| Jangan Jadi Selebriti |
| Sabtu, 05 Juli 2008 | |
|
I definitely would not want my kids to be entertainers. It’s really hard. Its hard enough doing any kind of job and being a teenager.But being a teenager in the spotlight, it just heigthens it. People pick you apart. (Beyonce Knowless, mantan anggota Destiny’s Child)
Setiap hari wajah-wajah baru mirip boneka menyambangi kita lewat berbagai media, utamanya televisi. Kata orang, untuk jadi selebriti top, khususnya dari kelompok artis, resepnya cukup mudah. Pilihannya, harus sangat cantik atau-sebaliknya-harus remuk redam. Orang-orang pemilik tampang ala kadarnya, jelas, lebih baik cari mimpi lain saja. Pantaslah jika orang-orang muda berlomba menjadi aktor dan aktris di layar kaca. Juga wajar jika koran-koran dipenuhi iklan pencari bakat, agensi artis, dan sejenisnya. Dan, masuk akal jika kemudian banyak kalangan berpikiran bahwa menjadi selebriti adalah jalan pintas menuju kemasyhuran dan kekayaan. Sambil memandangi foto anak-anak saya, saya membatin, para bocah itu adalah pihak yang menerima imbas terburuk dari pemujaan kita terhadap selebriti. Keberhasilan instan para selebriti seperti merupakan antitesis terhadap nilai-nilai kerja keras, kedisiplinan, komitmen, dan ajaran-ajaran luhur lainnya yang selama ini coba kita tanamkan ke diri anak-anak kita. Semua ajaran itu runtuh karena, di benak anak, tanpa harus sekolah tinggi-tinggi dan menghayati sikap hidup yang mulia, toh peluang kesuksesan ala selebriti tetap ada di depan mata. Kekhawatiran yang saya pikir sangat beralasan. Karena, sebagai perbandingan, sebuah survei di Amerika Serikat pada tahun 2001 menemukan bahwa tujuh puluh persen anak-anak di negara itu berhasrat menjadi selebriti. Untungnya, responden kanak-kanak itu menambahkan, status selebriti akan mendukung upaya mereka untuk menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih layak huni. Pernyataan susulan itu yang tidak begitu saya yakini akan keluar dari mulut anak-anak di sini, jika survei sejenis diselenggarakan di Indonesia. Begitu hebatnya status sebagai selebriti, mereka tampak laksana sosok sempurna yang sudah mempunyai semuanya. Padahal, selebriti juga manusia. Dan sebagai manusia, pasti ada kekurangannya. Pemerintah, bahkan petinggi Perserikatan Bangsa-bangsa di Indonesia, tampaknya juga terpesona oleh para selebriti itu. Terpesona, ditandai oleh kegemaran menunjuk selebriti sebagai pemeran kunci pada banyak program dan kampanye nasional, walau kita tidak tahu persis kriteria yang digunakan di balik penunjukan itu. Juga entah apa key performance indicator para selebriti itu setelah diangkat menjadi duta. Dugaan kita, keberhasilan sebuah program tidak terpengaruh oleh ada atau tidaknya si selebriti. Bahkan ironis, ketika efektivitas selebriti terhadap sebuah program tetap tak tentu arah, si selebriti justru bisa menjadikan jabatannya itu untuk memperkuat citranya di masyarakat. Jadi, malah menambah portofolio dan -nantinya-gemerincing harta si selebriti. Ambil misal, Marshanda pernah didaulat sebagai Duta Lingkungan. Marcella Zalianty dan Ferry Salim diangkat menjadi Duta Campak. Duta Program Perbaikan Lingkungan adalah Bunga Citra Lestari. Duta Kelestarian Lingkungan Hidup dijabat Valerina Daniel. Menambah deret panjang para selebriti, ada Rianti, si video jockey yang dipercaya sebagai Duta AIDS; juga Titi Kamal selaku Duta Kongres Budaya Dunia. Ada pula Duta Pendidikan Kesetaraan yang diembankan kepada Peggy Melati Sukma. Happy Salma, Duta Baca Nasional. Dewi Sandra, Duta Olahraga. Duta Flu Burung, Farhan. Duta Kanker Servix, Chika Bagaskara (umurnya baru tiga belas tahun!), Duta Wirausaha Mandiri adalah Dian Sastrowardoyo. Angelina Sondakh menjabat Duta Orang Utan. Duta Pertanian, Rano Karno. Yang mutakhir adalah Sandra Dewi. Dia baru saja dilantik menjadi Duta Antinarkoba. Mirip itu, sekaligus menggegerkan jagad per-narkoba-an nasional, tak lain adalah Roy Marten sebagai Duta BNN! Silakan tepuk tangan! Tentu, masih banyak lagi para selebriti yang bisa-bisanya dipercaya sebagai duta. Seakan-akan, di Indonesia tidak ada lagi pelestari lingkungan sungguhan, olahragawan veteran, survivor penyakit kanker betulan, pecinta buku beneran, pejuang kesehatan, dan orang-orang ‘’kampungan’’ lainnya yang terbukti mendarmabaktikan hidup mereka untuk kegiatan yang benar-benar luar biasa, sehingga memang pantas diangkat menjadi duta. Duta sejati, bukan duta ecek-ecek. Jujur saja, saya gemas bercampur kesal melihat itu semua! Nah, untuk menyadarkan kita-apalagi anak-anak kita-bahwa selebriti bukan sosok sempurna, kita perlu buka sejenak hasil survei The New York Daily News beberapa waktu silam. Survei ini menjungkir-balikkan citra selebriti dengan mengajukan kepada para pembaca satu pertanyaan: siapakah selebriti terdungu di Hollywood. Dari semua jawaban yang masuk, terkumpullah daftar 50 dumbest people in Hollywood. Di peringkat pertama adalah aktris Lindsay Lohan, pemain film Freaky Friday. Juga ada penyanyi Jessica Simpson, Britney Spears, dan Michael Jackson. Aktor Mel Gibson, Charlie Sheen, bahkan Alec Baldwin, juga ada di situ. Penobatan 50 orang tertolol di negeri fantasi itu tidak ditentukan berdasarkan skor IQ mereka. Arah dan gaya hidup yang kacau-balau, karir yang merosot, pilihan yang buruk dalam mencari pasangan hidup, hingga kecanduan obat-obatan, adalah kriteria penilaian yang dipakai. Karena tidak terpusat pada kecerdasan intelektual, yang berasosiasi dengan prestasi akademik, unsur-unsur penilaian tadi justru menyajikan gambaran yang lebih jernih dan nyata tentang betapa buruknya totalitas hidup sejumlah nama tenar Hollywood yang notabene adalah para selebriti. Di sini, di Indonesia, kita punya berbagai macam festival yang mengagung-agungkan selebriti. Festival sinetron, festival film, penganugerahan gelar duta ini dan duta ini, adalah beberapa contohnya. Di ajang seperti itu, persaingan antar-selebriti konon berlangsung ketat. Sengaja dicantumkan kata ‘’konon’’, karena belum lama ini kita menyimak warta tentang Deddy Mizwar dan kawan-kawan yang mengembalikan penghargaan yang mereka terima, sebagai ungkapan protes terhadap tampilnya judul dan nama-nama pemeran tertentu selaku penerima penghargaan. Hm, terkuak misteri, jangan-jangan sekarang juga ada politik dagang sapi juga di festival film, sinetron, dan sejenisnya. Terlepas dari itu, pada saat yang sama kita belum pernah mendengar di Indonesia ada survei atau kompetisi seperti yang dilakukan di Hollywood sana. Padahal, karena setiap hari kita sibuk berkasak-kusuk tentang serba-serbi skandal nan heboh para selebriti, maka bisa diduga persaingan antar-selebriti untuk menempati posisi puncak sebagai the dumbest people in Indonesia pasti lebih hebat lagi. Siapa yang mau menyusun daftar nominasinya? And the winner is...Allahu a’lam.*** Reza Indragiri Amriel : Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara - Jakarta |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






