| Obama Kampanye di Zona Perang |
| Minggu, 20 Juli 2008 | |
|
Laporan JPNN, Kabul
BAGI Barack Obama, kampanye tidak semata bisa dilakukan di dalam negeri. Di zona perang pun bisa menjadi ajang kampanye menggalang dukungan. Dan itulah yang dilakukan kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat ini. Kemarin, Obama tiba di Afghanistan yang menjadi negara pertama yang dikunjunginya, mengawali tur kampanyenya di beberapa zona perang. Dan meskipun dalam lawatan tersebut senator Illinois itu resmi sebagai delegasi kongres AS, tapi kunjungannya itu tetap dinilai sarat dengan implikasi politis. Apalagi, salah satu negara yang akan dikunjunginya adalah Irak. Juru kampanye Obama, Robert Gibbs mengatakan, bahwa senator berdarah Kenya itu tiba kemarin pagi di Kabul. ‘’Saya ingin mengetahui langsung situasi yang terjadi,’’ ujar Obama kepada wartawan yang mengiringi keberangkatannya di Pangkalan Angkatan Udara Andrews. ‘’Dan tentu saja, saya ingin berbincang dengan para komandan dan untuk merasakan bagaimana rasanya di Afghanistan dan Baghdad. Saya pun ingin berterima kasih langsung kepada para serdadu atas apa yang mereka lakukan di sana’’. Dalam perjalanannya itu, Obama sangat ingin mendapat kesempatan bertemu dengan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai. Tidak dimungkiri bila Obama termasuk kerap mengecam kepemimpinan Karzai dan pemerintahnya. Pria kelahiran 4 Agustus 1961 itu menyebut Karzai terkesan tidak serius menangani masalah politik dan keamanan di negaranya. Kepedulian Obama kepada Afghanistan itu diperkuat dengan komitmen militer beserta dukungannya juga. Baginya, perang yang terjadi di Iraq hanyalah gangguan saja. Sebaliknya, tidak demikian dengan perjuangan yang terjadi di Afghanistan. Obama terang-terangan berniat meningkatkan peranan militernya di Afghanistan. Sebab, negara tersebut menjadi markas Taliban dan dinyakini menjadi tempat persembunyian Usamah bin Laden. ‘’Ini merupakan peperangan yang harus kita menangkan,’’ katanya. ‘’Saya akan mengirimkan setidaknya dua brigadir perang lagi ke Afghanistan. Saya juga akan menambahkan kontribusi kami atau dengan mengurangi pembatasan dari sekutu NATO’’. Lebih lanjut, Obama ingin lebih memfokuskan diri melatih pasukan demi keamanan Afghanistan untuk mendukung sistem peradilan di negeri tersebut. Untuk itu, dia pun berkomitmen mengirimkan lebih banyak personel dari AS untuk mewujudkan misi tersebut. Saat ini, jumlah pasukan AS di Afghanistan mencapai 36 ribu orang. Mereka adalah bagian dari dukungan dunia internasional untuk memerangi pemberontakan di negeri tersebut. Keinginan Obama itu didengar dan direspon positif oleh sebagian orang dari sedikit rakyat Afghanistan yang mengetahui kunjungan capres kuat Partai Demokrat itu. Seperti yang dikatakan Abdul Basir. ‘’Obama adalah orang yang baik,’’ ujar mantan Pejabat Militer 40 tahun itu. ‘’Selama berkampanye, saya dengar dia selalu ingin menarik pasukan AS dari Iraq dan mengalihkannya ke Afghanistan. Dia pun ingin memerangi teror di perbatasan Pakistan. Itu sangat penting dan saya sangat menghargainya’’. Ungkapan senada dilontarkan Habibullah Hamdard. ‘’Dia sangat disambut di kota perang ini,’’ ujar guru, 42 tahun itu. ‘’Bila dia mencintai anak-anaknya, berarti dia juga bisa mencintai anak-anak Afghanistan yang setiap hari ada yang sekarat. Selama ini, (presiden) kulit putih tidak bisa melakukan apapun. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan (presiden) kulit hitam’’. Sebaliknya, Obama menentang perang di Iraq dan ingin menyudahi peran AS di negeri kaya minyak itu. Meskipun demikian, pemimpin Iraq, Nouri al-Maliki, tetap masuk dalam daftar orang yang ingin ditemuinya dalam lawatan ke zona perang tersebut. Dia pun ingin mengatakan untuk mengakhiri peranan AS di Irak. Caranya, adalah dengan menarik pasukan yang ada, meskipun tidak dilakukan sekaligus, tapi dengan menarik satu atau dua brigadir perang dalam sebulan. (dia/ksm) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




