| Moral Pemimpin Politik |
| Selasa, 08 Juli 2008 | |
|
Oleh Afrizal KH SIp
Problematika umat manusia hari ini serta diiringi dengan eskalasi politik Indonesia yang sarat akan kepentingan mengakibatkan terjadinya fluktuasi kondisi masyarakat. Gejala tersebut bisa dilihat dari kebijakan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah masih jauh dari harapan untuk mengubah taraf hidup masyarakat. Dekadensi moral akibat dari lemahnya aspek pendidikan formal, informal dan pendidikan lingkungan senantiasa membayangi dan menghiasi halaman depan majalah, koran serta menjadi gosip hangat di media televisi kita yang memaparkan masalah kriminal, penceraian dan prilaku menyimpang lainnya. Krisis dalam hal kebudayaan merupakan salah satu sektor yang dilupakan. Budaya tidak lagi dijadikan sebagai seni yang memberikan nilai kebaikan dalam diri manusia, tetapi seni dan budaya yang didengungkan lebih banyak berorientasi kepada keuntungan dan hitungan bisnis dan tren hari ini budaya tidak lebih dari hanya untuk mengekspos diri. Maka banyak kita saksikan seni dan budaya tidak lebih dari kegiatan yang bersifat seremonial belaka. Dari aspek politik manusia berlomba-lomba untuk mengejar jabatan, menggunakan semua instrument politik yang semuanya berujung kepada sosialisasi diri untuk meraih kursi kepemimpinan dan jabatan publik sehingga tidak sedikit dalam mencapai tujuan tersebut mengabaikan dan mengorbankan kepentingan serta kebutuhan masyarakat yang bersifat mendesak. Permasalahan bangsa yang sangat menyesakkan ini harus segera diselesaikan dengan sesegera mungkin dengan memulai dari menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil. Kesuksesan pekerjaan besar semuanya berawal dari kesuksesan kecil yang dilakukan oleh manusia. Bermimpi jika ingin mengerjakan pekerjaan besar jika tidak bisa menyelesaikan pekerjaan kecil. Pekerjaan kecil di sini tidak hanya pekerjaan yang menyangkut atau melibatkan orang lain sebagai objek, tetapi bagaimana kita bisa memenej diri kita sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan pribadi. Keberhasilan masyarakat dalam pembangunan manusia dan wilayah di suatu daerah tidak terlepas dari keberhasilan suatu proses yang dinamakan proses kepemimpinan yang dijalankan. Proses kepemimpinan tersebut adalah keberhasilan pemimpin politik seseorang yang menguasai suatu wilayah. Itu semua berawal dari sebuah pekerjaan kecil yang sukses dijalankan, pekerjaan kecil sangat sederhana di mata orang namun sangat sulit dilakukan oleh sebagian orang. Suatu contoh pekerjaan kecil yang dilakukan oleh Senator Amerika Serikat yang juga istri mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yakni Hilarry Clinton tatkala beliau mengumumkan kepada publik demokrat setelah dirinya dinyatakan kalah dari Barack Obama Senator dari Illionis yang menjadi kandidat tunggal Presiden AS dari partai Demokrat. Hilarry mengatakan kepada pendukungnya untuk memenangkan Obama dalam pemilihan presiden melawan McCain dari partai Republik. Kita ketahui selama kampanye Hillary yang telah menghabiskan dana sebesar Rp18 Triliun itu sangat getol menyerang lawannya Obama dalam pemilihan internal demokrat. Tetapi tatkala ia dinyatakan kalah, ia secara serta merta mendukung lawannya untuk menjadi presiden AS. Suatu hal yang sulit untuk dilakukan oleh sebagian orang. Hilarry telah berhasil mengalahkan ego dan nafsu pribadinya sehingga dengan senang hati menerima kekalahan dari Obama dan justru berbalik mendukung Obama. Suatu etika politik yang sangat indah yang diperankan oleh para politisi negeri Barat. Dampaknya luar biasa, walaupun kalah Hilarry tetap mendapat tempat dihati masyarakat Amerika Serikat sebagai seorang pahlawan yang mempunyai mental petarung sejati. Sehingga mendapat respon positif dari kubu Obama untuk membantu melunasi hutang kampanye Hilarry. Pernyataan yang sangat sulit untuk dilakukan oleh para politisi di Indonesia secara umum dan Riau secara khusus, bahkan dalam kepemimpinan nasional pun hingga hari ada salah satu rival SBY dalam pilpres 2004 yang belum mengakui kepemimpinan SBY sebagai presiden Republik Indonesia. Jauh sebelum masa Hilarry juga telah terjadi suatu kisah menarik dari para politisi Islam pada zaman kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, tatkala beliau memerintahkan sahabat Usamah Bin Zaid untuk menjadi panglima perang. Waktu itu umur Usamah masih 18 tahun dan yang menjadi prajurit serta menjadi bawahan Usamah adalah sahabat-sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat lainnya. Tetapi para sahabat senior tidak merasa gengsi diperintah oleh seorang anak remaja yang masih sangat muda. Tetapi Abu Bakar menjawab pertanyaan dari Usamah tatkala beliau ditanya tentang kepemimpinan yang dipimpin oleh anak muda, ‘’aku mengikuti apa yang dibawa oleh Usamah.’’ Artinya Abu Bakar melihat bukan manusianya (Usamah) tetapi risalah atau pesan yang dibawa oleh Usamah. Mari kita mencermati etika politik yang dimainkan oleh para elit politik yang ada di belahan dunia lain dan sejarah yang telah banyak mengajari kita tata krama mengelola kepemimpinan. Semua para elit politik yang sukses dalam kepemimpinanya sebelumnya mereka telah berhasil melakukan pekerjaan kecil yang ada di sekitar mereka. Pekerjaan kecil di sini seperti bisa mengalahkan nafsu dan ego yang ada dalam diri para pemimpin politik yang ujungnya hanya memprioritaskan kepentingan pribadi dan golongan saja. Mengakui kesalahan dan kelemahan diri serta berani menerima kekalahan dan mengakui kemenangan lawan serta diiringi mendukung dan membantu kebijakan lawan politiknya dalam mensejahterakan masyarakat. Bukan sibuk mencari kesalahan mencungkil lubang yang kecil sehingga menjadi menganga, tetapi menutupi kekurangan yang ada sehingga tidak menimbulkan efek nagatif yang merugikan rakyat. Orientasi kekuasaan para pemimpin politik akan terlihat di awal, pertengahan dan diakhir kekuasaannya. Bahkan baru mulai mencalonkan diri saja para pemimpin politik sudah berani menggelabui rakyat dengan sok merakyat, mendaftar ke KPUD dengan naik bajaj, seolah-olah sangat dekat dengan rakyat kecil serta ikut merasakan penderitaan rakyat. Mengapa sekarang ini baru ikut merasakan naik bajaj, ke mana selama ini, di mana bajaj. Mengapa ingin mencalonkan diri menjadi pemimpin politik baru sibuk mencari simpati masyarakat. Dinding antara penguasa politik dengan masyarakat selama ini sangat tinggi. Di satu sisi sibuk dengan fasilitas hidup yang super mewah, disisi lain sibuk mengais di pinggiran jalan untuk mencari sesuap nasi. Anehnya lagi bajaj-bajaj yang dinaiki para calon diiringi oleh mobil-mobil mewah (Nissan Terano, Fortuner, Land Cruiser, Innova dan sebagainya). Kalau memang benar untuk rakyat, berbuatlah dari hal-hal yang sederhana yang ada di sekitar hidup kita, pribadi kita, keluarga kita. Hilangkan topeng-topeng yang selama ini menghiasi media massa, dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Masyarakat merupakan cerminan pemimpin politik, pemimpin politik yang bermoral akan melahirkan masyarakat yang bermoral. Takutlah akan amanah, karena Imam Al Ghazali pernah berpesan kepada muridnya, ‘’sesungguhnya yang paling berat di dunia ini adalah amanah.’’ Umar bin Khattab pernah menangis selama sepekan setelah mendapat laporan dari masyarakatnya ada seekor kambing mati di sungai yang merupakan dalam wilayah kekuasaa Umar. Umar takut kepada Allah SWT apa yang harus ia katakan kepada Allah nanti diakhirat ada seekor makhluk yang tidak terurus dan teraniaya hingga mati pada saat kepemimpinan Umar bin Khattab.*** Afrizal KH SIp: Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Politik Jurusan Manajemen Pemerintah Daerah Universitas Riau |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




