Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Teroris Geser ke Sumatera
Senin, 07 Juli 2008
ImageJAKARTA (RP) - Informasi masuknya Mas Slamet Kastari ke Indonesia dibenarkan oleh Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Jenderal bintang empat itu mengatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjutinya dengan menyebar foto buron teroris nomor satu Singapura itu ke seluruh wilayah. Dengan begitu, masyarakat bisa mengenali ciri-ciri dan ikut mencari buron tersebut.

“Media tolong membantu (penyebaran),” pinta Kapolri di Mabes Polri, kemarin.

Penyebaran foto Kastari yang kabur dari jendela toilet penjara kelas satu Whitley Road Detention Center Singapura itu sebetulnya sudah pernah dilakukan di pelabuhan, bandara, dan terminal-terminal setelah dia kabur pada 27 Februari 2008.

Kapolri menyatakan tidak ada salahnya Polri kembali menyebar foto-foto Mas Selamat Kastari ke berbagai wilayah di Indonesia. Tujuannya mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa tokoh sentral Jamaah Islamiah (JI) kelahiran Kendal, Jawa Tengah, itu masih buron.

Mengenai apakah Kastari terlibat langsung dalam jaringan teror Palembang, Kapolri menjawab, “Itu masih dalam pengembangan.”

Mantan Kapolda Jatim itu melanjutkan, terbongkarnya jaringan teror tersebut menunjukkan bahwa JI telah memindahkan basis “perjuangannya’’ dari Pulau Jawa ke Sumatera.

Ketatnya pengamanan di Pulau Jawa diperkirakan menjadi alasan. Pemindahan lokasi itu juga diikuti dengan pemindahan logistik dan perubahan sasaran pengeboman. Bahan peledak yang dipakai oleh teroris kelompok Palembang untuk merakit bom disuplai dari Jawa Tengah. Tapi, Kapolri tidak menyebutkan secara spesifik asal bahan peledak tersebut. “Bahan peledak termasuk distribusinya dari Jawa. Masih didalami,” katanya.

Diduga, teroris Jawa Tengah yang selama ini berbasis di wilayah Solo, Wonosobo, dan Semarang mengalihkan persediaan bahan peledaknya ke Palembang setelah penangkapan besar-besaran tokoh-tokoh di daerah ini,termasuk Panglima JI  Abu Dujana. “Yang jelas, distribusi mereka ada,” kata Kapolri.

Untuk perubahan sasaran teror bom, daerah-daerah pinggiran juga lebih dipilih. “Sementara ini indikasinya belum (meledakkan bom di Jakarta), masih di daerah-daerah yang kemarin disebutkan,” tambahnya. Seperti diberitakan, jaringan JI Palembang itu sempat mengincar Kafe Bedudel (sebelumnya ditulis Dedudel, Red), Kampung China, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kapolri juga mengungkapkan, kelompok teroris juga terus meningkatkan kemampuan teror mereka. Ilmu perakitan bom turunan dari Dr Azhari yang ditembak mati di Batu, Jawa Timur, pada 9 November 2005, mereka modifikasi dengan mengganti unsur gotri (bola besi) dengan peluru tajam. Gunanya jika bom meledak, efek ledakan dan daya rusaknya akan lebih dahsyat.

Karena itu, Kapolri meminta, semua unsur di Indonesia terlibat dalam upaya menghentikan reproduksi sel teroris yang belum berhenti itu. “Dituntut kerja sama semuanya. Tidak hanya polisi. Polisi itu hanya soal hilirnya saja. Tapi, hulunya, bagaimana kita memberikan pencerahan kepada pelaku. Itu adalah peran tokoh agama dan masyarakat,” beber mantan Kapolda Sumut itu.

Untuk memberi hukuman yang setimpal kepada pelakunya, Kapolri memastikan bahwa Hasan alias Fajar Talsin, 35, satu di antara sepuluh tersangka teroris Palembang yang berstatus warga Singapura, tetap akan diproses sesuai dengan hukum Indonesia. “Juga belum ada permintaan ekstradisi dari Singapura,” sambungnya. Hasan adalah anggota jaringan JI yang namanya juga telah dimasukkan red notice Interpol.

Informasi dari sumber di kepolisian menyebutkan, Husaini, Hasan, dan Kastari masuk ke Indonesia Januari 2002. “Kini kita baru dapat Hasan. Yang dua masih kita cari,” kata sumber itu di Mabes Polri kemarin. Kastari dkk melarikan diri dari Singapura setelah Negeri Singa itu melakukan operasi besar-besaran jaringan JI di awal 2002. Mereka bertiga menyusup masuk naik kapal lewat Pelabuhan Belawan, Medan.

Oleh otoritas Singapura, mereka diburu setelah rencana peledakan Bandara Changi, Singapura, gagal. Selain tiga nama tersebut, saat itu, sebenarnya ada dua orang lain yang menyusup ke Indonesia. Mereka adalah Ishak dan Rosid. “Untuk dua orang itu, kami belum bisa pastikan apakah masih ada di Indonesia. Terakhir mereka ada di Jateng dan Jatim. Yang jelas, Kastari memang kenal baik kondisi Indonesia setelah kini dia kembali ke sini,” tambah sumber yang lain.(jpnn)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org