| PT Adaro Alokasikan Porsi Lokal Rp3 T |
| Selasa, 08 Juli 2008 | |
|
JAKARTA(RP) – Perjalanan raksasa batu bara, PT Adaro Energy Tbk, untuk melantai di pasar modal tanah air yang penuh liku, mulai berjalan mulus. Setelah mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK Jumat pekan lalu (4/7), mereka bakal menggelar penawaran umum dalam rangka IPO mulai hari ini (8/7) hingga lusa (10/7). Vice President Investment Banking PT Danatama Makmur, penjamin pelaksana emisi IPO Adaro, Vicky Ganda Saputra mengatakan, penawaran umum akan digelar di empat kota. ”Kita gelar di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Semarang,” ujar Vicky di Jakarta kemarin (7/7).
Proses road show IPO ini bakal menjadi sejarah kali pertama sebuah perusahaan swasta menggelar penawaran umum di dalam negeri secara nasional, tidak hanya di Jakarta. Pihaknya akan memberi porsi bagi investor lokal maksimal 25 persen dari total saham yang ditawarkan. ”Itu ekuivalen dengan Rp3 triliun lebih sedikit,” jelasnya. Sementara sisanya, sekitar Rp9,18 triliun, akan didapatkan dari investor asing. ”Jadi yang Rp3 triliun itu bukan target, tapi porsi maksimal yang akan kita berikan untuk investor lokal,” terangnya. Jakarta, kata dia, tetap dijadikan sebagai andalan utama untuk menggalang dana dari investor lokal. ”Kita sesuaikan dengan minat dan kondisi investor di masing-masing kota tersebut,” jelasnya. Untuk investor di luar Jakarta, bisa datang membeli saham perusahaan batu bara yang menguasai kawasan tambang seluas 34,9 ribu hektare di Kalimantan itu dengan mendatangi kantor cabang utama Bank Mega di Surabaya, Semarang, dan Medan. Saham perdana Adaro ditawarkan seharga Rp1.100 per lembar saham. Mereka melepas 11,13 miliar lembar saham. Dengan demikian, Adaro bakal mengantongi dana segar sebesar Rp12,25 triliun. Itu adalah perolehan IPO terbesar sepanjang sejarah bursa di Indonesia.(eri/fan/jpnn) Vicky sendiri optimistis saham Adaro bakal jadi buruan investor. Dia juga tidak khawatir dengan kondisi bursa yang sedang bergejolak. ”Proses IPO Adaro paling dinanti investor, jadi kami optimistis semua akan berjalan sesuai ekspektasi,” ujarnya. Adaro adalah perusahaan batubara terbesar kedua di Indonesia dengan sumber daya batu bara hingga 2.803 juta ton. Kapasitas produksi mereka sebesar 40 juta ton per tahun. Hingga 2012, kapasitas produksi mereka ditarget 80 juta ton. Adaro menguasai tambang batubara tunggal terbuka terbesar di belahan dunia bagian Selatan. Di Kalimantan, mereka mempunyai wilayah tambang seluas 34,9 ribu hektare dengan hak eksplorasi hingga 2022. Cadangan batu bara perusahaan yang dibidani sekelompok pengusaha muda itu mencapai 928 juta ton. Saham perseroan kini dimiliki PT Saratoga Investama Sedaya (22,9 persen), PT Triputra Investindo Arya (20,48 persen), PT Persada Capital Investama (16,8 persen), Boy Garibaldi Thohir (11,97 persen), PT Trinugraha Thohir (11,97 persen), Edwin Suryadjaya (6,60 persen), Permadi Rachmat (3,48 persen), Sandiaga Uno (3,17 persen), Subianto (2 persen), dan PT Saratoga Sentra Business (0,53 persen). Pasca-IPO, komposisi pemegang saham perseroan akan berubah menjadi dimiliki PT Saratoga Investama Sedaya (14,93 persen), PT Triputra Investindo Arya (13,34 persen), PT Persada Capital Investama (11,01 persen), Garibaldi Thohir (7,8 persen), PT Trinugraha Thohir (7,8 persen), Edwin Soeryadjaya (4,3 persen), T Permadi Rachmat (2,27 persen), Sandiago Uno (2,07 persen), Subianto (1,3 persen), PT Saratoga Sentra Business (0,25 persen), dan masyarakat (34,83 persen). Secara terpisah, pengamat hukum pasar modal Indra Safitri mengingatkan agar investor berhati-hati sebelum mengoleksi saham Adaro. Sebab, meski telah mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK, persoalan hukum yang membelit perseroan belum tuntas. ”Bapepam-LK tidak dalam kapasitas memutuskan apakah kasus hukumnya sudah tuntas atau belum. Bapepam-LK mengeluarkan pernyataan efektif hanya karena semua dokumen Adaro terkait problem hukumnya sudah lengkap,” jelasnya. Jadi, sambung Indra, tidak menutup kemungkinan, kelak di pengadilan Adaro dinyatakan bersalah secara hukum. ”Itu nanti yang rugi investor sendiri karena di prospektus pasti sudah disebutkan risiko-risiko dalam membeli saham Adaro,” jelasnya. Seperti diketahui, Adaro kini masih menghadapi gugatan hukum dari Beckett, perusahaan milik pengusaha Sukanto Tanoto, di Singapura. Selain itu, meski sudah dinyatakan tuntas oleh Kejagung, perseroan masih disorot terkait dugaan transfer pricing. (eri/fan) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




