• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Dunia yang Dikutuk Minyak Mentah
Sabtu, 05 Juli 2008
Tatkala harga minyak mentah di pasaran dunia mencapai 140-an dolar AS perbarel, dan secara perlahan tak mustahil menuju 200 dolar AS sampai  250 dolar AS, saya teringat kepada Fritjof Capra dalam bukunya Turning Point. Direktur Center for Ecoliteracy  di Berkeley, California ini menulis bahwa semua masalah utama zaman ini adalah krisis persepsi. Inilah soal fundamental yang berada di belakang krisis lingkungan, krisis energi, krisis perkotaan dan sebagainya. Capra berkesimpulan demikian, setelah ia juga berdialog dengan aktivis ekonom dunia  terkenal, Hazel Handerson maupun Schumacher.

Kedua tokoh itu, baik Handerson dan Schumacher sama-sama mengecam keterpecahan pemikiran ekonomi yang obsesif dengan pertumbuhan yang membabi buta, dan kegagalan mereka untuk memperhitungkan ketergantungan kepada sumber-sumber alam. Tak ada jalan lain, kecuali melakukan suatu reorientasi besar terhadap sistem perekonomian dan teknologi yang didasarkan kepada penggunaan sumber daya alam yang bisa diperbaharui dan perhatian pada skala manusia.

Tak ayal, keduanya telah berbicara tentang masa depan alternatif yang tidak memisahkan antara ekonomi, teknologi dan politik. Politik di sini, dimaksudkan sebagai kebijakan berbagai negara dalam interplay-nya kehidupan ekonomi. Tak heran jika perekonomian kerap disebut juga sebagai perpolitikan yang menyamar, sebuah paradigma perekonomian postmodernisme. Handerson malah mengatakan bahwa ilmu ekonomi akademik sebagai -semacam kerusakan otak- dan, Wall Street mengejar uang palsu-serta ‘’Washington terlibat dalam perpolitikan sorakan terakhir.’’

Salah kelola, itulah tuduhan Handerson terhadap AS. Tuduhan itu kini terbukti ketika negara adidaya itu terperosok dalam krisis energi dan moneter yang juga mengimbas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbagai kebuntuan dan anomali mencekam AS yang tak lagi bisa ditangani oleh para ekonom yang cerdas sekalipun. Kegagalan AS adalah karena tak mengindahkan persfektif ekologis dan sosial dalam sistem perekonomian  mereka. Padahal bukan hanya barang dan jasa yang menjadi nilai moneter. Ongkos-ongkos sosial, seperti pengangguran, akibat perang, kecelakaan, terorisme  dan lingkungan seperti berkurangnya sumber minyak adalah juga merupakan nilai moneter yang luar biasa.

Perekonomian AS, juga di belahan bumi lain, kerap pula sangat mengagungkan watak-watak kapitalisme yang paling menjijikkan seperti nafsu terhadap pertumbuhan, materi, kompetisi,
kerakusan, kebanggaan, mementingkan diri sendiri, kepicikan dan ketamakan. Tak lagi rahasia jika pertumbuhan ekonomi tak terbatas dan berkelanjutan dianggap sebagai dogma oleh semua ekonom dan politisi, dan inilah satu-satunya jalan untuk memastikan penumpukan pertumbuhan yang diharapkan akan menetes kepada rakyat miskin. Dogma ini pernah dianut oleh Orde Baru dan tampaknya masih lestari hingga sekarang.

UU Energi

Sangat menarik ketika Handerson melukiskan bagaimana teori pertumbuhan dengan efek tetesan ke bawah sama sekali tidak realistik. Angka pertumbuhan yang tinggi ternyata tidak memperbaiki masalah sosial-ekonomi. Di banyak negara malah diiringi dengan berkecambahnya pengangguran dan kemiskinan. Tentu harus diakui bahwa pertumbuhan tetap penting, yang menurut Handerson harus mempertimbangkan keseimbangan dinamik antara pertumbuhan dan kemerosotan. Ia melukiskan bahwa pembusukan daun-daun tahun berselang akan memberi humus baru bagi pertumbuhan di musim semi berikutnya.

Namun apa yang terjadi di AS? Menurut Handerson adalah teknologi macho yang manipulatif dan mengendalikan, dan bukannya bekerja sama. Mendesakkan diri, bukannya integratif. Manajemen yang sentralis dan bukannya aplikasi regional dan lokal bahkan oleh sekelompok individu saja dalam sebuah perusahaan multinasional. Akibatnya, teknologi menjadi sangat anti ekologi, tidak sehat dan tidak manusiawi. Nah, inilah yang harus diganti dengan teknologi ‘’lunak’’ yang dampak lingkungannya kecil karena memakai sumber daya alam yang bisa diperbaharui, dan bahkan bisa didaur ulang berkali-kali.

Agaknya, Handerson hendak berbicara tentang apa yang disebut sebagai produksi tenaga surya dalam berbagai bentuk seperti listrik dengan tenaga angin, biogas, arsitektur solar pasif, kolektor surya, sel photo voltaic sebagai sesuatu yang par exellence. Pendek kata sudah masanya, walau sudah terlambat, adanya peralihan dari abad minyak bumi ke era industri menuju abad surya baru, walau terlambat lebih baik dari pada tidak pernah sama sekali.

Memang ketika basis sumber daya alam mulai dan makin berkurang, maka bahan mentah dan energi harus diambil dari cadangan-cadangan yang semakin berkurang dan semakin sulit dicapai, sehingga semakin banyak modal yang dibutuhkan untuk proses produksinya. Akibat dari kemerosotan sumberdaya alam tersebut sudah sangat logis akan membuat harganya semakin membubung seperti dialami oleh dunia dewasa ini. Dampak lainnya, apa boleh buat, akan menyumbang inflasi pula.

Giliran berikut makin gawat. Perekonomian dunia, barangkali juga Indonesia akan semakin padat modal dan bukannya padat karya. Padahal yang terakhir inilah yang memungkinkan terbukanya lapangan kerja yang dapat mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Jadinya, perekonomian yang padat modal memunculkan problem, selain inflasi juga pengangguran. Inilah yang pernah menimpa AS pada era 1970-an yang dikenal dengan istilah stagflasi, stagnasi dan inflasi.

Dalam situasi macam itu, kerap sekali berbagai negara melakukan intervensi dengan gaya Keynes- tradisional. Sembari melakukan penggembungan juga pengempisan perekonomian yang walaupun hanya menciptakan fluktuasi jangka pendek untuk mengatasi masalah sosial ekonomi. Dalam konteks Indonesia, misalnya, menaikkan harga BBM, tetapi juga memberikan Bantuan Tunai Langsung,  Kredit Usaha Kecil serta berbagai stimulus kepada dunia usaha. Padahal, semua itu sebagai akibat dari ketergantungan berlebihan kepada sumber daya alam, seperti BBM. Apa yang dialami Indonesia adalah rentetan apa yang dialami negara maju seperti AS.

Tak ada jalan lain kecuali harus mengubah sistem dan merestrukturisasi perekonomian dengan melakukan desentralisasi perekonomian dan mengambangkan teknologi-teknologi lunak dan menjalankan perekonomian campuran yang memadukan modal, energi dan material yang hemat dengan perekonomian padat karya. Sayangnya, sudah terlambat dilakukan sehingga berbagai korban telah berjatuhan.

Harapan kita tertuju kepada hak angket DPR yang mudah-mudahan bermuara kepada UU Energi yang tak semata lagi mengultuskan sumber daya alam yang tak bisa digantikan. Jika tidak, alamat anak cucu bangsa ini kelak akan didera oleh kutukan sumber energi alam yang kian langka dan kian mahal.***

Bersihar Lubis: Wartawan tinggal di Depok.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailFresh Lemon Sharp Siap Bersaing

Jumat, 05 September 2008

PEKANBARU (RP) - MASIH ingat kesegaran lemon yang telah diberikan Sharp sejak Hari Ibu tahun 2006 yang lalu hingga kini?

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailKembalikan Fungsi Awal Portal Jembatan Siak

Jumat, 05 September 2008

RUMBAI (RP) - Tumbangnya portal Jembatan Siak di sisi pesisir Rumbai memang sudah diwanti-wanti sejak awal. Apalagi sejak di bagian atas jembatan itu dipasang tempat baliho raksasa, beban...

Simak Juga