| Teman Kecil |
| Minggu, 20 Juli 2008 | |
|
Oleh Yetti A KA
Ia gadis kecil, tidak cantik dan lebih mirip anak laki-laki yang dulu sering mengajak kami —anak-anak dusun— bermain di halaman sempit rumahnya. Membiarkan kami menerbangkan debu-debu yang tidak bisa kami lakukan di halaman rumah lain, termasuk halaman rumah kami sendiri karena pasti kami diteriaki dan diusir ibu kami yang tidak suka jendela-jendela kaca kotor dan buram. Di rumah berdinding pelupuh dan berlantai tanah, kami juga boleh beristirahat, duduk-duduk santai hingga kami kuat bermain lagi. Kejar-kejaran, lempar-lemparan tanah, sambil terkakah-kakah. Tidak banyak yang dapat kuingat tentang ia ketika masih gadis kecil, yang beberapa waktu kemudian, tentu pula tumbuh jadi perempuan sempurna, walau tetap saja tidak pernah cantik; mata kecil redup, hidung agak besar, bibir lebar, tulang pipi terlalu mencuat keluar di wajah bulat apel. Namun begitu, ia selalu baik hati. Tidak pernah marah. Tidak pernah mencubit selayaknya seorang kakak saat kami mulai keterlaluan dalam bermain. Ia juga suka memberi kami gula-gula. Kami memanggilnya Bulan. Ia lahir dari perempuan yang ditinggal pergi seorang laki-laki. Ini kami ketahui setelah berumur belasan tahun, ketika ibu mulai melarang kami dekat-dekat dengannya. Tidak baik, kata ibu suatu hari. Dunia kami berbeda. Bulan dari keluarga rendah, tidak sekolah, hidup bebas, dan anak yang tidak jelas siapa bapaknya, sedangkan kami anak-anak yang tumbuh dalam rumah besar berpagar kokoh. Rumah yang terjaga. “Ia baik pada kami,” aku membantah ibu. “Lantas kau juga bermaksud membalas kebaikannya, berteman dengannya hingga orang-orang membicarakan keluarga kita?” Ibu marah. “Kau bisa berteman dengan siapa saja, berbuat baik pada orang lain, tidak harus pada dia,” kata ibu melanjutkan. Aku ternganga. Juga berpikir-pikir. Ibu bukan orang yang biasa kelewat kasar menilai orang lain, dan menentukan pantas tidak pantas. Mungkin ibu hanya takut. Seperti juga seluruh ibu di dusun itu yang ingin melindungi anak laki-lakinya. Sampai suatu hari mulai muncul desas-desus, Bulan suka dibawa keluar dusun oleh banyak laki-laki. Salah satu dari mereka tentu pula abangku, Lebuk, laki-laki yang paling ibu harapkan dapat menjaga kehormatan keluarga setelah bapak meninggal. Dan abangku itu telah membuang-buang waktu dengan perempuan yang tidak disukai ibu. Perempuan yang tidak saja dari keluarga rendah dan tidak cantik, tapi juga hampir bisa dikatakan seseorang yang nakal. Aku bayangkan betapa merah luka dada ibu. Apa ibu menangis bermalam-malam di kamarnya. Apa mata indah ibu bengkak. Aku sungguh-sungguh tidak tahu. Anak laki-laki (dalam keluargaku) tidak terbiasa memasuki dunia ibu terlalu dalam. Kami punya batas tersendiri. Punya tempat yang sudah diatur turun-temurun. Anak laki-laki berada di arena. Bertarung. Cuma anak perempuan yang belajar dan tahu banyak hal tentang rumah, tentang sesuatu yang terkecil dalam hati ibu. Ibu tidak punya anak perempuan. Ia terluka dalam kesendirian, dalam keputusasaan di kamarnya yang tertutup. Sementara abangku semakin sering bersama Bulan setiap ia keluar dusun mengangkut berton-ton beras untuk dijual kembali ke kota, meneruskan usaha bapak. Aku telah membiarkan semua itu terjadi di hadapanku sendiri, dan aku tidak pernah bisa apa-apa. Juga saat mendadak Bulan diantar ke hadapan ibu dan masuk ke salah satu kamar di rumah kami. Ibu meraung-raung di halaman, membuat orang-orang turun dari rumah mereka, dan membentuk kerumunan di sekitar rumah kami. Lebuk tentu telah menghilang dan tidak muncul lagi (cara laki-laki di dusunku untuk menghindari tanggung jawab pada seorang perempuan yang diantar ke rumah dalam keadaan perut membesar). Bulan akhirnya diminta keluar dari rumah kami setelah lewat sepuluh hari Lebuk tidak kembali. Air matanya merebak di depan ibu dan aku. Seakan-akan ia memohon belas kasih kami. Ibu bergeming. Diam seperti pohon ditinggal angin. Perempuan itu menyerah, berlari membawa bola mata tergenang. *** Aku meninggalkan dusun saat kuliah dan bekerja di kota terdekat. Pulang hanya sekali-sekali saja. Menjenguk ibu yang tidak pernah lagi bahagia. Setelah menikah, kami (istri dan anak perempuanku) lebih jarang lagi pulang. Paling hanya di hari-hari raya. Itupun cuma sehari dua karena kami tidak ingin meninggalkan rumah kosong terlalu lama. Setiap pulang aku pasti mampir atau sengaja meluangkan waktu lebih dulu untuk melihat-lihat rumah Bulan sebelum ke rumah ibu. Aku senang mengingat-ingat kembali tentang gadis kecil yang tidak cantik, tapi baik hati, yang terakhir kali kulihat ia pergi dengan bola mata tergenang, lalu tidak pernah bertemu lagi. Istriku tidak pernah tahu cerita itu. Kami tidak membicarakannya, baik di rumah kami atau di rumah ibu. Aku menyimpan cerita itu untuk kukenang sendiri. Sebagaimana ibu, juga orang-orang dusun, kukira, menyimpannya dengan cara berbeda. Rumah mungil itu masih berdiri di tepi jalan. Atapnya mulai bolong-bolong diterbangkan angin, dinding pelupuh sudah hilang beberapa helai. Rumah yang makin rapuh dan kosong sejak Bulan meninggalkan dusun tanpa kabar dan ibunya menikah dengan duda tua dari dusun lain. Memang tidak banyak lagi orang menganggap penting keberadaan rumah itu (atau malah tidak pernah), selain anak-anak yang masih bermain di halamannya. Orang-orang cepat sekali melupakan. Bisa jadi mereka juga tidak ingat tentang gadis kecil bernama Bulan yang tidak pernah cantik hingga dewasa, sama seperti mereka lupa tentang selembar baju hanyut ke hilir sungai. Ke manakah Bulan. Aku melepas kaca mata, mengusap mataku yang lelah. Kasihan sekali dia. Perempuan tidak cantik yang tidak benar-benar diinginkan laki-laki, dan hilang tanpa seorangpun mencari tahu. Masih hidup atau sudah mati. Aku berdebar. Kabar yang beredar, Bulan menumpang sebuah truk beberapa tahun lalu, keluar dari dusun. Lalu truk itu kembali, sedangkan Bulan menghilang ditelan ketidakpastian. Cepat-cepat aku meninggalkan rumah itu, di mana masa kecil kami—aku dan teman-teman sepermainan yang sekarang sudah banyak meninggalkan dusun—terukir di lantai tanah, dingin dan sejuk, tempat kami menikmati gula-gula. Masa lalu yang seharusnya kami hargai. Kenyataannya aku tidak bisa. Aku membiarkan Bulan hilang begitu saja dalam kegelapan. Dalam ketidakpedulian dusun yang sunyi. *** Aku menuju rumah ibu. Ibu duduk di kursi dengan mata kosong. “Ibu sehat?” Aku mencium tangan ibu. “Kau bisa lihat sendiri,” jawab ibu. Aku tertawa. Ibu jauh berbeda, jauh berubah. Dulu, ibu suka berbicara halus, kecuali sedang marah. Belakangan ibu selalu kasar. Dalam keadaan apapun, pada siapa saja. Termasuk menantunya sendiri. Karena itu, istriku tidak dekat dengan ibu. “Kau pulang sendirian?” Ibu bertanya setengah menyindir. Istriku memang sering menunjukkan gelagat tidak senang setiap kuajak pulang. Ibu tentu bisa membacanya. “Warna, cucu perempuan ibu, sedang gemar-gemarnya ikut latihan tari di sanggar. Ia tidak mau bolos sekali saja.” “Anak umur empat tahun sudah ikut macam-macam.” Ibu bersungut-sungut, “Dan istrimu pasti sibuk sekali dengan urusan kantor sampai harus lembur di akhir pekan,” kata ibu sinis. Dalam hati aku ingin berkata pada ibu, tidakkah Raini, istriku, cukup cantik dan dari keluarga terhormat sebagai menantu yang semestinya melegakan perasaan ibu, layaknya harapan banyak ibu pada anak laki-lakinya, termasuk ibu yang pernah mengatakan aku tidak pantas berteman dengan perempuan dari tingkat rendah semacam Bulan. “Sedikit sibuk saja, Bu. Biasalah, perempuan karier.” “Oh.” Wajah ibu sedikit cemberut, “Sudah. Kau masuk saja dulu. Bersihkan badanmu. Aku menunggu abangmu, siapa tahu dia pulang sore ini. Aku rindu melihat kalian berkumpul.” Aku tersenyum getir. Setelah sekian lama, baru kali ini aku mendengar ibu memiliki harapan lagi. Pernahkah Lebuk datang pada ibu di malam hari secara sembunyi-sembunyi saat aku berada di kota. Aku malas bertanya. Tidak ingin merusak hati ibu. *** Malam harinya, ibu mengajakku berbincang-bincang, keakraban yang jarang terjadi antara kami sejak Lebuk mengkhianati kepercayaan ibu, yang membuat ibu kehilangan sebagian semangat hidup di matanya. Kami bercerita tentang pekerjaanku di kota, istri dan anak perempuanku. Lalu kami menggeser obrolan mengenai saudara-saudara dekat yang banyak meninggalkan dusun dan pindah ke daerah lain. Seterusnya kami telah membicarakan orang-orang yang masih setia menetap di dusun dengan segala kesederhanaan, keterbelakangan, dan ketertinggalan dibanding dusun-dusun lain yang berkembang cepat. Pada kesempatan itu pula, aku masuk dengan pertanyaan yang telah menggantung lama di kepalaku. “Di mana kira-kira perempuan itu. Apakah ia melahirkan anak perempuan atau laki-laki.” Ibu menatap tidak senang padaku, “Kau tidak pantas bertanya tentang perempuan itu di rumah ini.” Mukaku kaku. Aku salah tingkah di hadapan ibu. Aku pamit ke kamar dengan alasan ingin segera tidur. Ibu sendiri masih terpaku di tempatnya, dan tidak segera beranjak selepas aku pergi. Di kamar aku terus memikirkan ibu. Aku tidak sengaja membuat luka terbuka kembali, sesuatu yang sangat kuhindari sejak ibu mulai sering mengurung diri. Aku merasa amat bersalah. Kalau bisa aku ingin meraih tangan ibu, menatap matanya dalam-dalam, dan kembali dalam pelukan ibu sebagai anak laki-laki kecilnya dulu. Namun ibu pasti menolak bicara denganku dalam situasi begini. Ia lebih memilih diam dalam ruang gelap tanpa lampu. Aku pura-pura sibuk menghitung-hitung bintang di langit-langit kamar (ini sering kulakukan bila aku dimarahi ibu sewaktu kecil). Aku yakin malam ini tidak satu pun di antara kami bisa tidur, bermimpi indah, dan dapat mengucapkan selamat pagi dengan bibir tersenyum keesokan harinya. Bahkan ketika aku pamit ke kota, ibu tetap tidak bisa memberiku ucapan selamat jalan atau sebuah senyum lembut. *** Ketika kami sekeluarga datang kembali ke rumah ibu, aku tidak lagi meluangkan waktu berdiri beberapa lama untuk menatap rumah Bulan dan bertanya dalam hati, ke mana sesungguhnya perempuan itu. Aku sudah melupakannya. Bisa jadi aku mulai tidak adil sebagai teman masa kecilnya, tapi aku lahir dari kehidupan seorang ibu, dari tubuh yang terluka itu. Aku membuka jendela pada pagi yang dingin. Anak dan istriku masih terlelap di kamar. Mereka keletihan. Dari jendela aku bisa melihat rumah Bulan walau tidak begitu jelas, dan pintu rumah itu terbuka. Seorang perempuan keluar dari sana. Anak kecil mengikuti perempuan itu menerobos pintu. Ia menghambur ke halaman, tangannya menggapai-gapai ke udara. Mirip anak rama-rama baru lepas. Ia meliuk-liukkan tangannya. Pelan-pelan. Aku ingat anakku, Warna, yang pada satu hari minta belajar tari di sanggar anak-anak. Umur mereka mungkin berjarak beberapa tahun saja, pantas sekali untuk jadi adik kakak, lalu mereka akan menari bersama. Ya. Lama-lama aku melihat anak itu persis Warna, begitu lincah.*** Rumah Palung Laut, 07-08 Yetti A KA, bergiat di Komunitas Daun, Padang. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, Numi(2005). |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



