada pemerintah untuk segera menyelesaikan hal ini. Yang bisa kita lakukan agaknya adalah berbuat ‘sesuatu’ yang lebih berarti di lingkungan terkecil kita: rumah sendiri. Salah satu cara adalah berusaha semaksimal mungkin memenuhi hak-hak anak. Paling tidak ya keperluan primer dan hak azazinya. Kalau tidak, mungkin kita perlu percaya pada perkataan Leo Tolstoi: Tuhan tahu, hanya menunggu.*** Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



